spot_img

Marlompan

NINNA.ID – Ada salah satu kebiasaan pada masyarakat suku Batak Toba yang kelihatannya sangat sederhana namun mengandung makna yang sangat dalam, Marlompan Lompan. Bila diterapkan atau dibiasakan sejak kecil, akan banyak membentuk karakter di masa depan. Mari kita telisik sedikit tentang kebiasaan yang unik ini.

Biasanya, budaya ini dilakukan oleh setiap orang yang ada di salah satu kampung, saat mereka akan membawa lauk ke halaman seraya mengumumkan: “Nion lompanku, idia lompan mu?”. Jika kau berikan lompanmu, akan kuberikan juga lompanku kepadamu.

Jadi timbul pertanyaan dalam benak kita, mereka sama-sama punya lompan (lauk) kenapa harus saling memberi layaknya seperti istilah orang–orang Eropa sana yang berbunyi “Take and give?”.

Dari sanalah dapat kita pahami, bahwa sejak zaman dahulu masyarakat suku Batak sudah sangat akrab sebagai mahkluk sosial, yang hidup berdampingan dan saling membutuhkan, tidak bisa hidup sendiri sendiri.

Tidak hanya di situ saja, misalnya jika anak-anak sebentar berkelahi, sebentar lagi mereka sudah akan berdamai kembali. Maka Batak punya filosofi  untuk itu “Situngging ninna dakdanak, sitokka sian namagodang”. Yang mengandung makna, orang tua tidak boleh mencampuri perkelahian anak anak, jika dicampuri akan terjadi kekacauan di antara yang bertetangga.

TERKAIT  Mangupa Upa Tradisi Menyemangati Anak

Demikian juga sebaliknya, jika orang tua bertikai atau berkelahi, tidak boleh ada larangan untuk anak-anak mereka bersahabat atau berdampingan. Memang kalau kita lihat di saat ini, sudah jarang para orang tua mengeluarkan kata-kata “tokka”, walaupun melihat anak-anak yang kurang sopan dan kurang beretika, dibiarkan begitu saja.

Maka tak heran pada zaman sekarang banyak kita jumpai anak-anak yang tidak mempunyai ahlak dan sopan santun karena hilangnya kebiasaan-kebiasan Batak yang dapat membina karakter tadi.

Beda hal dengan anak-anak di era tahun 70-an, anak-anak sangat segan berpapasan dengan gurunya. Namun di era teknologi ini, anak-anak tidak lagi sungkan dengan gurunya minum tuak di kedai.

Muncul pertanyaan, siapakah yang harus bertanggung jawab dengan pergeseran budaya ini? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah tanggungjawab bersama sebagai salah satu mahluk sosial yang beradab dan berbudaya.

 

Penulis   : Aliman Tua Limbong
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU