Tigaras, NINNA.ID-Di balik keindahan Danau Toba yang memeluk Desa Tigaras dengan angin sejuk dan birunya air, ada satu kenyataan yang menggigit keras harapan warga: gelapnya kehidupan masyarakat dan masa depan pariwisata karena listrik yang tak kunjung stabil.
Sabtu, 24 Mei 2025 seharusnya menjadi hari bersejarah bagi Tigaras. Hotel My Nasha, satu-satunya hotel berkelas di desa ini, menjadi tuan rumah acara “Pintar Digital untuk Promosi Event Nasional” — kolaborasi strategis antara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI dan Komisi VII DPR RI.
Kegiatan ini bukan sekadar acara biasa, melainkan simbol harapan: bahwa Tigaras mampu bertransformasi menjadi destinasi unggulan, dikenal tak hanya karena pemandangannya, tapi juga karena keramahan digital warganya.
Namun harapan itu terguncang.
Selama kira-kira empat jam acara berlangsung, listrik padam lima kali. Mikrofon mati, proyektor meredup, dan AC tak hidup di tengah ruangan yang penuh peserta.
Wajah-wajah peserta berubah—dari antusias menjadi prihatin. Dan yang menyaksikan langsung hal itu adalah Anggota Komisi VII DPR RI, Bane Raja Manalu.
Ia tak hanya datang membawa dukungan, tapi juga menyaksikan langsung apa yang selama ini menjadi jeritan warga: “Tigaras gelap, harapan kami meredup.”
“Saya malu,” ujar Nurdalin Sinaga, pemilik Hotel My Nasha Tigaras, dengan suara berat.
“Saya sudah berkali-kali berdiskusi dengan PLN pusat. Tapi listrik di Nagori Tigaras seperti ‘minum obat’—minimal tiga kali sehari mati lampu. Ini bukan hal baru. Sejak saya kecil, sampai sekarang usia saya sudah lebih dari 50 tahun, masalahnya masih sama. Tidak pernah selesai.”
Nurdalin bukan sekadar pemilik hotel. Ia adalah putri asli Tigaras yang kembali membangun kampung halamannya, berharap pariwisata bisa membawa perubahan.
Tapi, katanya lirih, “Bagaimana bisa kita menjual keindahan Danau Toba kalau tamu tidak bisa mandi air panas, presentasi putus-putus, dan anak-anak belajar dalam gelap?”
Suara lain datang dari pemilik Pantai Batu Hoda Tigaras, salah satu destinasi favorit wisatawan. Ia bahkan mengutarakan niat untuk berdemo ke PLN.
“Kami ini bukan hanya punya mimpi,” katanya. “Kami sudah investasi. Tapi siapa yang mau datang kalau listrik mati terus?”
Tak hanya listrik. Jalan berlubang, infrastruktur terbatas, dan sepinya pengunjung di hari biasa menjadi beban berlapis yang harus dipikul para pelaku usaha.
Mereka sudah berjuang dengan promosi mandiri, pelayanan prima, hingga pelatihan digital. Tapi bagaimana mereka bisa bersaing jika fasilitas dasar seperti listrik pun tak terpenuhi?
Bane Raja Manalu dalam sambutannya sempat menyampaikan bahwa Komisi VII akan membawa aspirasi ini langsung ke pusat.
Ia mengakui bahwa listrik adalah urat nadi dari segala sektor, terlebih pariwisata yang menuntut keandalan dalam pelayanan.
Kini, setelah peserta acara pulang dan ruang acara kembali kosong, yang tersisa adalah tanya yang menggantung di langit Tigaras: Kapan desa ini bisa terang sepenuhnya — tidak hanya karena matahari, tapi juga oleh cahaya perhatian yang tulus dari negara?

Di bawah langit yang mulai senja, warga Tigaras tetap menyalakan lentera semangat. Mereka masih percaya, bahwa suatu hari nanti, tidak ada lagi tamu yang komplain karena mati listrik.
Tidak ada lagi mimpi yang mati karena gelap. Tigaras, desa kecil di tepian Danau Toba, masih menunggu terang. Dan ketika terang itu datang, pariwisata tak hanya akan hidup—ia akan bangkit dan berkobar.
Penulis/Editor: Damayanti Sinaga



