Orang Batak Suka Menerima Tamu, Tidak Terlalu Perhitungan

BERSPONSOR

NINNA.ID-Kita ingin mengembalikan sikap orang Batak yang suka menerima tamu. Dulu, pulang kampung kita hanya perlu modal ongkos atau bensin ke kampung dan disambut dengan ramah oleh orang-orang di kampung, ujar Dirut Badan Otorita Danau Toba (BPODT), Jimmy Panjaitan di sela-sela pembentukan Forum Jurnalis Pariwisata Danau Toba, Rabu 18 Oktober 2023.

Pernyataan ini diutarakan Jimmy menandaskan pentingnya mengembalikan semangat orang Batak untuk menerima tamu.

Sebab, salah satu persoalan utama terkait Pariwisata Danau Toba adalah payahnya pelayanan masyarakat di Kawasan Danau Toba.

“Dari sekian banyak persoalan, service of excellence atau pelayanan prima menjadi persoalan utama Pariwisata Danau Toba,” jelas Jimmy.

BERSPONSOR
Orang Batak Senang Menerima Tamue
Anak-Anak di SD di Sigapiton, Kabupaten Toba, menyambut dan menghibur para tamu dari Negara Eropa (foto: Damayanti)

Mengembalikan Semangat

Ia melihat saat ini kebanyakan orang Batak kehilangan jati diri sebagai orang yang suka menerima tamu. Sebab, sekitar 20-30 tahun silam orang Batak dikenal memiliki kepribadian hangat, ramah dan bersahabat.

Konon lagu “Anak Medan” menggambarkan sikap orang Batak rela berkorban, setia kawan dan tidak terlalu perhitungan.

Bahkan sepenggal liriknya yang berkata “Sonang manang susah happy do di au” menggambarkan sikap orang Batak yang selalu ceria, semangat dan tahan banting menghadapi kesulitan hidup.

BERSPONSOR

Orang Batak zaman dulu sudah sangat biasa menerima orang asing ke Tanah Batak.

Orang Batak juga selalu peduli jika ada orang baru masuk ke kampung mereka.

Para Raja Batak dulu sering mengajak orang-orang untuk tinggal di kampung mereka.

Orang Batak juga bukan orang pelit yang tidak mau berbagi dengan sesamanya.

- Advertisement -

Kembali lagi ke lagu “Anak Medan”, orang Batak bahkan katanya rela mati demi kawan. Benar atau tidak, itulah pesan yang disampaikan dalam lagu itu.

Tapi semangat rela berkorban dan senang berbagi memang masih menjadi ciri atau sifat dominan orang Batak. Apa buktinya?

Rumah Batak atau Rumah Adat Batak biasanya senantiasa terbuka sekalipun penghuninya mungkin tidak di rumah.

Tidak seperti di kota-kota besar yang pagar rumahnya berlapis-lapis. Biasanya, tidak ada pagar Rumah Batak yang membatasi orang untuk mendekat ke rumah. Itu juga bukti bahwa orang Batak tidak tertutup untuk orang lain.

TERKAIT  Indonesia Kembali Berpartisipasi pada OTM Mumbai

Jika di kota besar kita segan untuk meminjam atau meminta gula sekiranya kita kehabisan gula.

Namun, di Tanah Batak, bukan hal yang aneh jika seseorang berbagi apa yang mereka punya di dapur dengan tetangga.

Turis Membludak
Tahun 1990-1995 menurut Adam Damrin Nainggolan, anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia, jumlah orang asing yang masuk ke Tanah Batak sangat membludak.

Anak-anak kecil pada zaman itu bisa berbahasa Inggris sekalipun tidak pandai menuliskannya. Itu karena mereka terbiasa mendengar dan berinteraksi dengan orang asing.

Seiring waktu berlalu, sifat-sifat bagus yang terkikis turut mengurangi angka wisatawan asing yang masuk ke Danau Toba.

Pelayanan Prima

Makanya BPODT sangat berharap masyarakat yang berada di garda terdepan mengurusi tamu-tamu yang masuk ke Danau Toba dapat memperlakukan tamu dengan baik serta memberikan pelayanan prima.

Service excellence (pelayanan prima) itu yang akan kami dorong di tahun 2024. Bagaimana front liner, ujung tombak kita misalnya UMKM, menyewakan kapal memberikan pelayanan prima. Kami sendiri di sini sudah memulai pelatihan tersebut. Sebab, kami juga memiliki destinasi wisata di sini. Jadi kami sudah mulai pelatihan di lingkungan kami terlebih dahulu. Kedepannya hal ini akan kami terapkan meluas di Kawasan Danau Toba,” jelas Jimmy.

Sejumlah pemerhati Pariwisata di Kawasan Danau Toba menyoroti beberapa hal yang perlu ditingkatkan dalam pelayanan antara lain kebersihan, keramahan serta kejujuran.

Be part of community
foto: Damayanti

Para pemerhati sering membandingkan Danau Toba dengan Bali yang lebih populer.

Sumber daya manusia di Tanah Batak menurut mereka perlu mengerahkan semangat melayani. Di antaranya perlu semakin ramah, murah senyum, serta menjalankan profesi mereka dengan professional.

Penulis   : Damayanti Sinaga
Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU