spot_img

Orang Muda Batak Semakin Lupa Sejarah

HUMBAHAS – Di Sabtu petang 11 September 2021, saya pergi ke arah Lintong Ni Huta di Humbang Hasundutan. Tujuan saya ke sana karena konon ada patung mejan. Saya begitu penasaran. Sebab, sependek pengetahuan saya, mejan lebih dekat pada budaya Pakpak. Lalu, mengapa mejan (katakanlah seperti) ada di Humbahas?

Arti Humbahas di sini semakin menarik karena berada lebih dekat ke arah Tapanuli Utara dan Toba. Jika perbatasan dengan Pakpak, seperti di Pakkat atau Parlilitan, tentu masih bisa diterima dengan mudah. Sebab, perbedaan kabupaten tak selalu berarti sama dengan perbedaan kultur, terutama di daerah perbatasan.

Kini, saya sudah sampai di Desa Silaban. Di desa ini, rata-rata bermarga Silaban. Orang-orang di sini cukup ramah. Pertanyaan kita selalu dijawab dengan tulus meski banyak yang tidak tahu. Saya kebetulan punya foto lawas kiriman seorang arkeolog dari Balai Arkeologi Sumatera Utara. Sekitar 20 tahun lalu, mereka katanya ada pendataan peninggalan purbakala. Dan, katanya ada mejan (patung mistis dari Pakpak)

Foto itulah yang saya tunjukkan ke orang yang saya jumpai. Anda tahu? Rata-rata mereka tak tahu. “Tidak ada di sini itu Ito,” kata seorang ibu kepada saya. Saya mulai ragu. Tetapi, tak mungkin ada yang salah dengan pendataan Balai Arkeologi. Karena itu, saya tetap bertanya-tanya. Kali ini, saya bertanya menggunakan narasi sekaligus foto. Dan, setelah itu, barulah mereka tahu.

patung mejan
Patung mirip mejan terlihat sangat kuno.(Foto:ist)

“Oh, kuburan itu?” kata seorang ibu-ibu. Saya terheran-heran. Mengapa jadi kuburan? “Ini kuburan milik marga Silaban di Pearaso, Ito. Betul-betul, ini milik marga Silaban Oppu Toga Na Torop,” katanya meyakinkan. Kulihat, wajahnya sudah penuh dengan keyakinan. “Udah beda gambar ini sama yang sekarang,” katanya sambil mengarahkan saya ke kampung itu.

Dan, ternyata benar, patung seperti mejan itu ada di Pearaso, Dolok Margu, Silaban. Patung itu tepat berada di mulut kampung. Tetapi, sudah ada perombakan tempat. Ia sudah ditinggikan. Sudah pula dicat berwarna-warni. Sekilas, patung seperti mejan itu sudah seperti patung semen biasa yang tak bersejarah. Ia sudah modern.

Replika mejan
Patung yang menyerupai patung mejan dengan sentuhan modern.(Foto:riduan)

Diam-diam, dalam hati aku bertanya, apakah kita harus mengecat peninggalan purbakala untuk terlihat modern? Entahlah. Yang pasti, bicara soal rasa, saya merasa jauh lebih berjiwa jika patung purbakala itu dibuat orisinal. Tetapi, ya, itu soal rasa. Setiap orang punya perasaan masing-masing. Sekarang, mari kita bicara soal patung seperti mejan itu.

“Dulu, sudah dua kali itu hilang. Dapatnya terakhir dari Belawan. Tetapi, kepalanya sudah tak nampak lagi. Jadi, kepala itu sudah semen,” kata Oppung Jesika kepada saya. Saya tak bertanya mengapa sampai hilang. Sebab, saya tahu, benda purbakala sangat berharga. Seharusnya, masyarakat harus menjaganya dengan baik untuk tidak dicuri orang tak bertanggung jawab.

“Sebenarnya, tiga patung lagi, anak dari Oppu Toga Na Torop Silaban sudah hilang,” lanjut Oppu Jesika Silaban. Kakek tua ini mengaku Silaban generasi yang ke-16. Patung Oppu Toga Na Torop yang mirip seperti mejan ini katanya dibuat oleh Silaban generasi ke-7. Artinya, patung seperti mejan itu sudah ada pada 9 generasi yang lalu.

TERKAIT  Berebut Nama Sisingamangaraja, Milik Siapa?

Saya tak berani mengatakan patung itu sebagai mejan, atau bahkan sebagai sanggapati. Sebab, menurut Oppu Jesica, patung itu hanya makam. “Itu bukan penjaga kampung, itu makam,” tegasnya. Saya betul-betul terkesima. Betapa megahnya makam seorang Oppu Toga Na Torop. Tak banyak makam seperti ini. Namun, saya harus jujur, meski bagi dia itu hanya makam, bagi saya itu lebih dari sekadar makam.

Berjalanlah ke banyak daerah. Kamu tak akan, atau katakanlah akan kesusahan, untuk menemukan patung seperti mejan sebagai sebatas makam. Karena itu, apa yang saya lihat saat ini, tepat di bawah pohon beringin rindang, adalah sesuatu yang istimewa. Ia sudah pernah hilang adalah bukti dari keistimewaan itu. Tugas kita adalah menjaganya agar tak hilang lagi.

Tetapi, perlu dipertegas, arti hilang di sini tak sebatas dicuri. Arti hilang yang lebih maksimal adalah ketika ia dilupakan, ketika ia disamakan sebatas batu biasa. Padahal, ia sudah saksikan banyak sejarah. Bahkan, ia adalah sejarah itu sendiri. Sejarah harus diberitahukan. Sebagai kenangan atau sebatas pelipur lara. Tak perlu disembunyikan.

Sempat kurasakan, Oppu Jesica agak enggan bercerita. Ia tak mau membeberkan apa makna dari patung itu. Tetapi, lama-kelamaan, ia mulai nyaman untuk bercerita. “Dulu, oppung kami itu naik kuda untuk mangula sihataon,” katanya. Angin mendesir pelan. Suara raungan mobil terdengar sayup-sayup. Kami berada sekitar 50 meter dari jalan raya.

Oppu Toga Na Torop katanya berpindah-pindah. Semula dari Sihullang. Lalu ke Sihuting-huting, Pakkat Dolok. Terakhir di Silaban. “Oppung kami ini diusir oleh mertuanya marga Purba dari Doloksanggul,” kenang Oppu Jesica. Lama kami bercerita. Dan, saya makin aktif bertanya. Ketika disampaikan patung seperti mejan ini istimewa, ia lantas berkata bahwa di Lintong pun ada patung serupa.

Baiklah, kisah di Lintong nanti akan saya beritahukan. Tafsir mungkin akan makin asyik. Yang pasti, satu hal yang saya tangkap dari perjalanan ini, termasuk ketika bertanya pada siswa saya yang kebetulan tinggal di sekitar Silaban namun tak tahu, adalah bahwa generasi muda semakin melupakan sejarah. Kita semakin berlari meninggalkan masa lalu untuk menatap masa depan seakan terus berlari adalah kebebasan.

Hari agak redup. Matahari sudah di balik awan. Gerimis satu-satu. Aku pulang. Dalam hati aku termenung: mengapa kita melupakan akar semata untuk menikmati bunga atau buah? Hari makin redup. Tiba di rumah, kulihat anak-anak sanggar kami masih menari dengan serius. Liukan tortornya aku tahu. Tetapi, apakah memang ini dasarnya? Mari kita gali akarnya untuk mengajari siswa-siswa ini, kataku pada sang istri, sebagai guru tari.

 

Penulis   : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU