Menantikan Pemerintah Bertindak untuk Mencegah Korban Jiwa Akibat Kerusakan Lingkungan di Danau Toba

BERSPONSOR

NINNA.ID-Danau Toba yang ditetapkan jadi Destinasi Super Prioritas tidak hanya menjadi sorotan karena telah mendapat predikat kartu kuning dari UNESCO. Akan tetapi, kini yang menjadi sorotan selama sebulan terakhir peristiwa banjir bandang di Samosir dan Humbang Hasundutan.

Bencana yang disebabkan kerusakan lingkungan terus bertambah.

Pada 2022, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan di Tapanuli Utara bencana gempa bumi menyebabkan korban meninggal 1 orang, 24 luka-luka, dan ada 13.130 orang yang terkena dampak.

Di Toba, jumlah korban bencana banjir dan terdampak serta mengungsi 19 orang.

BERSPONSOR

Di Simalungun jumlah korban bencana tanah longsor yang terdampak dan mengungsi 20 orang.

Tahun ini yakni tahun 2023 selama sebulan terakhir banjir bandang dan longsor telah menyebabkan 14 orang meninggal.

1 korban meninggal dunia di Desa Siparmahan Kecamatan Harian Kabupaten Samosir. Ada 620 orang yang harus mengungsi.

13 orang bisa dikatakan meninggal akibat banjir bandang. Dengan catatan 10 orang lagi belum ditemukan pasca banjir bandang dan longsor melanda Desa Simangulampe Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan hingga Selasa 5 Desember 2023.

BERSPONSOR

Tindakan Preventif

Melihat sudah banyak korban khususnya korban jiwa yang terkena dampak akibat kerusakan lingkungan, pemerintah jangan lagi seolah tidak menganggap serius peristiwa ini.

Peristiwa ini patut dijadikan sebagai peringatan untuk tidak lagi menebang pepohonan ataupun hutan yang ada di pegunungan maupun perbukitan di Kawasan Danau Toba.

Jangan lagi memberikan izin kepada perusahaan-perusahaan yang mengeksploitasi atau bahkan menghancurkan ekosistem Danau Toba.

- Advertisement -

Sudah cukup semua kejadian ini. Jangan lagi terulang. Jangan lagi ada korban berikutnya.

Perhatian serius harus dialihkan dari reaksi pascabencana menjadi tindakan prabencana (preventif).

Longsor di Desa Siparmahan
Salah satu rumah yang hancur diluluhlantakkan banjir dan longsor di Desa Siparmahan pada Senin 13 November 2023 (foto : Damayanti)

Sudah paling pasti solusi menghindari banjir bandang dan longsor adalah menghentikan penggundulan hutan.

Melibatkan masyarakat, khususnya masyarakat setempat untuk menghentikan bahkan melarang upaya oknum tertentu dalam menebang pepohonan.

Penting juga memiliki gaya hidup yang ramah lingkungan.

Salah satunya, hidup sederhana dan tidak menginginkan kekayaan berlebihan yang mengarah kepada keinginan untuk eksploitasi sumber daya alam.

Selain itu, penghijauan perlu untuk terus digalakkan dimanapun tidak hanya terbatas di area lokasi banjir tapi di seluruh Kawasan Danau Toba.

Menanam kembali tanah yang sudah kosong atau tandus merupakan solusi terbaik dan paling pasti. Sebab, kelanjutan hidup manusia dari generasi ke generasi bergantung pada makanan, pakaian, dan pernaungan.

Itu semua berasal dari hutan-hutan yang menghasilkan berbagai produk. Maka tidak berlebihan bila pohon-pohon digambarkan sebagai pabrik ramah lingkungan.

Pabrik ramah lingkungan karena tidak tidak menghasilkan limbah, tidak mahal, dan menghasilkan kebutuhan vital seluruh umat manusia.

Dengan bahan bakar sinar matahari, tumbuhan hijau menggunakan karbondioksida, air, dan mineral untuk menghasilkan makanan, secara langsung atau tidak langsung, bagi hampir semua kehidupan di bumi.

TERKAIT  "Sisingamangaraja" Bermarga Panjaitan di Balige (I)

Nenek moyang kita selama ini juga mengajarkan kita untuk merawat dan melestarikan alam dengan berprofesi sebagai petani.

Banyak warisan yang bisa kita nikmati selama ini. Kita bisa melihat bukit dan gunung berisi pepohonan lebat.

Tapi, perlahan warisan tersebut berada di ambang kehancuran. Karena semangat ingin kaya, banyak pebisnis dan pemerintah lebih menyukai menginvestasikan dana mereka ke industri yang sifatnya destruktif seperti membuka perkebunan eukaliptus, sawit, hotel bintang lima menjulang tinggi di Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba dan sejenisnya.

Sebenarnya, untuk saat ini mengingat hutan semakin berkurang, iklim memburuk, investasi terbaik adalah menanam berbagai jenis pohon berbuah.

Entah itu di lahan pekarangan sendiri atau lahan hutan yang saat ini begitu banyak telah gundul.

Karena pohon berbuah akan memberikan imbal hasil dalam jangka panjang ke semua orang. Tidak hanya kepada para pebisnis dan pemerintah.

Juga akan mampu untuk memperbaiki citra Danau Toba sebagai Global Geopark UNESCO.  Kita harap upaya pelestarian lingkungan akan menarik minat wisatawan ke Danau Toba.

Dengan demikian, akan terwujud cita-cita menjadikan Danau Toba sebagai daerah yang masyarakatnya hidup tidak hanya dari sektor pertanian saja. Tetapi juga dapat menggantungkan hidup dari sektor pariwisata.

Seperti Bali yang selalu digemari banyak wisatawan nusantara dan mancanegara.

Kita hanya bisa pilih satu. Jika kita ingin hidup dari sektor pertanian dan pariwisata, pelestarian lingkungan harus paling utama.

Jika tidak, kerusakan akan terjadi dimana-mana dan tamatlah predikat Danau Toba sebagai salah satu Warisan Dunia UNESCO.

Kekayaan Danau Toba

Jika memang Warisan Dunia ini perlu kita jaga dan predikat Global Geopark kita pertahankan, maka semua hutan di Danau Toba khususnya yang ada di lereng pegunungan dan perbukitan harus kita jaga dan lestarikan.

Pemandangan di Simumbang
Pemandangan di Bukit Simumbang Simalungun berisi aneka pepohonan (foto: Damayanti)

Apalagi sebagian besar masyarakat di Kawasan Danau Toba hidup dari sumber air dari mata pegunungan maupun bukit.

Kita tahu bahwa pegunungan di Kawasan Danau Toba memiliki lereng berhutan yang menyerap hujan seperti spons.

Dengan demikian air hujan yang jatuh dapat diserap akar pepohonan kemudian turun ke sungai hingga ke danau dengan perlahan dan tidak mengakibatkan banjir besar.

Selain itu, pegunungan juga merupakan rumah bagi satwa liar dan keanekaragaman hayati. Pegunungan maupun perbukitan merupakan rumah bagi flora maupun fauna.

Pegunungan maupun perbukitan juga merupakan tempat tinggal masyarakat adat. Tidak sedikit orang Batak memilih tinggal di pegunungan maupun perbukitan.

Mungkinkah pemerintah akan terus diam membiarkan dan malah ‘mendukung’ kerusakan yang sudah terjadi di Danau Toba?

Penulis: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU