Melihat Solu Bolon di Masa Silam, Kini dan Nanti

BERSPONSOR

NINNA.ID-Warisan berarti harta pusaka peninggalan. Solu Bolon merupakan salah satu harta karun peninggalan leluhur Batak.

Solu Bolon menjadi harta yang memiliki cerita sejarah sangat bernilai. Perahu ini membuka kesempatan bagi generasi sekarang melihat dan membayangkan kehidupan nenek moyang suku Batak di masa silam.

Dari ukuran dan bahan perahu kita bisa membayangkan betapa kuat hubungan kerjasama orang Batak.

Hampir mustahil bagi orang Batak berhasil membuat Solu Bolon berukuran panjang dan besar memuat 50 orang dalam waktu singkat. Tidak juga tuntas tanpa melibatkan dukungan banyak pihak.

BERSPONSOR

Proyek pembuatan Solu Bolon inipun menghabiskan banyak sumber daya: waktu, energi, alat dan bahan-bahan.

Fakta tersebut juga mengingatkan generasi masa sekarang bagaimana orang Batak bisa tinggal di perbukitan atau pegunungan, menghadapi kehidupan yang begitu keras dan perlu menggalang semangat kerja sama.

Hanya karena kerjasama, kayu-kayu besar untuk pembuatan Solu Bolon bisa diturunkan dari dolok (baca: bukit) diturunkan ke perkampungan.

Makanya ada istilah marsiadapari atau gotong royong. Terdiri dari kata mar-sialap-ari yang artinya kita berikan dulu tenaga dan bantuan kita kepada orang lain. Kelak, kita pun bisa meminta bantuan mereka.

BERSPONSOR

Bermodalkan semangat gotong royong, masyarakat Batak bertahan menghadapi kehidupan keras. Hidup dari pertanian dan perikanan.

Solu Bolon di Masa Lalu

Ukuran. Dikutip dari berbagai sumber, Solu Bolon biasanya berukuran panjang sekitar 20 meter dan lebar 1,5 meter.

Bentuk. Solu Bolon ini dihias dengan ornamen-ornamen Batak. Ada ornamen yang tersemat di badan kapal atau disebut dengan Giarogia di Pudi yang terdiri dari tiga batang dengan jumbai berbahan dasar bulu kuda dan sederet batang pendek yang disebut rame-rame.

- Advertisement -

Ornamen tersebut mirip dengan yang kerap digunakan di Rumah Batak atau Rumah Bolon.

Ada patung kepala kerbau dengan rame-rame lainnya. Juga ada tiang Torgiok di bagian depan yang berfungsi sebagai pegangan bagi petugas untuk mengatur ritme kekuatan untuk mengayuh.

Bahan. Perahu ini terbuat dari dari Kayu Bona Sanggar, Kayu Bihole dan Kayu Antuang dan dirakit oleh masyarakat menggunakan alat konvensional.

Lama pengerjaan. Salah satu contoh lama pengerjaan Solu Bolon di Sarulla milik Pomparan Raja Simatupang memakan waktu hampir 1 tahun.

Pengerjaan dimulai 7 Januari 2013, selesai pada Desember 2013. Proses pemindahan Solu Bolon berukuran panjang 21 meter, lebar 110 cm serta tinggi 70 cm—melibatkan 333 orang dari dari Dusun Tordolok Nauli Sarulla, Kecamatan Pahae Jae ke Danau Toba di Kecamatan Muara, Tapanuli Utara.

Pengerjaannya begitu lama karena ada kayu-kayu yang harus diangkut, balok-balok yang harus dibelah, dibentuk, dan digabungkan.

Tradisi Mangebang

Dalam kehidupan tradisional Batak di masa lalu, ada sebuah tradisi memperkenalkan Solu Bolon yang disebut dalam bahasa Batak Tradisi Mangebang.

Kebiasaan ini kegiatan yang wajib dilakukan oleh masyarakat Danau Toba khususnya bagi mereka yang memiliki Solu Bolon.

Menurut asal-usul, pelaksanaan tradisi ini sudah dimulai sejak 1965 dan sampai sekarang masih terus dilaksanakan.

Sebelum tradisi ini nyaris sirna, salah satu daerah menonjol melaksanakan tradisi ini ada di Baktiraja. Mereka biasa melaksanakan tradisi ini setiap Rabu karena di hari tersebut ada Onan (baca: Pekan atau Pasar) di Baktiraja.

TERKAIT  India Memimpin Dunia dalam Menutup Akses Internet Selama 5 Tahun Berturut-Turut

Hal ini bertujuan untuk memberi tahu kepada masyarakat sekitar jika ada pelaksanaan Mangebang.

Setiap pelaksanaan Mangebang, lazimnya diikuti oleh para penatua adat atau tetua adat beserta tokoh-tokoh masyarakat setempat.

Di Baktiraja, pelaksanaan Mangebang harus sesuai dengan adat istiadat yang berlaku di sana.

Bukti bahwa pelaksanaan Mangebang ini harus sesuai adat istiadat yang berlaku terlihat dari proses pelaksanaan yang dilakukan secara terstruktur dengan baik.

Sebelum dilaksanakan, Mangebang harus mendapat kesepakatan antara Hasuhuton, Raja Huta, Raja Adat, dan juga Pande.

Sekalipun pelaksanaan Mangebang Solu Bolon bertujuan memperkenalkan kapal baru, acara tersebut mengandung sarat nilai positif bagi masyarakat.

Ada sejumlah nilai kearifan lokal dalam setiap pelaksanaan Mangebang. Akan tetapi, setidaknya terdapat 3 nilai yang penting bagi masyarakat di Baktiraja.

Pertama, nilai kerukunan. Tahap ini di mana masyarakat akan sangat menghormati dan menghargai usaha dari pembuat kapal tersebut.

Kedua, ada nilai kebersamaan. Pelaksanaan Mangebang cukup melibatkan banyak orang.

Di sinilah nilai kebersamaan itu muncul, mereka saling membantu dalam mempersiapkan segala kebutuhan untuk melaksanakan Mangebang.

Terakhir, nilai sosial. Ya, nilai ini sangat terlihat jelas ketika tradisi ini dilaksanakan. Antar masyarakat saling bergotong royong, kerja sama dan membantu pelaksanaan upacara.

SOLU BOLON
Peluncuran Solu Bolon ini dilakukan di Muara Tapian Na Uli Utara Humbang Habinsaran pada 22 Desember 2013 yang dilaksanakan oleh keturunan Ompu Toga Simatupang sekaligus meresmikan Ruma Tonggo Ompu Toga Simatupang di Desa Paranginan. (foto: tangkapan gambar youtube)

Kini

Karena bahan utama yakni kayu-kayu besar dan tahan lama untuk membuat Solu Bolon sangat payah diperoleh. Selain itu, perawatan yang mahal, membuat banyak pembuat kapal meninggalkan kapal kayu dan beralih ke kapal fiberglass.

Kapal-kapal yang digunakan dalam lomba Solu Bolon juga menggunakan fiberglass. Kapal fiberglass atau yang lebih dikenal dengan FRP (fibreglass reinforced plastics) merupakan kapal serat glass yang memiliki keunggulan lebih banyak dibandingkan dengan kapal kayu.

Kapal yang terbuat dengan bahan fiberglass memiliki karakteristik lebih ringan, mudah dibentuk, dan materialnya mudah didapat. Kapal fiberglass dapat menggantikan fungsi kapal kayu.

Nanti

Karena keterbatasan bahan kayu yang berasal dari hutan, sulit untuk menghadirkan atau mempertahankan Solu Bolon sebagaimana mestinya. Fiberglass dan bahan lainnya akan menggantikan kayu.

Namun, karena mempertahankan cerita di masa lalu, sejumlah pihak terutama penyelenggara event Solu Bolon menghiasi perahu fiberglass dengan ornamen-ornamen Batak semestinya.

Solu Bolon yang asli mungkin akan sangat sulit untuk dibangun atau dihadirkan karena keterbatasan kayu-kayu besar. Tapi setidaknya, kisah sejarah, makna, dan tiruannya masih dapat dilihat oleh generasi mendatang.

Warisan dari leluhur Batak ini akan menjadi kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Mengunjungi Solu Bolon yang asli maupun tiruan akan menambah pengetahuan baru bagi wisatawan tentang kehidupan orang Batak di zaman dulu.

Bisa jadi melihat Solu Bolon dengan mata kepala sendiri sama nilainya dengan membaca sebagian dari kisah hidup orang Batak pada masa silam.

Penulis: Damayanti Sinaga
Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU