Cibubur, NINNA.ID-Suasana di sebuah ruang pertemuan di Cibubur, Sabtu (9/5/2026), terasa berbeda. Bukan sekadar rapat organisasi biasa, melainkan sebuah pertemuan yang sarat makna kekeluargaan, sejarah, dan harapan masa depan.
Para pengurus pusat dan perwakilan wilayah duduk bersama dalam Rapat Perdana Pleno Dewan Pengurus Pusat Parsadaan Pomparan Raja Naimbaton Indonesia (PARNA Indonesia), membawa semangat yang sama yakni merawat persaudaraan lintas generasi.
Di tengah suasana yang khidmat namun hangat itu, Ketua Umum DPP PARNA Indonesia, Cornel Simbolon, membuka pleno dengan pesan yang bukan hanya bernuansa organisatoris, tetapi juga menyentuh akar nilai budaya Batak yang diwariskan turun-temurun.
Ia menegaskan bahwa PARNA bukan sekadar perkumpulan marga, melainkan rumah besar yang dibangun di atas cinta kasih dan persaudaraan.
Dalam arahannya, Cornel Simbolon memaparkan tujuan utama organisasi, mulai dari memelihara persaudaraan tanpa membedakan agama, bahasa, budaya, adat istiadat, hingga status sosial, sampai pada semangat gotong royong dalam suka maupun duka.

“PARNA harus menjadi kekuatan sosial yang saling menopang,” demikian semangat yang terasa sepanjang pemaparan tersebut.
Tak hanya berbicara soal solidaritas, pleno juga menyoroti pentingnya pembangunan karakter dan peningkatan kualitas sumber daya manusia warga PARNA agar mampu berkontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Bagi organisasi sebesar PARNA, hal ini dipandang penting agar ikatan kekerabatan tidak berhenti pada seremoni adat, tetapi juga melahirkan generasi yang berdaya dan berpengaruh.
Rapat perdana ini juga menjadi momentum konsolidasi organisasi. Pengurus pusat mendorong percepatan pembentukan kepengurusan wilayah di berbagai daerah yang selama ini belum terbentuk.
Prinsip otonomi wilayah menjadi salah satu pendekatan yang diharapkan mampu membuat organisasi lebih hidup dan dekat dengan kebutuhan anggota di daerah masing-masing.
Namun, salah satu momen yang paling menyita perhatian dalam pleno itu adalah ketika Ketua Umum memperkenalkan kembali Buku Tarombo PARNA.
Buku yang disebut sebagai sebuah masterpiece sejarah PARNA tersebut akhirnya telah diterbitkan setelah lama dinantikan banyak keturunan Raja Naimbaton.
Bagi masyarakat Batak, tarombo bukan sekadar catatan silsilah. Ia adalah identitas, penanda akar, sekaligus jembatan penghubung antar-generasi.
Karena itu, Cornel Simbolon mengajak seluruh pengurus dan anggota PARNA untuk aktif menyosialisasikan buku tersebut kepada seluruh pomparan PARNA di mana pun berada.
“Tarombo adalah pengingat siapa kita dan dari mana kita berasal,” menjadi pesan yang terasa kuat dalam ajakan tersebut.
PARNA sendiri dikenal sebagai salah satu kelompok marga terbesar dalam masyarakat Batak Toba. Pomparan Raja Nai Ambaton ini memiliki puluhan cabang marga yang tersebar di berbagai wilayah.
Beberapa di antaranya adalah Simbolon, Tinambunan, Tumanggor, Tamba, Siallagan, Sidabutar, Sitio, Simarmata, Saragi, Sitanggang, Banurea, hingga berbagai submarga Ginting dan Munte.
Dalam tradisi Batak, seluruh keturunan PARNA tetap memegang kuat ikatan kekerabatan dan menjunjung aturan adat, termasuk larangan menikah sesama kelompok PARNA karena dianggap masih satu garis keturunan leluhur Raja Nai Ambaton.
Pleno kemudian berlanjut dengan mendengar berbagai masukan dari tokoh-tokoh PARNA dan para ketua bidang.
Diskusi berkembang dari program kerja lima tahunan hingga strategi mewujudkan visi dan misi organisasi agar lebih relevan dengan tantangan zaman.
Di luar urusan internal organisasi, perhatian terhadap kawasan Danau Toba juga menjadi sorotan penting.
Ketua Umum secara khusus mengajak seluruh keluarga besar PARNA untuk ikut peduli dan berperan dalam melestarikan serta memajukan Kawasan Danau Toba sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Geopark Internasional.
Ajakan itu seolah menjadi penegasan bahwa identitas budaya Batak tidak bisa dipisahkan dari tanah leluhur dan alam Danau Toba yang menjadi pusat peradaban masyarakat Batak selama ratusan tahun.
Menjelang akhir pleno, harapan besar kembali digaungkan agar PARNA tetap solid, semakin kompak, dan terus menjaga kebersamaan di masa depan.
Semua itu, menurut Cornel Simbolon, harus tetap berpijak pada poda atau petuah leluhur Raja Naimbaton:
“Sisada Lulu Anak, Sisada Lulu Boru, Sisada Lungun, Sisada Siriaon, Naunang Natokka Marsibuaton.”
Sebuah pesan tentang persatuan, kebersamaan dalam suka dan duka, serta pentingnya berjalan bersama sebelum bertindak.
Dari ruang pleno di Cibubur itu, semangat tersebut tampak ingin terus dijaga — bahwa di tengah perubahan zaman, akar persaudaraan dan nilai budaya tetap menjadi kekuatan utama PARNA Indonesia.
Penulis: PR PARNA
Editor: Damayanti Sinaga



