Panitia Hari Ulos Akan Mengarak 1000 Meter Ulos Selama Tiga Hari 15-18 Oktober Kelilingi Kawasan Danau Toba

BERSPONSOR

NINNA.ID– Panitia Hari Ulos Nasional akan mengarak 1000meter ulos selama tiga hari kelilingi Kawasan Danau Toba. Acara ini akan dimulai Minggu 15 Oktober.

Dimulai dari Jembatan Tano Ponggol, Kecamatan Pangururan, Samosir menyusuri Tele lalu ke Dolok Sanggul Kabupaten Humbang Hasundutan lalu ke Siborong-borong Kabupaten Tapanuli Utara.

Pada Senin 16 Oktober, Panitia Hari Ulos Nasional akan melanjutkan perjalanan menuju Balige, Laguboti, Porsea Kabupaten Toba.

Lalu pada puncak acara yakni Hari Ulos Nasional 17 Oktober 2023 menuju Open Stage.

BERSPONSOR

Keesokan harinya pada 18 Oktober 2023 menuju Siantar lalu ke Merek Kabupaten Karo lalu ke Sidikalang Dairi hingga PakPak Bharat lalu kembali ke Tano Ponggol Lumban Butar II, Siogung-ogung, Posko Yayasan Pusuk Buhit.

Tema Hari Ulos tahun ini “ Ulos For Indonesia”. Sub Tema “Ulos Menyatukan Kita”. Ada Ketua Panitia di tiap kabupaten Kawasan Danau Toba. Perwakilan Uspida Tapanuli Utara, Perwakilan Uspida Humbang Hasundutan, Perwakilan Uspida Toba , Perwakilan Uspida Samosir, Perwakilan Uspida Simalungun, Perwakilan Uspida Dairi, Perwakilan Uspida Karo dan Perwakilan Uspida Pakpak Bharat.

Parade mengarak Ulos 1000 meter mengelilingi delapan kabupaten Kawasan Danau Toba ini salah satunya digerakkan oleh Yayasan Pusuk Buhit.

Diketuai oleh Efendy Naibaho. Didukung oleh sejumlah pihak baik dari lintas masyarakat maupun pemerintahan.

Muri Huber
Muri Huber, Panitia Hari Ulos Nasional 2023, audiensi ke Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi dan seluruh Polres 8 Kabupaten Kawasan Super Prioritas Danau Toba (foto: istimewa)

Mewujudkan Hari Ulos Sedunia
Tujuh warisan budaya tak benda telah memperoleh sertifikasi nasional pada 17 Oktober 2014.

Salah satu warisan budaya tak benda tersebut adalah Ulos Batak Toba.

Untuk tetap melestarikan ulos, Yayasan Pusuk Buhit ikut serta mengambil peran dalam rangka melaksanakan “Perayaan Hari Ulos Nasional” yang akan dilaksanakan setiap tanggal 17 Oktober, sesuai dengan tanggal sertifikasi yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah.

Ulos merupakan mahakarya Indonesia yang berasal dari salah satu peradaban tertua di Asia. Bahkan, diketahui ulos telah ada jauh sebelum bangsa Eropa mengenal tekstil.

- Advertisement -
TERKAIT  Deretan Drakor Terbaik selama tahun 2023, Yuk Simak Sinopsis nya

Ulos merupakan simbol ikatan kasih sayang yang diharapkan bisa seperti rotan atau yang disebut hotang oleh dalam bahasa Batak.

Dalam perkembangannya ulos tidak hanya digunakan oleh suku Batak, akan tetapi juga digunakan oleh banyak suku di Indonesia dan Dunia.

“Ulos sudah mengindonesia dan mendunia. Mengingat, memperhatikan dan melihat kenyataan dan fakta ulos tersebut, maka sudah saatnya ditetapkan Hari Ulos Nasional pada tanggal 17 Oktober,” jelas Efendy Naibaho, Ketua Yayasan Pusuk Buhit yang juga merupakan pengagas Hari Ulos Nasional 2023 menjadi Hari Ulos Sedunia.

Tentang Ulos
Jika dicermati dari pengertian bahasa, Ulos merupakan selimut yang berguna untuk melindungi atau menghangatkan tubuh dari cuaca dingin.

Kepercayaan budaya di Suku Batak bahwa matahari, api dan ulos merupakan sumber yang memberikan kehangatan kepada manusia.

Dari ketiga unsur tersebut Ulos menjadi sumber kehangatan yang paling akrab dan nyaman dalam keseharian manusia.

Seiring berjalannya waktu dan perkembangan budaya yang menghasilkan perkembangan pemikiran dan budaya pekerti, ulos mengalami peningkatan peranan dan makna ulos bukan saja untuk menghangatkan tubuh. Akan tetapi, juga menghangatkan jiwa, kasih sayang, dan kedudukan atau status sosial.

Jika kita menyusuri sejarah, filosofi Ulos secara kedudukan peran di adat bagi Suku Batak mempunyai fungsi berbeda-beda.

Artinya, setiap satu motif atau jenis Ulos mempunyai fungsi atau makna disesuaikan dengan ketentuan adat.

Dalam hal ini pemberi dan penerima Ulos harus memahami fungsi dan makna Ulos berdasarkan kedudukan status sosial di Suku Batak.

Ulos mengandung makna tersendiri bagi Suku Batak karena adanya rangkaian sejarah terciptanya budaya leluhur.

Penulis: Damayanti Sinaga
Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU