spot_img

Mengejar Cuan dari Dali Ni Horbo, Kuliner Khas Batak Toba

HUMBAHAS – Biasanya anak muda lebih tertarik jalankan usaha online shopping, fashion atau yang berhubungan dengan kecantikan. Tapi Mei Lumban Gaol tampil beda dengan teman-teman seumurannya. Sudah tiga tahun ini dia menjalankan usaha kuliner susu kerbau. Makanan khas suku Batak Toba ini dikenal dengan nama Dali Ni Horbo.

Awal dia melirik potensi bisnis kuliner ini ketika Organisasi Forum Masyarakat Desa Sejahtera mengadakan pelatihan buat anak-anak muda di Kecamatan Paranginan, Dolok Sanggul. Ada sekitar 10 orang saat itu yang mengikuti pelatihan memproduksi Dali Ni Horbo.

Dari semua peserta tersebut, hanya Mei yang masih konsisten memproduksi kuliner susu kerbau ini. Pelatihan dan pengetahuan yang ia peroleh dari ibunya menjadi bekal baginya menjalankan bisnis yang dinamai Dali Ni Horbo Gaol.

Selama dua tahun terakhir, ia sudah mendistribusikan produknya ke Kabupaten Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Toba, Tapanuli Tengah, Medan, dan Pekanbaru. Pengiriman ia lakukan melalui bus-bus agar produknya lekas tiba di tujuan.

Supaya makanan ini menarik dan aman saat didistribusikan, ia menggunakan kemasan Thinwall ukuran 500 ml. Belakangan ini, rata-rata omzet usahanya berkisar 7-8juta per bulan.

Mei mengatakan orderan Dali Ni Horbo tidak stabil. Namun, ada saat dimana dalam satu hari orderan mencapi 50-60 kotak, ujar Mei. Akibatnya, ia jadi lembur demi memenuhi pesanan tersebut.

Kendala lain yang membuatnya sulit untuk memproduksi Dali Ni Horbo dalam jumlah besar dikarenakan alat produksi masih terbatas.

“Modal awalku jalankan bisnis ini hanya Rp 200 ribu. Itu modal untuk susu mentah dan kemasan. Pelatihan Formades itulah kak yang melatarbelakangi aku jalankan usaha ini. Ada 10 kian kami, tapi yang ku tahu, hanya aku yang masih jalankan usaha Dali Ni Horbo ini,” kisah wanita berusia 20 tahun ini menceritakan pengalaman yang ia dapatkan dari pelatihan Formades.

Makanan Khas 2
Mei Lumban Gaol memperkenalkan Dali Ni Horbo,(foto:ist)

Meski ada masa penjualannya menurun tapi menurutnya tidak begitu drastis. Ini katanya terjadi akibat ia jenuh atau mungkin kurang promosi. Jenuh sebab dia yang harus mengurusi segala hal pada usahanya tersebut. Mulai dari bagian produksi, pemasaran hingga distribusi.

TERKAIT  Jahe Merah Pardeso Tingkatkan Imun Sampai ke Bali

Akan tetapi, ia sama sekali tidak menyerah. Malah, ia berniat mengembangkan usaha ini. Karena baginya usaha ini menjanjikan.

“Akan sangat disayangkan jika saya berhenti. Rencana ke depannya saya akan membuat sebuah farm kerbau untuk menambah bahan baku saya,” ujar wanita kelahiran 2002 ini.

Filosofi Dali Ni Horbo
Makanan ini populer di kalangan suku Batak Toba. Kerbau menjadi salah satu ternak yang sangat banyak dibudidayakan, khususnya pada zaman dulu. Malah, kekayaan seseorang biasanya diukur berdasarkan jumlah kerbau yang mereka miliki.

Misalnya, saat seseorang memiliki 30 ekor kerbau dianggap sudah kaya 20 tahun silam. Namun takaran tersebut tidak lagi digunakan. Kerbau pun tidak lagi diternakkan sebanyak dulu. Namun, kerbau masih menjadi bagian dari budaya Batak Toba. Dagingnya kerap disediakan di pesta Batak.

Begitu juga Dali ni Horbo, masih menjadi kuliner yang dapat kita jumpai di rumah makan. Namun tidak sebanyak dan sesering dulu.

Untuk menghasilkan produk ini dibutuhkan induk kerbau. Setelah induk kerbau melahirkan dan usia bayinya berumur 1 bulan, puting susunya akan diperas.

Perasan susu tersebut direbus dalam periuk yang bersih ditambah sedikit air. Rebus sekitar 15-20 menit dengan api kecil agar tidak hancur. Selama masa perebusan 20 menit tersebut masukkan air perasan nenas, pepaya atau tumbuhan cabuya raksasa.

Air perasan ini bermanfaat sebagai enzim yang akan mengentalkan susu, memisahkan protein dengan air. Setelah 20 menit, keluarkan dari api. Tuangkan ke tempat terakhir dan biarkan dingin. Sebaiknya dimasukkan ke lemari pendingin agar lebih segar.

 

Penulis  : Damayanti Sinaga
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU