spot_img

Masuk ke Huta Batak, Rasakan Atmosfer Kehidupan Leluhur

TOBA – Tempat ini adalah Huta Batak. Disebut demikian bukan karena di huta atau kampung ini, sekarang dihuni oleh orang Batak. Huta yang berada di Museum TB Silalahi ini, hanya sebagai pengingat, bagaimana era kehidupan para leluhur Batak dahulu.

Suasananya terlihat begitu damai. Rumah-rumah tradisional Batak yang masih mempertahankan coraknya, berdiri megah saling behadapan. Halamannya bersatu tanpa sekat pagar, menggambarkan zaman dahulu, para leluhur Batak terikat dalam persatuan yang saling menjaga, tanpa sekat.

Mempertahankan keaslian perkampungan Batak zaman dahulu, Huta Batak di museum TB Silalahi ini juga dipagari oleh bambu. Dahulu kala, masyrakat Batak Toba, membentengi perkampungannya dengan menanam pohon bambu yang rapat, sebagai pertahanan dari serangan binatang buas. Ciri lainnya, selalu memiliki gerbang sebagai akses masuk dan keluar yang disebut dengan Harbangan Ni Huta.

masuk ke huta batak
Seorang pengunjung Huta Batak duduk di atas losung (lesung) seolah sedang menumbuk pagi.(foto:ardi sitanggang)

Di tengah kampung, biasanya terdapat pohon Harihara (sejenis pohon beringin) untuk memberikan kesejukan Kepada penghuni rumah di huta. Dalam kehidupan sosial leluhur Batak, huta bukan sekedar komunitas, tapi di hutalah dimulai sistem perpolitikan dalam satu komunitas kecil.

Di Huta Batak ini, juga terdapat bangunan yang digunakan untuk rumah tinggal dan rumah tradisional sebagai sopo. Dahulu, di sopo inilah pemimpin huta berembuk dengan warga huta untuk bermusyawarah sebelum menentukan keputusan. Selain tempat berkumpul, sopo juga biasa digunakan untuk penginapan tamu dan juga sebagai tampat kerajinan, seperti bertenun ulos.

Huta dipimpin oleh ‘Raja huta’ keturunan dari marga pionir pendiri kampung. Marga pendiri huta disebut marga raja atau marga tano. Dalam hal ini hanya marga raja yang berkuasa atas tanah. Marga-marga lain yang juga tinggal di huta dinamakan marga boru. Mereka ini tidak mempunyai hak atas tanah.

TERKAIT  Ruhut Parumaen Dialap Banebane Dalam Adat Batak

Dalam satu kampung biasanya terdapat 20 sampai 30 rumah termasuk beberapa sopo. Orang-orang yang tinggal dalam satu huta, biasanya mempunyai hubungan kekeluargaan yang dekat.

Objek wisata sejarah budaya ini mulai dibuka setiap pukul Jam 09.00 WIB, dan hanya tutup di hari Senin. Huta Batak ini menjadi salah satu tujuan wisata andalah di Kabupaten Toba. Bahkan, selebritis papan atas tanah air, Luna Maya, sudah pernah manortor di sini.

Untuk menyamankan pengunjung, di Huta Batak ini telah tersedia berbagai fasilitas seperti penyewaan ulos dan pakaian lengkap adat Batak untuk berfoto. Tidak hanya itu, kita bisa juga menyewa kamera dengan spesifikasi kamera fotographer di tempat ini. Fasilitas pendukung seperti restoran, gazebo, musholla dan toilet juga tersedia.

Untuk merasakan atmosfer kampung leluhur pada zamanya, bro dan sista ninnA dapat mengunjunginya di Museum TB Silalahi, yang terletak di Jl. TB. Silalahi No.88, Silalahi Pagar Batu, Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Kondisi jalan ke tempat ini sangat bagus, dan lingkungannya dijamin nyaman. Sebelum masuk ke Huta Batak, bro dan sista bisa mengunjungi satu spot bersejarah, yaitu makam Raja Sisingamangaraja, tak jauh dari museum.

 

Penulis   : Dapot Sumardi Sitanggang
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU