spot_img

Mie Gomak Andaliman, Rasanya Menggetarkan Lidah

NINNA .ID – SAMOSIR | Liburan ke Hot Spring di Pangururan Samosir mungkin sudah biasa. Di sana kita bisa menikmati guyuran air panas berbelerang atau berendam, sembari menikmati kokohnya sisi gunung Pusuk Buhit. Tapi, menikmati air panas saja belum lengkap sebelum mencicipi panganan khas di daerah itu.

Jenis kuliner itu dikenal dengan mie gomak. Bukan sekadar mie gomak biasa, rasanya yang kaya rempah, akan membuat lidah penikmatnya ingin terus menarik mie itu ke mulut. Kuliner tradisional Batak yang sangat terkenal.

Cara penyajiannya juga tidak berbeda seperti kebanyakan yang dilakukan oleh kebanyakan warga di Samosir. Berbahan mie lidi yang direbus, biasanya disajikan ala-ala Spageti dari Italia. Racikan bumbunya juga secara umum hampir sama.

Di Hot Spring Pangururan oleh penduduk setempat dikenal dengan nama Aek Rangat ada satu warung di sana menyajikan mie gomak andaliman.

“Rasanya tiada tara, mampu membuat lidah bergetar”

Mie gomak andaliman ini, bisa dinikmati di  warung Hot Spring milik Marga Sigalingging. Diramu dengan kaya rempah-rempah seperti, jahe, lengkuas, kunyit dan serai hingga buah pala, jadilah mie gomak dengan cita rasa unik. Satu porsi belum cukup. Setidaknya butuh setengah porsi lagi untuk lebih lama merasakan kenikmatan tersisa di ujung lidah yang terasa bergetar.

Penuturan pemilik warung, Vinna Silalahi, ramuan yang disajikan merupakan warisan bumbu turun temurun semenjak warung itu dibuka, 40 tahun silam. Pengolahan secara tradisional seperti memasak menggunakan kayu bakar, disebut untuk menjaga keaslian rasa dari resep pendahulu itu.

“Kami buat dan kami olah sendiri. Setelah bumbu bawang dan rempah-rempah ditumbuk dan disangrai, dicampur dengan kelapa sangrai. Bersama dengan santan, semuanya dimasak menggunakan kayu bakar,” terang Vinna Silalahi.

Didampingi anaknya, NINNA diajak Vinna melihat langsung proses pembuatan mie gomak. Proses merebus mie selam 30 menit hingga menyajikan racikan semua bumbu, memerlukan waktu sekira satu jam.

TERKAIT  Arsik Kaki Babi Khas Lapo Sitanggang, Nendang di Lidah

Proses memasaknya benar-benar masih manual bahkan lebih tepat tradisional. Kepulan asap hasil pembakaran kayu, sesekali tampak membumbung, keluar dari celah-celah dapur. Tidak terlihat satupun kompor LPG selama proses memasak.

Sementara menunggu mie yang direbus selama 30 menit itu ditiriskan, semerbak wangi bumbu dengan aroma khas andaliman mulai memenuhi ruangan dapur. Lidahpun sudah tak sabar untuk menyantap sepiring mie gomak andaliman.

Menu mie gomak andaliman ini telah membuat warung Marga Sigalingging itu, menjadi primadona kuliner di kawasan Aek Rangat dan Pangururan sekitarnya.

Sebelum masa pandemi, banyak pengunjung  dari Kota Pematangsiantar, Kota Medan bahkan dari Kota Jakarta mendatangi Aek Rangat tidak sekadar untuk mandi, tapi untuk menikmati mie gomak andaliman. Mencari kenikmatan kuliner tradisionanal Batak ini sangat membuat rindu.

Harga untuk satu porsi mie gomak andaliman, relatif cukup murah. Hanya perlu merogoh saku sebesar Rp 11.000, dan satu porsi mie gomak andaliman siap disantap. Mie gomak ini biasa juga dinikmati dengan telur bebek atau telur ayam rebus.

Di masa normal, Vinna Silalahi mengaku dapat menghabiskan 20kg mie dalam sehari. Namun, di tengah masa pandemi ini, dratis turun menjadi 8 kg per hari.

Tidak sulit untuk mencari warung Aek Rangat Marga Sigalingging ini. Letaknya berada di pintu gerbang lokasi objek wisata Aek Rangat Pangururan. Posisinya tepat berada di depan pos pariwisata. Areal parkirnya juga juga lumayan luas.

Kalau berkunjung ke Pangururan Samosir, jangan lewatkan Hot Spring dan getarkan lidahmu dengan sepiring mie gomak andaliman. Usai tubuh disegarkan air panas, kenikmatan mie gomak andaliman semakin melengkapi perjalanan.

Penulis : Jogi Sinturi

Editor   : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU