NINNA.ID – Tahun baru kemarin mungkin masih punya kenangan. Barangkali diundang ke pesta dan pertemuan. Salah satunya mungkin acara baptisan. Kita datang ke sana.
Ada acara adat. Seorang bayi digendong kedua orang tuanya. Hadir juga orang tua kedua orang tua tersebut. Ompung tepatnya.
Ompung dari pihak perempuan membawa rombongannya. Membawa ikan mas untuk disajikan. Pada bayi, pada orang tua, pada pariban, pada besan, dan mungkin masih banyak lagi.
Setelah sesudah ikan mas diberikan, juhut namarsaudara diberikan. Ada parbagian jambar. Lengkap semuanya.
Begitulah prosesi adat setelah baptisan. Ada pemberian ulos. Ompung dari perempuan akan memberi ulos mangiring. Ada maknanya.
Biasanya anak pertama saja. Terkadang juga masih ada untuk anak selanjutnya. Lalu, orang mungkin bertanya. Apakah adat tardidi ini ada sejak Kristen hadir?
Tentu saja tidak. Adat pada tardidi ini hanya penyesuaian. Juga pengembangan. Sebelum Kristen, orang Batak sudah punya acara identik. Tidak sama persis.
Namun, semangatnya sama saja. Namanya Martutu Aek. Bayi akan dibawa ke homban. Ke mata air. Biasanya pada hari ketujuh setelah lahir.
Hadir banyak pihak. Ada Raja Adat. Ulu Punguan istilahnya. Ia akan membacakan doa. Lalu, ritual dimulai.
Ada cawan. Berisi air jeruk purut. Lalu, ditambah tetesan minyak. Bayi ditelentangkan. Di atas ulos. Telanjang dan suci. Anak pun diberi nama. Ia tak lagi ucok atau butet.
Ia sudah hadir dengan nama yang baru. Masih mungkin ada aksesori yang dibawa. Jika bayi laki-laki, tombak dibawa ikut serta. Laki-laki harus gagah.
Jika bayi perempuan, baliga dibawa ikut serta. Perempuan harus anggun. Itulah ritual Martutu Aek dalam tradisi Batak sebelum Kristen.
Setelah Martutu Aek, bayi dibawa. Umumnya ke onan. Bayi itu kini tak di rumah saja. Ia sudah masuk ke golongan masyarakat. Ia pun dibawa ke onan.
Artinya, Martutu Aek adalah pintu. Pintu masuk kepada masyarakat. Inisiasi istilahnya. Ia sudah resmi masuk komunitas masyarakat.
Tradisi Kristen, terutama Katolik, menggolongkan Sakramen Baptis sebagai sakramen inisiasi. Jadi, semangatnya cenderung sama.
Sama-sama sebagai pintu masuk. Cuma memang selalu ada perbedaan. Martutu Aek sifatnya ritual, Baptis sifatnya perayaan. Agak sama sebenarnya.
Hanya saja, Martutu Aek biasanya patuh pada hitungan hari. Setelah bayi tujuh hari, wajib diritualkan. Saat ini, sudah berbeda. Terserah kapan ada waktu.
Jadi, tak jarang bayi sudah setahun. Bahkan sudah berjalan atau sekolah. Baru kemudian dibaptis. Tetapi, semangatnya tetap sama.
Begitulah Tradisi Batak. Banyak ritualnya sesuai dengan agama. Terkadang kita jadi bingung. Apakah ini pengaruh agama? Padahal, sesungguhnya tidak.
Hanya memang, ada penyesuaian. Terkadang pengembangan. Adat memang harus disesuaikan, bukan ditinggalkan, apalagi ditanggalkan.
Penulis : Riduan Peberiadi Situmorang
Editor : Mahadi Sitanggang



