spot_img

Mambukka Debata Ni Parmanuhon (I)

NINNA.ID – Di masanya, ada saat masyarakat sangat tergantung dengan kearifan lokal semisal melihat bulan, musim kemarau dan wabah penyakit. Ada saatnya masyarakat masih sangat percaya kata Datu (dukun). Tak jarang kita dengar seseorang menghadirkan Datu untuk mewujudkan hasratnya pribadi: untuk berhasil menjadi pemimpin, orang kaya, bahkan perjodohan. Segala permintaan dapat dilakukan tergantung keahlian taleñta yang dimiliki Datu tersebut.

Pernah dengar seorang Datu menerbangkan Losung (lesung)? Dengan rasio akal sehat kejadian itu tidak bisa diterima, tapi ada kisah Marga Limbong, julukannya Guru Elias mampu melakukan itu.

Untuk kali ini kami ingin menyajikan MAMBUKKA DEBATA NI PARMANUHON.

Tentu hati kita bertanya-tanya apapula ini kok jadi cerita ayam? Seperti kita ketahui bersama, ayam mampu membaca waktu. Jelang pagi ayam berkokok 3 kali yakni pukul 03.00 WIB, 04.00 WIB dan 05.00 wib. Selain itu bagi yang memercayai, konon ayam dapat memberitahu orang yang akan mau meninggal.

Dalam ritual Batak, ayam adalah sesajen yang sangat diutamakan. Jenis ayam yang biasanya digunakan dalan ritual Batak sebagai berikut: Mira Polin, Mira Sialtong, Mira Hoda, Manuk Putih, Jarum Bosi, Sabur Bintang, Simarihan Ihan, Manuk Pogong.

Semuanya yang disebut di atas memiliki makna dan tujuan masing-masing. Dan cara untuk menyajikannya juga bermacam-macam, ada yang dibakar ada yang dimasak ada pula yang dilepas hidup-hidup tergantung bentuk acaranya.

Terkait melibatkan ayam, budaya Batak mengenal ritual MANUK DIAMPANG. Ampang adalah anyaman rotan berbentuk keranjang, namum dasar keranjang tersebut berbentuk segi panjang sementara anyaman rotan tersebut bulat ke atas terpasang 4 tiang penyangga dari rotan besar (Sulpi).

TERKAIT  Pagelaran Seni Budaya Ala SMA Mengundang Decak Kagum

Biasanya Ampang (Jual) digunakan untuk tempat padi pada musim panen. Setelah padi dikumpulkan, lalu untuk membersikannya, padi dimasukkan pada ampang lalu dikipas pakai tampi (Jual). Selain itu ampang dipergunakan untuk Debata Ni Parmanuhon dan acara sakral Mandudu (menombak kerbau) oleh panitia.

Mambukka Debata Ni Parmanuhon adalah suatu acara tatkala seorang raja bermimpi buruk. Maka untuk mengartikan mimpinya, diperlukan seorang ahli perbintangan. Selanjutnya ahli perbintangan menerangkan sesuai talenta yang telah diberikan ilahi kepadanya yang disebut Jaha jaha (Surirang). Jaha Jaha tersebut diserahkan kepada Datu Pangaraksa yang mampu melihat tanda-tanda serta Ulpukan (yang harus dilakukan). Untuk prosesnya dipersiapkan Santi, ayam muda (lakka lakka andalu), cawan berisikan air serta jeruk purut, Ampang dan tampi.

Pertama, Datu melantun Tongo tongo atau doa, “Asa hutonggo ma hupio debata gurukku, badia ni gurukku paisada, paidua, paitolu, paiopat, pailima, paionom, papitu parsadaan, hamu do daba ompung namian diraga raga nabolak, namangunsande di batu siarea namaniop tali siubaron nasahat marpangidoan tu opputta mulajadi. Umbahen nahutonggo hami pe hamu ompung dang namanjou mangan dang namanjou minum. Asa tuat do hamu ompung sian ginjang ni ginjangan, sian langit ni langitan, sian ombun sipitu lampis, sian langit sitolu tikko sian bintang marjorbut tu hotang marsunge marhite batu martangga tangga, batu martinggi tingi boan ma daompung sigabe gabe dohot sihoras horas marhite Debata ni oarmanuhonon.

 

Penulis  : Aliman Tua Limbong
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU