spot_img

Nahadiaranna

NINNA.ID – Pada hakikatnya setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini memiliki nasib yang berbeda-beda. Nah, kali ini kita akan melihat hal tersebut dari perspektik budaya suku Batak Toba.

Misalnya, ada yang bernasib ketika kahir ke dunia ini langsung meninggal, ada yang sudah beranjak remaja lalu meninggal, dan ada pula sudah rencana mau menikah kemudian meninggal dunia. Kesemuanya itu sudah menjadi suratan dari Yang Maha Pencipta. Dan tak satupun kita manusia yang hidup di dunia ini yang mengetahui kematiannya, kapan dan di mana.

Pada umumnya ketika seseorang menceritakan hal terkait kematian ini, pasti hati yang mendengar ada rasa takut dan sangat menyeramkan. Karena memang sesorang yang akan mati itu akan pergi selamanya dan tidak akan kembali lagi, segala aktifitas dengan sendirinya berhenti.

Bagi suku Batak Toba, jika seseorang yang meninggal dunia namun belum kawin dinamakan dengan istilah Nahadiaranna. Walapun Dia sudah berumur, katakanlah di sekitaran umur 30-an atau seringkali disebut panglatu, tetap saja masih disebut nahadiaranna.

Dalam masa hidupnya dulu, jika adapun pertemuan dalam keluarga, dia belum berhak mengeluarkan pendapat. Makanya ada istilah dalam Bahasa Batak yang mengatakan, “Patni manuk dope jambar ni i”.

TERKAIT  Pertunjukkan Patung Kayu Menari Sigalegale

Namun beda hal misalnya jika dalam acara ritual Batak Toba, biasanya akan selalu mendahulukan sesajen kepada nahadiaranna ini, agar acara tersebut tidak terganggu. Biasanya sesajen yang dipersembahkan adalah kaki dari kurban yang dijadikan persembahan dalam acara tersebut.

Kita juga mengenal beberapa julukan atau panggilan yang disematkan untuk orang yang meninggal, yang berlaku dalam adat budaya Batak. Di antaranya: Jika seseorang yang meninggal tadi adalah seorang pemuda yang belum kawin atau nahadiaranna, maka panggilan untuk kondisinya itu adalah mate. Kemudian ketika sudah berumah tangga lalu meninggal sebutannya adalah marujungngolu. Jika sudah punya cucu dan cicit disebut mangguling ari, dan jika sudah tua marnini marnono disebut matua dolok.

Selanjutnya, jikapun suatu saat nanti dilakukan adat budaya mangongkal holi atau memasukkan tulang belulang ke tempat peristirahatan yang terbuat dari semen, nahadiaranna boleh dimasukkan ke sana, namun istilahnya disebut Hapithapit.

 

Penulis    : Aliman Tua Limbong
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU