spot_img

Martarsik, Ritual Memanggil Hujan Tanpa Busana

SAMOSIR – Martarsik. Kata ini tidak begitu familiar, bahkan mungkin di kalangan orang Batak. Martarsik merupakan suatu kegiatan ritual yang dilakukan Raja Bius, khususnya Bius Salaon, ketika kemarau panjang melanda kawasan itu.

Martarsik dilaksanakan oleh istri para Raja XII dengan Marsihapor di daerah tanah Homban (daerah ini biasanya dimiliki oleh setiap marga di daerah bius).

Dalam ritual itu, para istri membuka pakaian hingga tak ada sehelai benang pun di tubuhnya. Mereka lalu mandi bersama, di daerah Pea Porohan-Salaon. Mereka terlihat bersuka ria. Tetapi, saat itu mereka lakukan di bawah alam sadar mereka. Ritual yang dilakukan ini sudah disertai roh-roh halus.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, Martarsik dimulai dari Marsihapor di ladang Homban, lalu menuju Pea Porohan yang sekarang menjadi  BUMDes Salaon Toba.

Selama perjalanan menuju Pea Porohan, mereka sudah disertai oleh roh-roh halus dalam kebaikan. Ada yang tertawa bahagia, ada yang kerasukan, berbagai sikap dan perilaku kebahagiaan mereka ungkapkan, walau bukan dalam keadaan sadar.

Martarsik  terlihat penuh sukaria, namun faktanya, mereka sedang dalam penderitaan karena kehausan yang disebabkan musim kemarau berkepanjangan. Mereka sesungguhnya terancam, karena kemarau telah merusak lahan-lahan pertanian mereka.

Di antara mereka, para permaisuri para Raja-Raja Bius ada yang menangis memohon hujan, sembari masuk dalam air Pea Porohan. Dalam keadaan tanpa busana, mereka akan berlari menuju Pea Siguti-Guti tanpa sehelai kain di tubuhnya. Sambil berlari, mereka terus memanggil hujan.

“Ro ho ro ho udan, Ro ho ro ho udan, Ro ho ro ho udan, Ro ho ro ho Udan, Ro ho ro ho udan, Roho Ro ho udan.”

Rapalan ini terus diucapakan, hingga hujan menyentuh tubuh mereka dan wilayah Bius Salaon.

TERKAIT  Ongkalon Holi, Menggali Kubur Memindahkan Tulang Belulang (I)

Ritual itu bukan hal yang tabu. Ini adalah sebagai wujud kepedulian Raja-Raja Bius terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Selama ritual ini berlangsung, tidak boleh ada lelaki yang melihat atau memandang rendah proses ritual itu.

Saat ritual ini sedang dijalankan, maka para lelaki dilarang keluar rumah, tidak boleh mengintip dan jangan sampai terlihat oleh mereka yang melaksanakan ritual. Jika itu terjadi, maka si lelaki itu akan dirajam, pakaiannya dilucuti, sampai dia mengaku ampun dan jera, tidak mengusik acara Martarsik di kemudian hari.

Beberapa orang para tetua dan beberapa orang Raja Bius yang saya temui, mengakui hal itu pernah dilakukan. Saya sangat beruntung ketika menemukan orang yang masih sangat persis mengingat ritual itu dilakukan.

Nah sekarang ini, apakah ritual itu akan terulang lagi di Salaon dalam konsep pariwisata? Dengan memperhatikan tata busana yang baik dan benar?

Salam budaya, semoga Bius dan seluruh ritualnya akan abadi kita temui di sini. Di Pulau Samosir, Negeri Indah Kepingan Surga.

 

Penulis    : Lifzen Sitanggang
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU