spot_img

LEGENDA PARA DEWA BATAK TOBA (3)

Batara Guru Menjodohkan Si Boru Deak Parujar

NINNA.ID – Begitulah. segala sesuatu selalu berubah. Hari berganti hari, siang berganti malam dan bulan berganti bulan. Semua penghuni alam kayangan masing-masing memiliki kesibukan juga, termasuk mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari.

Cara mereka mencari nafkah bukanlah seperti cara manusia yang bekerja keras dan berlelah-lelah di bawah matahari, tapi dengan cara dan kebiasaan di alam kayangan. Di sana tidak terlalu sulit mencari nafkah. Hampir semua dapat menikmati kehidupan dengan senang hati dan dengan riang gembira. Dan tidak ketinggalan Si Boru Deak Parujar, juga selalu riang sambil menggeluti hobby dan pekerjaannya menenun ulos.

Dia sangat pintar dan mahir membuat ragi dan motif ulos. Memang untuk membuat sehelai ulos yang baik dan bermutu memerlukan waktu yang lama. Demikianlah Si Boru Deak Parujar akhirnya berhasil, dapat menyelesaikan sehelai ulos yang indah dan bermutu, lalu ulos tersebut dilipat dan disimpannya baik-baik di suatu tempat.

Matahari telah lelap di peraduan di ufuk Barat, gelap di malam hari mendatangkan keheningan. Para penghuni alam kayangan sudah waktunya beristirahat dengan damai. Namun, Si Boru Deak Parujar belum juga bisa tidur.

Sayup-Sayup dia mendengar alunan suara di kesunyian malam itu. Alunan suara itu sepertinya keluar dari semacam alat musik tiup. Ya, seperti seruling yang besar mirip sordam yang biasa dimainkan oleh seorang pemuda di malam hari.

Di malam yang sunyi itu, alunan suara dari alat musik itu seperti sebuah senandung. Si peniup seruling, atau lebih tepatnya si peniup sordam sungguh-sungguh meniup sordamnya dengan penuh perasaan. Senandung itu seperti mengungkapkan rasa rindu, rasa sedih dan kepiluan hati. Si peniup ingin mengungkapkan isi hati dan kata cinta, tapi terhalang karena sesuatu hal.

Si Boru Deak Parujar menundukkan kepala dan termenung. Tidak terasa air matanya menetes karena terbawa perasaan mendengar senandung itu.

Dia ingin tahu siapa si peniup sordam itu. seperti apakah wajahnya? Ada rasa penasaran dalam hati Si Boru Deak Parujar.

TERKAIT  Gondang Sungsang Tortor Menolak Nasib

Si peniup sordam adalah Siraja Odapodap, tapi Si Boru Deak Parujar tidak tahu yang mana orangnya. Sampai lewat tengah malam, akhirnya Si Boru Deak Parujar tertidur di ranjangnya.

Di suatu sore yang cerah di rumah mereka, Batara Guru berbincang-bincang dengan istrinya Si Boru Parmeme. Batara Guru berniat menjodohkan Si Boru Deak Parujar.

“Bu, putri kita Si Boru Deak Parujar-kan sudah cukup dewasa. Saya sangat mendambakan agar kita punya cucu. Kita jodohkanlah anak kita Si Boru Deak Parujar dengan Siraja Odapodap anaknya Mangala Bulan,” ujar Batara Guru kepada istrinya Si Boru Parmeme.

“Bapak ini bagaimana sih, masa kita yang menawarkan anak perempuan kita kepada anak orang. Malu lah kita,” ujar Si Boru Parmeme.

Mendengar itu, Batara Guru tersadar. Betapa malunya dia sebagai seorang yang disegani di alam kayangan menawarkan putrinya ke Siraja Odapodap, walau dia sangat ingin pria itu menjadi hela (menantu). Istrinya meminta agar Batara Guru bersabar tentang niatnya itu.

Begitulah, rencana perjodohan itu belum sempat disampaikan kepada Si Boru Deak Parujar, Batara Guru kembali pada kebiasaan dan tanggungjawabnya, yaitu memberikan bimbingan, nasehat dan menegakkan aturan hukum kepada rakyatnya. Batara Guru memang sudah mendapat mandat kuasa dari Mulajadi Nabolon, yakni kuasa menetapkan hukum, memberi berkat serta menentukan takdir dan nasib.

Penulis : Roy M Siboro (warga Bekasi)
Editor    : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU