spot_img

Martonun Sambil Bertani, Hal Biasa di Desa Ini

TOBA – Jauh sebelum kehadiran bahan pakaian yang diproduksi oleh pabrik tekstil, leluhur orang Batak ternyata  sudah memiliki seni tradisional dalam membuat kain. Kain yang benangnya berasal dari buah kapas itu, dipintal lewat teknik pemintalan secara tradisionil yang disebut martonun. Hasil martonun, terciptalah sehelai kain yang kita kenal bernama ulos.

Martonun (bertenun) pada umumnya dikerjakan oleh kaum perempuan, baik itu remaja, ibu-ibu sampai nenek-nenek. Dahulu, untuk mendapatkan benang tidak semudah sekarang. Umumnya para penenun di Tanah Batak memintal sendiri kapas untuk dijadikan benang.

Benang yang sudah selesai dipintal itu selanjutnya dilumuri air nasi (dibuat semacam kanji), menggunakan alat gosok khusus agar benang menjadi lebih kuat (Mangunggas-Batak).

Martonun
Dua orang ibu ini sedang mewarnai benang untuk ditenun menjadi ulos.(Foto:asmon)

Untuk mewarnai benang, juga memakai bahan-bahan alami, seperti untuk membuat warna putih para penenun biasanya menggunakan tanah, yakni tanah kapur atau yang oleh masyarakat Toba disebut Tano Buro. Sedangkan untuk warna yang lain, ada yang menggunakan kunyit dengan campuran serbuk batu maupun arang serta dedaunan.

Proses martonun ini sebenarnya cukup rumit. Namun para ibu-ibu penenun yang dijumpai NINNA.ID beberapa waktu lalu, di Dusun Binangalom, Desa Hatinggian, Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Toba menyebutkan, bahwa tidak begitu sulit untuk belajar bertenun asal disertai tekad dan ketulusan hati.

TERKAIT  World Clean Up Day, Bersihkan Danau Toba di Hari Merdeka

Kegiatan martonun juga biasanya dilakukan di dalam rumah. Namun, khusus untuk komunitas ini memang sedikit berbeda dalam melakoni pekerjaan mereka dalam bertenun. Sebab para ibu-ibu ini menjadi penenun hanya sebagai sampingan, karena mata pencarian utama mereka adalah bertani.

Oleh karena itu, dalam menekuni aktifitas mereka dalam ”martonun” tidak melulu dikerjakan di lingkungan rumah masing-masing. Mereka kadang membawa peralatan tenun mereka ke bangunan sederhana yang berada di sekitar perladangan warga.

Bangunan sederhana yang didirikan oleh Bapak Manto Manurung itu mereka sebut dengan nama ”Rumah Seni Onan Simual”. Jadi saat beristirahat atau karena sudah  jenuh pegang cangkul maupun alat pertanian lainnya, mereka beralih untuk martonun.

Jika kebetulan hujan datang, mereka memanfaatkan waktu itu berteduh sambil martonun di rumah seni onan simual itu. Jadi jangan heran jika kita melihat ibu-ibu mangunggas dan memintal benang di antara bedengan tanaman jagung di ladang.

Penulis  : Asmon Pardede
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU