Pagar Ni Huta (2)

BERSPONSOR

NINNA.ID – Nah, lanjutan dari tulisan kami berikut ini akan menguraikan sedikit tentang mahluk gaib yang kemudian dijadikan “pagar” (penjaga). Pada tulisan kami sebelumnya sudahdisinggung sedikit, itulah yang disebut Sibiangsa.

Menurut kisah para sesepuh terdahulu, Sibiangsa ini adalah manusia yang digongseng (sangrai) hidup-hidup (ditumpa).  Biasanya dilakukan oleh para penguasa semisal yang kastanya dari keturunan Raja, dan manusia yang menjadi tumbal untuk ditumpa itu biasanya dari kalangan miskin atau dari kasta hatoban.

Namun ada beberapa hal yang unik yang ditemukan dari kisah ini. Dikisahkan, sebelum manusia yang menjadi tumbal tadi digongseng, ada beberapa permintaan si korban yang harus dituruti sesuai dengan aturannya yaitu berupa makanan.

Dipanggillah Datu untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan pembuatan pagar ini. Biasanya makanan yang disajikan oleh sang datu adalah ayam jantan yang kekar dan memiliki mahkota (barimbing) 7 ranting yang kemudian akan dimasak dan dipanggang dengan bumbu dan rempah harus pedas.

BERSPONSOR

Konon dikisahkan, manusia yang akan dijadikan tumpa-an adalah anak kecil hingga ibu beranak. Korban ini akan dimasak hidup-hidup di dalam sebuah kuali yang sangat besar untuk mengambil minyaknya.

Minyaknya ini akan dimasukkan ke dalam guri guri (guci keci), begitu juga dengan sisa daging si korban. Abunya juga akan dimasukkan ke guri-guri.

Nah, menurut turi-turian (cerita turun termurun), minyak hasil gongsengan manusia inilah yang disebut pagar pandiam, pagar pandomak dan pagar pangaramoti.

Adapun guna pagar ini adalah, ketika ada misalnya, permusuhan dan pertikaian antar kampung, cukup hanya meneteskan minyak ini di antara kampung tadi yang kemudian akan menyebabkan sebuah lembah pemisah di antara kampung itu yang dikenal dengan sitorban dolok.

BERSPONSOR
TERKAIT  Marlompan

Semisal lagi, jika ada pencuri yang berkeliaran di suatu kampung, maka cukup hanya mengambil segumpal tanah bekas kakinya lalu dimasukkan ke ke dalam guri-guri tempat penyimpanan minyak tadi, maka si pencuri itu pun akan kesakitan di bagian kakinya hingga lama-lama akan putus yang kemudian dikenal dengan ajiturtur.

Sedangkan abu hasil penggorengan manusia tumpa-an tadi yang dimasukkan ke guri-guri, itulah yang disebut pagar Pangulu balang yang tugasnya memang menjaga sebuah kampung di mana dia diletakkan. Sehingga pada zaman dulu, orang tidak sembarangan masuk ke sebuah kampung lainnya.

Menurut kisahnya, pagar pandiam atau pagar pangaramoti sejalan dengan Pangulu Balang. Hal itu terbukti ketika para mahluk gaib ini diberi makan atau sesajen harus semua kebagian. Artinya kalau ingin memberi pagar pandiam dan pangaramoti makan, maka pagar pengulu balang juga haru dipele atau diberi makan. Jika tidak, pangulu balang akan marah yang mengakibatkan terjadi malapetaka besar di kampung itu.

Tata Cara memberi makan pun harus ada waktunya sesuai dengan penanggalan yang dipercayai suku Batak yaitu bulan Samisara. Dan pada saat memberi makanan tidak boleh ada manusia yang ada di acara itu terkena bayangan. Jika hal itu terjadi, menurut kisah para tetua, pupuslah sudah harapan yang kena bayangan tersebut di mana dia akan terkena musibah yang sangat misterius.

- Advertisement -

Demikian juga misalnya ketika ada seorang Ibu yang masih dalam keadaan masa subur tidak boleh dekat ke sana pada saat ritual memberi sajen tadi. Apabilah melintas dekat Sibiangsa tersebut, jangan diharapkan akan dapat berketurunan. Dia akan manjadi Sining (mandul).

 

Penulis    : Aliman Tua Limbong
Editor       : Mahadi Sitanggang

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU