Menjaga Alam, Menghidupkan Kopi, Menguatkan Generasi Muda Inspirasi dari Petani Kopi di Festival Kopi Danau Toba

Toba, NINNA.ID – Suasana Festival Kopi Danau Toba pada Kamis 2 Oktober 2025 bukan hanya diramaikan dengan seduhan khas kopi dari Komunitas Kopikoh dari Humbang Hasundutan, tetapi juga dengan kisah inspiratif para petani kopi.

Salah satunya datang dari Humiras Silalahi, petani kopi asal Tapanuli Utara, yang memandang kopi bukan sekadar komoditas, melainkan bagian dari perjuangan menjaga alam dan membangun kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat desa.

“Konsepnya bukan hanya tentang hasil panen, tetapi bagaimana kita memelihara produksi dan melindungi alam. Kami diajari bahwa kopi juga berhubungan erat dengan isu perubahan iklim,” kata Humiras Silalahi berbagi pengalaman tentang menghadiri dokumenter Alam Berbicara di acara Festival Kopi Danau Toba berlayar di atas Kapal Marulam Taraul Inspirasiku (MTI), Kamis 2 Oktober 2025.

HUMIRAS SILALAHI DI FESTIVAL KOPI DANAU TOBA
Humiras Silalahi berbagi pengalaman tentang menghadiri dokumenter Alam Berbicara di acara Festival Kopi Danau Toba berlayar di atas Kapal Marulam Taraul Inspirasiku (MTI), Kamis 2 Oktober 2025. (Foto ©Damayanti)

Pengalaman mengikuti pelatihan serta menonton film dokumenter Alam Berbicara di Jakarta membuatnya semakin sadar betapa pentingnya menjaga lingkungan.

“Saya melihat betapa sakitnya alam ini ketika rusak. Dari situ saya makin termotivasi untuk melakukan banyak hal di kampung, mengelola alam dengan lebih bijak,” ujarnya.

Kopi dan Pertanian Terintegrasi

Menurutnya, kopi tidak bisa dipisahkan dari kehidupan petani desa yang juga menggantungkan hidup pada ladang, ternak, hingga perikanan. Humiras menyebut konsep pertanian yang terintegrasi adalah kunci keberlanjutan.

“Di desa, orang tidak hanya berkebun kopi. Ada yang beternak kambing, memelihara ikan, dan bertani. Semua itu saling berkaitan dan harus dikelola bersama agar seimbang,” jelasnya.

BERSPONSOR

Dari perjalanan panjangnya, lahirlah merek kopi lokal bernama Siadong, terinspirasi dari nama ladang di kampungnya.

“Saya mulai memproduksi kopi sejak 2018, saat mendapat pembinaan untuk meningkatkan hasil panen. Nama Siadong saya pilih karena mengingatkan saya pada sejarah dan budaya di daerah kami,” katanya.

Tantangan Produksi dan Pemasaran

Humiras mengakui produksi kopinya masih terbatas, sekitar 200 kilogram per tahun, dengan pengolahan manual agar kualitas tetap terjaga.

- Advertisement -
TERKAIT  Unggah Foto Pakai Bikini, Eks Duo Serigala Pamela Safitri jadi Trending

“Saya tidak mau banyak, tapi harus berkualitas. Karena kopi itu bukan hanya soal kuantitas, melainkan pengalaman rasa bagi peminumnya,” tegasnya.

Meski sudah memiliki merek dan kemasan, ia mengaku masih menghadapi kendala pemasaran.

“Kami di desa sering tidak mampu menikmati kopi kami sendiri karena harganya lebih mahal. Akhirnya, masyarakat lebih banyak membeli kopi murah di pasar yang hanya sekadar berwarna hitam, bukan kopi murni,” ungkapnya.

Mendidik Generasi Muda Lewat Kopi

Lebih dari sekadar usaha ekonomi, Humiras ingin menjadikan kopi sebagai jalan untuk memberdayakan generasi muda di Tapanuli Utara.

Ia aktif mengajak pemuda desa bergabung, belajar, dan menumbuhkan kebanggaan terhadap kopi lokal.

“Bagi saya, hasil dari kopi mungkin belum terlalu besar. Tapi saya melihat anak-anak muda bisa mendapatkan banyak manfaat jika mereka mau belajar. Itu yang membuat saya terus bertahan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah untuk memperkuat industri kopi daerah.

“Kita harus bekerja sama dengan pemerintah karena di sinilah tempat kita hidup. Harus ada program yang benar-benar menyentuh masyarakat petani,” katanya penuh harap.

Menjaga Alam, Menjaga Kopi

Meski mengaku tidak pernah menjadi penikmat kopi sebelumnya, kini Humiras mulai rutin meminumnya, terutama tanpa gula, karena menyadari manfaat kesehatan yang terkandung di dalamnya.

“Kalau kopi diminum dengan gula, saya merasa tubuh cepat lelah. Tapi kalau tanpa gula, justru lebih sehat,” katanya sambil tersenyum.

Baginya, kopi bukan hanya soal cita rasa. “Kopi adalah cara kita menjaga alam, menguatkan ekonomi desa, dan membangun masa depan generasi muda. Selama kita masih punya tanah, ladang, dan semangat, kopi Tapanuli Utara akan selalu hidup,” pungkasnya.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU