NINNA.ID – Dalam kebiasaan Marbinda di kehidupan sosial masyarakat Batak dahulu, ada proses pelelangan tulang lembu. Ternyata tulang lembu tidak untuk disop seperti kebiasaan saat ini.
Tulang lembu itu untuk membuat makanan yang disebut Lampian. Makanan lezat bergizi tinggi, layaknya super food.
Dari kuliner warisan leluhur ini, secara tidak sadar para nenek moyang kita sudah banyak mengenal berbagai makanan sehat.
Seperti yang kita tahu tulang-tulang lembu tadi banyak mengandung sumsum yang terdiri vitamin B, asam pantotenat, tiamin, dan biotin.
Unsur ini sangat dibutuhkan untuk proses pertumbuhan sel tubuh, termasuk menambah energi. Sumsum tulang lembu juga kaya akan kolagen atau protein paling melimpah.
Proses untuk membuat Lampian ini pun tergolong mudah. Tulang lembu tadi akan dipotong-potong hingga kecil untuk mendapatkan sumsum yang terkandung di dalamnya.
Potogan tulag dicampur dengan Monis (menir), diaduk sampai rata. Setelah adonan dianggap merata, adonan dimasukkan ke sebuah bakul yang terbuat dari anyaman pandan.
Kemudian bakul berisi adonan tadi diletakkan di tempat teduh bersuhu sejuk. Sebisa mungkin dihindarkan dari paparan sinar matahari.
Proses ini akan didiamkan sampai berhari-hari bahkan bisa sampai berbulan-bulan. Walau dibiarkan berbulan tanpa pemanasan dari api, adonan Lampian tadi tidak akan mengeluarkan bau busuk ataupun berulat.
Selanjutnya, setelah adonan dianggap layak untuk diolah, ditambahkan sedikit bubur beras yang diolah secara terpisah. Keduanya diaduk sampai benar-benar merata. Lampian siap disajikan.
Menurut para orang tua yang pernah menikmatinya, rasa Lampain sangat enak dan segar.
Kuliner khas warisan leluhur ini, sudah jarang ditemui saat ini. Bahkan, nama kuliner yang tergolong super food ini sudah jarang terdengar.
Diduga, karena dahulu Lampian ini masih sering dikonsumsi, membuat orang Batak dahulu, walau sudah berumur masih mampu memikul beban hingga 80 kg, dengan jarak tempuh 1 kilometer dengan track mendaki dan menurun.
Tanpa sadar, hanya karena kebiasaan marbinda, mereka telah menciptakan dan mengkonsumsi super food yang penuh protein. Perbandingan saat ini, untuk mengangkat beban 1 zak semen setara 50kg, sudah terlihat bersusah payah.
Begitulah sebagian kisah tentang orang Batak. Baik itu kebiasaan hidupnya, ritualnya, keseniannya hingga kulinernya, kerap membuat kita takjub dan terheran-heran. Sungguh suatu kekayaan budaya yang tak ternilai harganya.
Generasi Batak saat ini perlu kembali menggali dan mengembalikan budaya yang nyaris hilang itu. Agar budaya salah satu suku terbesar di Indonesia ini tetap lestari.
Penulis : Aliman Tua Limbong
Editor   : Mahadi Sitanggang



