spot_img

“Marmahan Horbo” Itu Seru

NINNA.ID – Kegiatanku paling seru semasa SD di Samosir itu marmahan horbo. Marmahan horbo artinya menggembalakan kerbau. 20 tahun silam, rata-rata anak kecil bahkan remaja punya tanggungjawab marmahan horbo. Hampir tiap rumah tangga di Samosir dulu memelihara kerbau. Kerbau itu biasanya tiap malam ditempatkan di bawah Rumah Batak yang disebut Bara.

Di pagi hingga sore biasanya kerbau akan digiring ke pematang rumput. Karena di pagi hari biasanya anak-anak ke sekolah, orang tua ke ladang, kerbau-kerbau akan ditambatkan di Panggagatan (padang gembala) atau pematang rumput yang luas. Sebelum berangkat ke sekolah, kami biasanya akan menggiring kerbau ke pematang rumput.

Pulang sekolah dan seusai makan, kami akan berangkat bersama teman-teman untuk membawa kerbau kami ke Penggagatan yang lebih subur. Kami biasanya mencari rumput hijau, panjang dan berlemak, agar kerbau-kerbau kami kenyang. Jika pulang marmahan tapi kerbau kami tidak kenyang, orang tua akan memarahi anak-anak mereka. Sebab, kenyang atau tidaknya kerbau, akan kelihatan pada bentuk perutnya yang buncit.

Penggagatan paling hijau dan berlemak itu sudah pasti daerah yang jarang dilalui orang ataupun kerbau. Itu biasanya terdapat di bukit-bukit. Maka tak jarang saat marmahan horbo kami harus persiapkan sejumlah hal layaknya sedang berkemah. Benda paling kerap kami bawa di antaranya parang, korek api, sarung atau topi, makanan dan air minum.

Bagi wanita, sarung digunakan untuk penutup kepala dari terik Matahari. Parang biasa digunakan untuk membersihkan semak yang menghalangi jalan. Korek api biasanya digunakan untuk membakar ubi atau jagung.

Jika tidak ada makanan yang bisa kami bawa saat marmahan, kami akan mengumpulkan kayu-kayu atau ranting berjatuhan di bawah pohon. Lalu kami akan menghidupkan api. Jika ada jagung muda atau ubi, kami akan mengambilnya untuk kami bakar. Kadang kami permisi, tapi terkadang tidak karena pemilik ladang tidak di tempat. Kebiasaan ini tidak pantas ditiru.

TERKAIT  Peningkatan Kapasitas Pengelola Homestay di Desa Tipang

Pernah juga kami dimarahi sama pemilik pohon manga yang mangganya kami habisin. Pernah lari terbirit-birit dikejar sama pemilik ladang jagung karena kerbau-kerbau kami melahap sebagian tanaman jagungnya. Itulah sedikit cerita seru hidup semasa kecil marmahan horbo.

Danau Toba
Tiap sore, kami bersama membawa kerbau-kerbau untuk dimandikan di Danau Toba. Kenapa kami sangat mencintai Danau Toba. Karena di situlah tempat kami bebas berekspresi semasa kecil. Kami berenang, mandi, mandikan kerbau, mencuci pakaian, mengambil air untuk minum dan banyak hal lain bergantung pada air di Danau Toba. Seusai memandikan kerbau, kami akan membawa kerbau kami ke Bara.

Marmahan Horbo 2
Menarik kerbau ke danau untuk mandi.(foto:docninna)

Kini, kebiasaan marmahan horbo, mandi di danau, mencuci pakaian atau piring bahkan mengambil air untuk air minum di Danau Toba pun sangat jarang ditemukan di Kawasan Danau Toba, khususnya di Hutaraja, Lumban Suhi-Suhi Toruan, kampungku semasa SD.

Anak-anak tidak lagi ditugaskan untuk mengurus kerbau. Dulu, karena kami memelihara kerbau, banyak kotoran kerbau di halaman. Sekarang, kondisi Hutaraja tidak seperti itu lagi. Masih ada kerbau tapi yang mengurusnya adalah pria-pria dewasa. Jumlahnya pun tidak sebanyak dulu.

Sejumlah pihak setuju kerbau-kerbau tidak lagi ditempatkan di bawah Rumah Batak karena itu dianggap kumuh. Tapi itulah budaya asli suku Batak Toba dulu yang sejatinya di bawah Bara itu biasanya ada ternak. Entah itu kerbau, kambing, entok, ayam dan lainnya.

Didaftarkannya Kawasan Danau Toba menjadi Geopark, apakah akan mendorong pemerintah untuk melestarikan kebudayaan marmahan horbo? Dengan demikian, kegiatan marmahan horbo ini bisa dilanjutkan dari generasi ke generasi? Ataukah kelak bahkan seorang keturunan Batak akan tertawa dan heran melihat kerbau bisa tinggal seatap dengan manusia?

 

Penulis   : Damayanti Sinaga
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU