Museum Hutabolon Simanindo Gudang Sejarah Batak yang Wajib Kamu Kunjungi

BERSPONSOR

NINNA.ID-Apakah Sobat Ninna ingin menggali lebih banyak soal cerita tentang Sejarah Batak? Gudang Sejarah Batak salah satunya ada di Museum Hutabolon Simanindo, Samosir. Museum ini punya banyak benda peninggalan Sejarah Batak.

Di sana masih terdapat benda-benda yang dulu biasa dipakai orang Batak untuk kehidupan sehari-hari.

Sejumlah benda tersebut di antaranya tikar pandan, gajut, tandok, gampil-gampil, sarune, hasam dan benda kuno lainnya.

Alat Musik Tradisional
Koleksi Alat Musik Tradisional di Museum Hutabolon Simanindo (foto: Damayanti Sinaga)

Benda-benda tersebut sudah sangat jarang digunakan oleh orang Batak masa kini.

BERSPONSOR

Salah satunya tikar pandan. Hanya sejumlah orang Batak yang masih menggunakan tikar pandan.

Benda di Museum Hutabolon
Sejumlah benda di Museum Hutabolon Simanindo di antaranya tikar pandan, gajut, tandok, gampil-gampil, sarune, hasam dan benda kuno lainnya. (foto: Damayanti Sinaga)

Pengrajin tikar ini sangat susah dijumpai saat ini. Kalaupun ada, harga tikar pandan ini pun mahal dibandingkan tikar yang dihasilkan oleh pabrik.

Selain tikar pandan, ada tongkat yang tidak asing kita jumpai di Tanah Batak.

Tongkat Tunggal Panaluan ini adalah tongkat sakti si Raja Batak yang diukir dari kejadian yang sebenarnya, yang merupakan kesatuan kesaktian Banua Ginjang (dunia atau kekuasaan di atas), Banua Tongah (bumi tempat tinggal manusia) dan Banua Toru (di bawah tanah).

Dipegang oleh Ketua Adat dan dipergunakan pada saat adanya acara besar, seperti mambukka Huta, Acara Horja Bius dan lainnya.

Bagi kamu yang senang belajar tentang sejarah, budaya dan kehidupan orang lain khususnya tentang Suku Batak Toba, museum ini tepat untuk bercerita banyak ke kamu tentang kehidupan suku Batak.

Rumah Batak di Hutabolon Simanindo
Rumah Batak di Hutabolon Simanindo (foto: Damayanti Sinaga)

Sisa Penjajahan

Dulu pada masa penjajahan orang Eropa terkhusus Belanda, masuk ke Tanah Batak, termasuk ke Samosir. Itu alasannya terdapat uang logam Benggol di museum ini.

- Advertisement -

Dikutip dari situs Bank Indonesia, selain berfungsi sebagai alat bayar, koin Benggol yanag diperkenalkan Hindia Belanda juga dijadikan sebagai kerokan.

Uang Benggol
Uang Benggol merupakan uang yang pertama kali diperkenalkan Belanda ke Tanah Batak (foto: Damayanti Sinaga)

Kerokan merupakan cara tradisional mengobati masuk angin di kalangan masyarakat jawa. Koin Benggol, khususnya pecahan 2 ½ cent Nederlandsch-Indie, dipakai untuk kerokan karena bentuknya yang besar dan tebal sehingga sangat nyaman.

Bagian pinggirnya pun rata sehingga tidak sakit jika koin beradu dengan kulit. Koin berbahan tembaga ini dicetak sejak 1856-1945 dan berlaku hingga tahun 1950an.

Kini salah satu koin Benggol ini ada di Museum Hutabolon Simanindo.

Tidak hanya benda-benda seperti itu saja yang Sobat bisa lihat di museum ini. Di sekitar museum ini terdapat berbagai tempat menarik lainnya.

TERKAIT  FSAI Perkuat Kolaborasi Perfilman Indonesia-Australia
Museum Batak di Simanindo
Museum Batak di Hutabolon Simanindo (foto: Damayanti Sinaga)

Setelah dari museum, kamu bisa menghabiskan waktu untuk mengeksplorasi Rumah Batak di sebelah. Ada juga di sana Ruma Kaca, Tanaman Hidroponik, Taman dan Pemandangan Pantai di sekitar.

Ruma Kaca
Rumah Kaca sendiri merupakan rumah kediaman Tiolina Perawaty Sinambela yang adalah menantu pendiri Museum Hutabolon Simanindo. (foto: Damayanti Sinaga)

Ruma Kaca sendiri merupakan rumah kediaman Tiolina Perawaty Sinambela yang adalah menantu pendiri Museum Hutabolon Simanindo.

Selain Tiolina, ada Riris Hasibuan yang juga turut mengelola Museum Hutabolon Simanindo.

Perpustakaan di Ruma Kaca Hutabolon
Perpustakaan di Ruma Kaca Hutabolon (foto: Damayanti Sinaga)

Banyak cerita Ninna yang ingin bagikan ke para pembaca, tapi akan lebih baik Sobat lihat sendiri Museum Hutabolon Simanindo.

Lihat, belajar dan rasakanlah bagaimana kehidupan orang Batak zaman dulu.

Sobat juga bisa menginap di Ruma Kaca. Ada dua kamar di sini seharga 350ribu per kamar yang bisa muat 2 orang. Sobat juga bisa sewa tempat untuk berkemah di dekat pantai.

Pemandangan di Pantai Simanindo
Pemandangan di Pantai Simanindo (foto: Damayanti Sinaga)

Pendiri Museum

Museum Hutabolon Simanindo dulunya adalah rumah tradisional Batak warisan Raja Sidauruk sejak tahun 1969. Nama Founder Museum Batak Hutabolon Raja Humpul Pane Sidauruk.

Ada tiga keturunan Raja Sidauruk. Dua di antaranya menikah dengan Tiolina Perawaty Sinambela dan Riris Hasibuan.

Belakangan semua aset yang ada di Hutabolon Simanindo ini dikelola oleh Yayasan Hutabolon Simanindo.

Kedua anak Raja Sidauruk termasuk Raja Sidauruk sudah tiada.

Kini yang aktif mengelola Museum Hutabolon dan aset lainnya yakni kedua menantu Raja Sidauruk– Tiolina Perawaty Sinambela dan Riris Hasibuan.

Suasana-di-sekitar-Museum-HutaSuasana di sekitar Museum Hutabolon
Suasana di sekitar Museum Hutabolon (foto: Damayanti)

Waktu Kunjung

Waktu kunjungan ke museum setiap hari dari pukul 09.00 -17.00. Tiket masuk museum untuk dewasa dan anak-anak sama seharga Rp 20.000,- per orang.

Museum ini terletak di Desa Simanindo, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Tidak jauh dari Pantai BatuHoda.

Untuk menuju museum ini Sobat Ninna bisa dari pintu Pelabuhan Simanindo.

Hanya tinggal melangkahkan kaki dari Pelabuhan menuju Museum Simanindo, Sobat sudah bisa sampai kesini.

Jika datang dari Pelabuhan Tomok, Sobat harus menuju Simanindo terlebih dahulu.

Dari Pelabuhan Tomok ke kanan menuju arah Ibukota Samosir yakni Pangururan. Jangan sampai ke Pangururan. Papan petunjuk biasanya lengkap menunjukkan arah menuju Simanindo.

Begitu tiba di Pelabuhan Simanindo, sobat bisa bertanya kepada orang di sekitar dimana Museum Hutabolon Simanindo.

Penulis: Damayanti Sinaga
Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU