spot_img

RUHUT

Ongkalon Holi, Menggali Kubur Memindahkan Tulang Belulang (II)

NINNA.ID – Sehari sebelum puncak acara pesta Ongkalon Holi,  sudah dilakukan pengumpulan hula hula untuk memberi Ulos Panompi berdasarkan tohonan masing masing. Lalu Hasuhuton memberikan adatnya, berupa beras di dalan pinggan serta uang di atas daun sirih sebagai adat kepada hula hula Panompi.

Pada daerah tertentu, pada saat Sulang Bao semua hula hula harus membawa nasi  dan ikan mas berdasarkan tohonannya. Lantas hasuhuton menyajikan Tudu tudu (banggangan) ke hadapan hula hula yang tertinggi pada acara Ongkalon Holi tersebut.

Pada sore hari acara makan bersama dilakukan dengan istilah Galang Paniaran, sekaligus menikmati ikan mas yang dibawa hula hulanya. Sekitar pukul 19.00 WIB, acara gondang dimulai dengan menghadirkan pengurus gereja dari sekte yang telah disepakati bersama.

Kemudian acara diserahkan ke Parsinabul (protokol). Parsinabul minta petunjuk kepada Pande Pargonsi. Pargonsi menyarankan agar disediakan Santi (syarat untuk menyapaikan penghormatan kepada Yang Maha Kuasa).

Pargonsi menanyakan tujuan beras Santi diberikan kepada Pande Pargonsi. Protokol lalu memberitahu akan menaikkan tulang belulang nenek mereka ke kuburan semen yang telah dibangun jauh hari sebelumnya.

Pargonsi segera menyapaikannya kepada Mulajadi Nabolom yang dipercaya sebagai Tuhan oleh masyarakat adat Batak, agar acara berjakan hikmat dan lancar. Diminta pula agar Mulajadi Nabolon memberikan berkat kepada keturunan yang tulang belulannya diongkal (digali).

Acara Gondang Panjujuron dimulai, sementara masing masing hasuhuton menyampaikan doa  masing masing. Setelah usai acara Panortoron, setiap Partali tali menyampaikan hasrat dan harapan, dilanjutkan ke Boru Hasuhuton, hingga namarhaha maranggi dan hula hula. Namun sifatnya hanya acara manortor dan menyampaikan kata kata yang sifatnya memberi dukungan kepada pemilik hajatan.

TERKAIT  Bulu Parhalaan, Ilmu Perbintangan Masyarakat Batak

Esok harinya dilanjutkan menancapkan Tiang Borotan (tambatan kerbau) yang dilakukan petugas yang membidangi keahlian tentang ritual Mangalahat Horbo. Untuk bahan-bahan borotan tersebut diambil dari hutan, seperti tiangnya harus kayu Sarimar Naek, mare marenya hampawa, pollang, daun kayu Sampinur, sanggar serta lalang didandan untuk  menutupi pangkal mare mare tersebut, kemudian dibalut dengan ijuk sebagai pengikat tulpang , ditancapkan pada tiang borotan.

Selanjutnya, acara mencuil kerbau yang sudah dicari jauh hari sebelumnya. Kerbau harus pilihan dan punya pusaran yang mantap. Kerbau ditarik petugas yang sudah ditetapkan yang dibawakan Boru Sihabolonan. Kerbau harus ditarik untuk nengelilingi borotan sebanyak dengan bilangan ganjil, yakni 3,5,7. Setelah dikelilingkan, kerbau ditambatkan ke borotan.

Bagi yang mengetahui ittean, akan nemperhatikan kaki kerbau ketika sudah sampai di borotan. Jika kaki kanan di depan, Hasuhuton-lah yang mendapat rezeki. Jika jaki kiri di depan berbahagialah Pamoruon hasuhuton.

Dilanjutkan munjung jung Saring saring (tulang belulang yang sudah digali) di dalam peti kecil oleh Boru Partohon, lalu  mangaliat bersama dilaksanakan di sambut marga boru, manortor bersama sambil mundur.

Lalu beberapa hasuhuton meminta gondang untuk menyampaikan perjalanan rencana hingga penyelenggaraan. Ucapan syukur pun dikumandangkan di depan khalayak ramai. Dilanjutkan tortor namarhaha marangi hingga Hula hula dari atas, seperti: Bona Ni Ari, Parbonaan, Bona Tulang, Tulang dan Pangolian dan Hula hula Partali tali.

 

Penulis     : Aliman Tua Limbong
Editor        : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU