Maranggap: Dulu dan Kini

BERSPONSOR

NINNA.ID – Khas milik Tanah Batak. Terjadi ketika seorang ibu melahirkan. Biasanya, minimal selama seminggu, para tetangga akan datang. Tidak datang begitu saja lalu pulang. Kalau hanya datang dan pulang, itu namanya martandang. Nah, para tetangga itu atau kerabat akan menginap di rumah orang yang melahirkan.

Dulu sekali, tradisi maranggap ini dilakukan untuk berjaga-jaga. Semua hal harus dijaga: kekuatan mistis atau kekuatan lainnya. Hal ini terjadi karena memang, pada masa silam, situasi benar-benar tidak aman. Semua seperti saling memusuhi, semua seperti saling mengintai. Batak silam memang seperti suka untuk berperang.

Karena itu, ketika ada anak yang baru lahir, para kerabat dan tetangga akan datang untuk berjaga-jaga. Mereka tidak untuk numpang tidur. Mereka murni untuk berjaga-jaga seperti tuguran. Jadi, fokus mereka bukan untuk numpang tidur. Mereka menjaga ibu. Mereka menjaga bayi. Dari segala hal dan untuk semua hal.

Mereka menjaga ari-ari bayi agar tidak dicuri. Mereka menghalau kekuatan mistis agar tidak datang menghantui bayi yang baru lahir. Mereka memastikan keselamatan ibu. Itulah tugas orang yang maranggap. Namun, karena berjaga-jaga, tentu saja sangat membosankan tanpa tidur di malam gelap. Jadi, mereka membuat kesibukan.

BERSPONSOR

Banyak hal yang mereka sibukkan. Untuk saat ini, yang mereka sibukkan adalah main kartu leng atau main judi kecil-kecilan. Kaum ibu biasanya akan ngerumpi. Pihak keluarga menyediakan makanan dan minuman. Begitu selalu. Tak terasa, mereka pun bisa melampaui malam tanpa bosan. Tugas berjaga-jaga selesai.

Mereka kembali ke rumah masing-masing. Malam tiba, mereka datang lagi. Mereka mengadakan kesibukan yang sama untuk selama satu minggu: tuguran. Begitulah indahnya tradisi maranggap. Apakah pihak rumah atau ibu bayi senang? Tentu saja senang. Mereka nyaman karena banyak orang. Tetapi, selalu ada sesuatu di balik kesenangan.

TERKAIT  Mengenal Ritual Papurpur Sapata

Anak buha baju saya sedang lahir. Ibu-ibu datang. Mereka bercerita pengalaman mereka ketika melahirkan. Rumah selalu ramai. Kala itu, listrik belum masuk. Mereka harus pakai lampu petromak zaman dulu. Sering disebut lampu gas. Tetapi, begitulah, di balik kebahagiaan mereka selalu didampingi, mereka juga ternyata sering kesal.

Kesal karena lantaran paranggap sibuk main judi kecil-kecilan, keluarga justru melayani para paranggap. Kata mereka, paranggap terkadang datang justru untuk dilayani. Mereka cukup mengganggu ibu ketika sudah tidur. Mengganggu bayi juga. Sebab, mereka bersuara lantang ketika main judi. Tertawa. Kadang berteriak.

BERSPONSOR

Itulah kisah-kisah orang-orang tua dulu. Ternyata, di balik kebahagiaan mereka dikunjungi dan dijaga, ada pihak keluarga yang justru fokus untuk melayani paranggap lalu abai pada bayi dan ibu. Terkadang, istri jadi kesal dalam hati. Mereka pantas kesal karena mestinya dia yang harus diperhatikan, tetapi nyatanya ia justru diabaikan.

Para ibu itu seperti puas bercerita. Apalagi keesokan harinya, seorang bidan datang memandikan anak saya. Kadang, karena paranggap, anak rewel tapi tak dipedulikan, justru sibuk pada paranggap, ibu kesal sendiri. Ia pun mengalami sindrom baby blues. Ini penyakit masalah mental. Para paranggap mestinya sadar.

Sebab, dulu, fungsi paranggap ya untuk tuguran, bukan untuk dilayani. Bukan untuk mengabaikan ibu bayi dan bayinya. Itulah pengetahuan-pengetahuan modern yang mengingatkan kita. Secara tradisi, makna maranggap sangat baik. Namun, terkadang, dalam perjalanannya, beberapa justru mengganggu suasana hati ibu.

 

- Advertisement -

Penulis    : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor       : Mahadi Sitanggang

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU