spot_img

Melacak Batak-Barus dari Aek Sibundong

NINNA.ID – Biar saya putuskan: orang yang berasal dari kawasan Danau Toba (KDT) pasti sudah pernah mendengar lagu berjudul “Aek Sibundong”. Lagu ini sangat legendaris. Namun, yang lebih heroik, lagu ini tak terukur umurnya. Dikaitkan dengan kesusastraan, maka lagu ini ada pada golongan klasik.

Sebagaimana diketahui, satu ciri penting kesustraan klasik adalah anonim. Kita tak tahu siapa pencipta lagu legendaris ini. Kepada kita hanya disuguhkan: NN. Lagu ini sekilas berisi tentang kerinduan seorang kekasih pada pujaan hatinya. Pada sebuah lirik disebut: jikalau rindu, pergilah ke Aek Sibundong, tepatnya di Doloksanggul.

Aek Sibundong tidak hanya di Doloksanggul, Humbang Hasundutan. Aek Sibundong setidaknya melewati tiga kabupaten besar di Sumatera Utara sebelum berakhir di laut. Dimulai dari Humbang Hasundutan, lanjut ke Parmonangan, dan berakhir di Tapanuli Tengah. Nah, kita mulai cerita ini dari Tapanuli Tengah.

Konon, pada abad kedua, bahkan pada abad sebelum Masehi, sebuah daerah di Tapanuli Tengah sudah mulai terkenal, malahan menjadi ikon. Orang India datang. Ada juga dari Arab. Disusul dari Tiongkok. Pula dari Taiwan. Mereka berkumpul di sebuah tempat di Tapanuli Tengah. Hanya memang, saat itu, kita belum mengenal istilah Tapanuli Tengah.

Supaya tidak berliku, mari langsung saya sebutkan: ini tentang Barus. Nama kota ini sudah awet dalam berbagai catatan kuno beribu tahun lampau. Seorang pengelana berdarah Yunani, Claudius Ptolemaeus, pada abad ke-1 Masehi menyebut ada lima pulau yang salah satunya bernama ‘Barousai’. Ditafsir, ini adalah daerah Barus saat ini.

Namun, ada kemungkinan Barus lebih tua dari itu. Pada tahun 1995 di Desa Lobu Tua, daerah sekitar Barus terdapat sebuah spanduk bertuliskan “Dirgahayu ke-50 negaraku dan Dirgahayu ke-5000 desaku”. Jikalau itu benar, Barus sudah sangat tua. Yang menarik tentu, jika saat itu sudah ramai, maka pasti ada pengendali saat itu.

Maksud saya pengendali di sini berupa kerajaan. Rasanya tak mungkin orang berkumpul tanpa sebuah sistem, tanpa aturan, tanpa kerajaan. Jadi, sudah hampir dapat dipastikan, pada masa itu di ribuan tahun yang lalu, sudah ada sebuah kerajaan yang mengatur segala sesuatu di daerah Barus. Kita sebut saja namanya kerajaan X.

Nah, dari Barus, mari berbicara lebih lanjut. Tentu saja ini masi imajinatif. Namun, jangan salah, imajinasi tidak selalu salah. Imajinasi beda dengan mengada-ada. Itu ibarat bahwa fiksi berbeda dengan fiktif. Maksud saya, meski ini imajinasi, ini bukan tentang pungguk merindukan bulan yang memang mustahil.

TERKAIT  Sejak Kapan Kita Manortori Salimut dan Bukan Ulos?

Jadi begini, dulu, sebagai pusat keramaian, Barus lumayan dekat dengan muara Aek Sibundong. Artinya, ada kemungkinan besar pada masa itu orang menyusuri Aek Sibundong. Sejarah sudah membuktikan bahwa peradaban dekat dengan sungai. Dan, secara naluri, jika tersesat, kita pun lebih aman menelusuri sungai dari hilir ke hulu atau dari hulu ke hilir.

Dari sanalah saya berimajinasi. Imajinasi itu adalah tentang bagaimana para pengelana mencari getah kamper dan getah kemenyan hingga ke pedalaman. Betul-betul ke pedalaman karena kamper yang baik ada di sana. Bahkan, kemenyan terbaik di dunia ada di pedalaman Humbang Hasundutan. Maksud saya sederhana: Aek Sibundong pasti menyimpan banyak rahasia.

Hanya memang, jika dilihat dari bentuknya, Aek Sibundong seperti tak mempunyai kisah. Ia seperti kali biasa. Tetapi, sebagai sungai satu-satunya dari Hasundutan ke muara laut, Aek Sibundong niscaya punya banyak peran yang bisa dilacak secara arkeologis dan etnografis. Jangan-jangan Sibundong berperan besar dalam pembentukan Batak Bersilsilah.

Batak Bersilsilah artinya dilihat dari Si Raja Batak setelah adanya marga-marga. Sebab, seperti saya tuliskan sebelumnya, Batak itu bukan dimulai dari Si Raja Batak. Artinya, sebelumnya sudah ada Batak. Tetapi, mereka belum memulai pakem Dalihan Na Tolu dan tradisi marga-marga. Ini seperti kisah Adam dan Hawa. Adam bukan manusia pertama. Jika pertama, ini soal manusia pertama yang ber-Tuhan.

Kembali ke Sibundong. Mengingat satu-satunya dari Hasundutan, sungai ini besar kemungkinan menjadi jalur alternatif Batak pada masa silam menuju Barus. Tetapi, ya, ini masih misteri. Karena itu, perlu kiranya kita membongkar data-data etnografis. Pertama, misalnya, darimana nama ini, yaitu Sibundong, dimulai?

Apakah sungai ini diberi nama oleh pesisir, oleh pertengahan di Tapanuli Utara atau oleh orang Humbang sebagai titik nol? Jika melacak secara gramatikal, Sibundong terdiri atas dua kata: Si dan Bundong. Pertanyaan kita, apa arti kata “bundong”? Apakah ini hanya nama biasa tanpa arti apa-apa?

Nah, sambil berimajinasi bagaimana Sibundong bisa menjadi jalur alternatif Barus-Batak di Toba, mari sama-sama mencari: siapa pemberi nama sungai ini menjadi Aek Sibundong? Mengapa namanya sama saja dimulai dari Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Tengah? Yang lebih penting, jika ada arti kata “Sibundong”, apakah arti itu sama di setiap sisi Aek Sibundong?

 

Penulis   : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU