spot_img

Menggali Sejarah Si Raja Batak

HUMBAHAS – Agaknya perlu kita membuat sebuah penelitian sebelum semuanya benar-benar kabur. Soalnya, saya melihat, ada tendensi dari kita untuk semakin mengecilkan dan mengucilkan ketokohan Si Raja Batak (SRB). Ada saja motif di baliknya. Dari yang politis bahkan mungkin pesimis. Pada intinya mereka meragukan SRB.

Seperti diketahui, SRB memang misterius. Dikatakan dengan bahasa sederhana “turun dari langit, pecah dari bambu” untuk menutupi ketidaktahuan silsilah, agaknya masih kurang berdasar. SRB masih jauh lebih logis daripada kisah manusia di agama samawi: Adam dan Hawa. Kita tak tahu siapa orang tua Adam dan Hawa.

Kitab Suci langsung memberi keputusan: ia diciptakan dari lempung. Tetapi, apakah masuk akal ketika setelah melakukan kejahatan, anaknya pergi ke suatu daerah. Lalu, di sana Sang Anak dari Dua Manusia pertama ini memutuskan hidup dan menikah. Pertanyaan kita: dari mana wanita yang dinikahi itu? Bukankah hitungan manusia saat itu belum sampai hitungan jari?

Tetapi, kita pasrah: itu urusan iman. Meski sebenarnya jika kita mau berpikir lebih realistis, bisa saja Adam dan Hawa adalah humanisasi manusia yang baru. Sebelumnya manusia barangkali saat itu sama seperti spesies lainnya yang hidup tanpa berpikir. Manusia, ya, sama saja dengan kunang-kunang, ubur-ubur, capung. Tak ada istimewanya. Jadi, ia masih hewan yang kebetulan berjalan dengan berdiri tegak.

Pada prosesnya, manusia lalu istimewa setelah ia tak lagi sebatas spesies seperti hewan. Ia sudah maju dan mulai beradab. Dalam hal ini, saya memaknai proses penciptaan dengan sederhana: Sang Khalik mengubah manusia tanah menjadi manusia rumah. Ia tak lagi tinggal berdindingkan lempung di gua. Ia sudah tinggal dengan sekat-sekat yang mulai maju. Sudah terjadi percepatan pikiran. Begitu saya menafsirkan Adam dan Hawa.

Jadi, ini bukan tentang mencipta manusia, tetapi lebih pada membentuk manusia. Memberi napas supaya mereka benar benar hidup. Arti hidup di sini tentu tak sebatas bernapas. Kalau sebatas bernapas, kunang-kunang, ubur-ubur, pun capung juga bernapas. Karena itu, bernapas di sini berarti berjiwa. Dalam hal ini, manusia tak lagi sesederhana kunang-kunang, ubur-ubur, dan capung tadi karena Sang Khalik sudah memberi napas yang baru.

Saya pikir, hal yang sama juga berlaku untuk SRB. SRB malah tak serumit Adam dan Hawa. Setidaknya, secara genealogis, ia keturunan Tantan Debata. Tantan Debata keturunan Raja Miok-Miok. Raja Miok-Miok keturunan Raja Ihat Manisia. Di atasnya masih ada yang bisa dirujuk, mulai dari Si Boru Deak Parujar, Raja Odap-Odap, hingga Manuk Hulambujati. Itu secara sejarah lisan.

Nah, para pemuja sains dan sejarah lalu berujar: Barus lebih tua dari Pusuk Buhit. Bukti-bukti disodorkan melalui catatan-catatan. Ada dari Ptolomeus. Ada dari Nicola di Conti. Bahkan dari tahun sebelum Mesias datang. Macam-macam. Satu yang pasti, kita semua saat ini tak mengenal mereka karena konon ada yang dari sebelum Mesias datang. Saya tak bilang Ptolomeus salah, juga Nicola di Conti. Siapa saya untuk menyalahkan mereka?

TERKAIT  Etimologi dan Makna dalam HORAS (1)

Tetapi, apa mereka sumber kebenaran? Saya pikir tidak. Begini: apakah itu tak ubahnya hanya sastra lisan yang kebetulan dituliskan? Kebetulan saja mereka suka menulis dan kita suka berbicara. Artinya, bagaimana seandainya pembicaraan kita itu, yaitu tentang SRB dituliskan genealogisnya dari Manuk Hulambujati tadi, apakah langsung menjadi kebenaran?

Maksud saya, peristiwa tidak menjadi kebenaran ketika dituliskan. Sebaliknya, peristiwa tak menjadi kesalahan kalau hanya diceritakan. Jadi, jika hanya karena Barus lebih tua dari Pusuk Buhit karena berdasar pada catatan-catatan, tak elok rasanya kita malah mengingkari ketokohan SRB. Saya punya pemikiran bahwa pada satu sisi SRB hanya seperti Adam dan Hawa.

Jika Adam dan Hawa adalah humanisasi manusia, maka SRB adalah batakisasi Batak. Jadi, dulu, barangkali sebelum SRB (katakanlah Batak sebelum silsilah), leluhur kita belum ketat soal tarombo dan kelahiran. Mereka masih manusia pada umumnya tanpa adat. Menikah sama siapa saja, termasuk sama saudara perempuan sendiri, silakan. Ia kemudian baru dilarang setelah ada tertib hukum.

Anda tahu, tidak ada pelanggaran hukum pada sebuah negeri tanpa hukum. Sama, tidak ada pelanggaran adat pada negara tanpa adat. Mengapa Sariburaja kemudian diasingkan setelah menikah dengan Si Boru Pareme yang merupakan saudaranya? Jawaban logis kita akan menjawab: berarti pada masa itu sudah ada norma atau hukum yang dilanggar. Itu artinya, barangkali pada masa itulah muncul Batak dengan aturan silsilah yang tertib.

Saya pikir, alasan ini sudah pasti tak mengingkari Barus lebih tua dari Pusuk Buhit bukan? Dan, tentu saja juga tak mengingkari Pusuk Buhit berasal dari Barus secara genealogis. Bedanya, mungkin ketika masih di Barus, leluhur belum tertib. Setelah ke Pusuk Buhit, mereka semakin tertib. Ketertiban itu bisa dilihat dari sejarah tarombo bukan?

Saya tak sedang mencoba mengatakan Barus tak beradat. Bukan itu poin saya. Tetapi, kemunculan tertib adat dan silsilah kita bisa dirujuk sejarahnya mulai dari Pusuk Buhit. Lagipula, sebelum memaknai Barus, kita tak bisa menggunakan akal yang sekarang. Apa Anda yakin Barus sekarang adalah juga Barus masa silam? Jangan-jangan ia lebih luas dari Barus saat ini sehingga barangkali sampai ke Doloksanggul, misalnya?

Pesan saya dalam tulisan ini sebenarnya sederhana: bentuk tertulis tidak menjadi kebenaran. Ia hanya menjadi salah satu alternatif untuk direnungkan. Jika harus menggali sejarah, maka kita perlu berbangga karena punya garis tarombo yang bisa dirujuk. Barangkali setelah itu, setelah mengumpulkan silsilah, pada akhirnya kita sampai pada titik terang bahwa jangan-jangan SRB adalah sebuah missing link.

Karena itu, diperlukan sebuah studi untuk menggali silsilah demi silsilah itu.(*)

 

Penulis  : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU