spot_img

Mangamoti, Tradisi Menyambut Panen Raya

NINNA.ID – HUMBAHAS

Dalam tradisi Batak, musim panen padi bukan sekedar kegiatan mengumpulkan hasil kerja keras selama ini. Sebelum mulai memanen, biasanya ada tradisi turun temurun yang dilakukan sesuai pesan nenek moyang. Namun tradisi menyambut panen ini bisa berbeda di satu desa dengan desa yang lain.

Di Desa Tipang Humbahas, menyambut masa panen itu disebut mangamoti. Tradisi mangamoti ini diperkirakan telah dilakukan oleh masyarakat Desa Tipang secara turun temurun sejak 300 tahun yang lalu.

Tradisi mangamoti dimulai dengan petani yang memastikan, apakah umur padi sudah siap dipanen. Jika sudah waktunya untuk dipanen, berkumpullah para petani menyusun rencana mangamoti itu.

Rembuk para petani itu biasanya membicarakan dan menentukan hewan kurban apa yang akan disembelih – biasanya yang disembelih adalah ternak babi. Mereka lalu menyepakati hari, tanggal dan tempat, bahkan waktu persis pelaksanaan sudah ditentukan dalam rembuk itu. Lalu secara lisan, pesan pelaksanaan mangamoti disampaikan ke seluruh warga desa.

TERKAIT  Warna Danau Warisan Leluhur di Danau Toba yang Memikat Hati

Pada hari pelaksanaan,  warga berdoa bersama menyambut panen raya. Daging kurban yang telah ditetapkan, dibagi secara merata kepada warga. Pesan para leluhur mengharuskan, daging kurban itu harus disantap bersama kelurga masing-masing.

Masa panen raya di Desa Tipang biasanya jatuh pada bulan Juli dan untuk panen selanjutnya diperkirakan jatuh pada bulan Januari atau Februari. Jika tertarik melihat tradisi di Desa Tipang ini, perlu menepuh perjalanan selama satu jam dari Kota Dolok Sanggul.

Mangamoti sering juga disebut mamona-mona. Kata ini berasal dari kata mambona-bona yang berarti memulai. Kemungkinan juga tradisi yang mirip dengan mangamoti dilakukan di desa lain di kawasan Danau Toba.

Penulis : Gomgom Sihombing

Editor   : Mahadi Sitanggang

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU