spot_img

Menggagas Batak Meeting Writers di Baktiraja Tahun 2022

NINNA.ID – Mari sepakat dari awal: pariwisata adalah masa depan Danau Toba. Tak percaya? Mari melirik Bali. Bali hebat karena pariwisata. Perlu kalian tahu, sebagai nama, Bali lebih dikenal daripada Indonesia. Itu adalah karena pariwisata. Artinya, pariwisata bisa membuat kita mendunia.

Bali itu luar biasa. Meski sudah berkelas internasional, nilai-nilai lokalnya tak pernah luntur. Mereka selalu mengusahakan bahwa Bali harus tetap milik orang Bali. Orang luar boleh datang. Tetapi, begitu di Bali, kebudayaan Bali harus diutamakan. Lagipula, orang luar hanya tamu. Mereka datang untuk melihat yang tak ada di tempatnya. Jadi, Bali tak perlu harus menjadi Eropa, Arab, atau Cina. Bali, ya, Bali.

Satu yang spektakuler dari Bali, meski sudah lebih terkenal dari Indonesia, mereka tak merasa di atas angin dengan tak peduli pada promosi dan pengangkatan nilai-nilai lokal.

Satu yang harus dipahami, wisatawan adalah tamu. Mereka datang untuk melihat yang tak ada di tempatnya setiap hari. Karena itu, mereka berkunjung ke tempat lain yang asri dan unik.

Di atas segala keterkenalannya, Bali kini punya ajang internasional yang diidam-idamkan oleh para seniman dan sastrawan, yaitu Ubud Writers. Pada momen ini, penulis-terseleksi diundang untuk datang ke Bali. Di sana, mereka berfestival, berimajinasi, berdiskusi, dan menulis apa saja dari Bali. Hasil yang diharapkan: Bali semakin kokoh.

Tak ada salahnya mencontoh hal yang baik, bukan? Maka, setelah lama mengimajinasikannya, kami berencana untuk menggagasnya di Tanah Batak. Sekali lagi, tak ada yang salah dengan mencontoh hal-hal baik. Perpustakaan Nasional saja mencontoh Ubud Writers. Hal itu saya ketahui setelah saya menjapri Pemimpin Redaksi Perpustakaan Nasional Indonesia, Edy Wiyono.

Saya tak mengenal beliau sebenarnya. Cuma, karena saya kebetulan menang Juara 3 se-Indonesia pada program nasional bertajuk “Inkubator Literasi Pustaka Nasional”, saya jadi bisa bertanya-tanya. Kebetulan, pemenang diberi amanah dan kesempatan untuk melakukan inkubasi literasi di tingkat lokal karena kami kini sudah jadi inkubator. Soal bagaimana teknisnya, saya belum tahu persis. Namun, kata beliau, tahun depan akan diberikan TOR-nya.

Yang pasti, sinergi harus diutamakan. “Di bulan Mei (2022), kami juga akan mengadopsi Ubud Writers Forum,” singkat Edy kepada saya. Saya semakin tertantang. Maka itu, di sebuah kafe di Doloksanggul, saya dan Bang Thompson Hs berdiskusi banyak hal. Lebih sejam kami membahas dan mematangkan rencana. Soal apakah akan ada banyak pihak yang bersinergi, itu mimpi kita.

Sebab, pekerjaan-pekerjaan dunia literasi dan kebudayaan memang harus digalakkan. Tak perlu saya kutip betapa literasi dan budaya serta kesenian begitu berpengaruh. Nanti, esai ini jadi terlalu berat dan terkesan terlalu ilmiah. Namun, pada intinya, negara maju selalu diawali dengan literasi yang tekun. Tak ada negara yang maju tanpa literasi yang tekun.

Karena itu, fiks, semangat awal kita hari ini adalah menggagas Toba Writers Meeting di Baktiraja. Sekali lagi, kesannya kami memang mencontoh Ubud Writers di Bali. Tetapi, apa yang salah jika mencontoh hal baik yang bahkan konon sudah berhasil? Apalagi Bali dan Danau Toba ada titik persamaannya: pariwisata. Kita tentu bermimpi Danau Toba bisa mengikuti popularitas dan keindahan Bali.

TERKAIT  Sinaga - Situmorang: Siapa Si Abangan?

Lalu bagaimana teknis pertemuan ini? Yang masih terpikir sejauh ini dalam kepala kami adalah mengundang penulis-Batak (maksudnya bermarga) dengan total 40 orang. Selain itu, 10 orang dari orang non-Batak yang suka menulis tentang daerah Batak. Teknisnya dibuat berupa seleksi menulis esai tentang Batak sebagai bentuk keseriusan. Esai itu akan dikirim tiga bulan sebelum acara Batak Writers Meeting diselenggarakan.

Mengapa? Karena pada acara itu, esai itu direncanakan sudah dibukukan dan penulis esai sudah diminta komitmennya untuk datang ke Baktiraja sebagai peserta. Pada acara itulah akan dipilih 5 esai setiap hari untuk dibahas dan didiskusikan secara alot. Artinya, pada acara ini, penulis datang untuk mendiskusikan dan membedah buku karangan mereka sendiri.

Kepada penulis terseleksi, panitia akan memberi akomodasi penginapan, makan, dan transportasi lokal berupa sepeda motor satu per orang selama pertemuan. Direncanakan, pertemuan ini adalah tujuh hari. Dibuat tujuh hari supaya tujuh desa di Baktiraja dikunjungi satu per satu dengan satu tujuan: mencari titik positif yang bisa diangkat dan dipopulerkan.

Rencana masih dimatangkan. Dana masih dicari. Sudah ada beberapa lembaga pemerintah yang mendukung. Namun, tentu akan semakin baik jika pihak swasta bisa juga urun tangan. Apalagi, pada kesempatan itu, kami juga berencana untuk membuat Inkubator Pustaka Humbang Hasundutan.

Hanya saja, kami akan membuatnya dengan suguhan yang berbeda dari tingkat nasional. Jika nasional mengandaikan bahwa peserta sudah mapan secara teori, maka pada acara ini, kami berencana terlebih dahulu akan membuat lokakarya atau workshop kepenulisan kepada siswa di Humbang Hasundutan.

Teknisnya bisa mengikuti. Namun, itulah rencana besar. Pemateri workshop akan diberdayakan dari penulis Batak. Jadi, sifat acara ini adalah pra-kegiatan. Setelah mengikuti lokakarya atau workshop, siswa akan mengirimkan karyanya. Dan, pemenang inkubasi hasil workshop akan diumumkan pada acara puncak Batak Writers Meeting.

Hal lain yang juga dalam imajinasi kami adalah launching Tata Bahasa Batak. Ibaratnya seperti EYD (PUEBI) Bahasa Batak. Buku ini akan ditulis oleh budayawan Batak yang mahir di bidangnya. Juga akan dibantu oleh mereka yang melek tata bahasa. Jika itu tercapai, maka kita sudah membuat sejarah penting: membakukan bahasa Batak sebagai bahasa keilmuan yang tak lagi sebatas bahasa percakapan.

Jadi, dalam program seperti Ubud Writers Festival ini, kami mengimajinasikan terbit tiga buku atau minimal dua buku. Satu: buku antologi esai dari penulis terseleksi. Dua: bunga rampai hasil workshop. Tiga: ejaan bahasa Batak. Jika tak bisa tiga karena minimnya dana, maka satu buku harus dipadatkan ke buku lain.

Apakah acara ini pasti berlangsung? Ya, dalam benak kami: harus berlangsung. Artinya, kami sudah komit untuk menjadikannya sebagai realita terlepas apakah akan maksimal atau tidak. Namun, satu yang pasti, jika kita bersinergi dan lembaga pemerintah mendorong dengan tekad kuat, kemaksimalan acara ini bisa ditata untuk lebih baik supaya menjadi agenda tahunan bergengsi, bukan?

Intinya: jika di Bali bisa, mengapa di kita tak bisa?

 

Penulis    : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU