spot_img

Malliting Bah Festival Sisingamangaraja di Sipinsur

NINNA.ID – Festival Raja Sisingamangaraja sudah selesai. Tak banyak yang tahu saya termasuk tim kreatif di dalamnya mendampingi Sisoding Event Organizer. Saya juga bersama Harmoko Sinaga, orang di balik Sanggar Seni Tonggi. Ketika acara berlangsung, saya menarik jarak. Saya bertanya-tanya kepada pengunjung. Saya bertanya-tanya layaknya pengunjung.

Saya memulai dari fakta. Fakta bahwa ada yang tak setuju dengan acara ini dilakukan di Sipinsur. “Harusnya di Bakara dibuat,” saya memulai pembicaraan. “Di mana-mana bisa lae. Kan hanya perayaan,” begitu ia menjawab. “Tapi kan lebih baik di Baktiraja,” sahutku. Ia mengangguk. Namun, katanya, di mana pun tetap baik dan tidak mengurangi makna.

Saya menjumpai orang lain. Saya tetap memosisikan sebagai orang yang agak keberatan. Namun, tetap respons yang sama yang saya terima. Pada orang selanjutnya. Pada orang selanjutnya. Demikian seterusnya. Pada intinya, mereka sangat moderat: di mana pun, selama tujuannya baik, Festival Raja Sisingamangaraja sah untuk dilakukan.

Festival Sisingamangaraja 2
Sanggar Maduma, menampilkan moment ketika Putri Lopian mempersiapkan diri sebelum ke Medan perang.(foto:riduan)

Lalu, di mana orang yang kontra? Mungkin saja tidak datang pada saat itu. Namanya kontra, berarti kemungkinan besar tak datang. Atau, mungkin saja datang, tetapi kebetulan tidak saya tanyakan. Kemungkinan lain, lebih banyak yang setuju, maka saya tak berjumpa dengan mereka. Seingat saya, mulai dari parkiran, saya bertanya lebih pada 10 orang.

Saya tiba pada pagi hari. Dingin sekali. Saya takut akan datang hujan. Jika hujan datang, sebagai gejala alam, itu akan sangat mengganggu. Ketakutan saya sangat berdasar. Sebab, pagi diawali dengan mendung. Angin juga lumayan kencang. Sipinsur memang selalu tak lepas dengan angin kencang. Sehari sebelumnya, pas GR, angin juga kencang. Mendung. Dingin.

Namun, cuaca pelan-pelan membaik. Matahari bersinar. Gerimis atau mungkin hujan tampak di Baktiraja. Tetapi, tidak di Sipinsur. Alam mendukung, begitu saya berpikir. Pak Bupati pun datang dengan gagah. Ia beserta Ibu. Jajarannya disambut Mossak dari Sanggar Nabasa. Di ujungnya, mereka disambut Gondang Sabangunan dari Martabe.

Sanggar Tonggi memainkan peran kunci dengan Tortor Panomunomuon. Yang paling menarik, rombongan Bupati juga disambut Sanggar Pearung dengan anak-anak kecil. Mereka lucu sekali. Saya melihat jajaran Bupati Humbahas tersenyum. Mungkin mereka teringat pada masa kecil ketika bermain karet, marjalengkat, dan sebagainya, dan sebagainya.

TERKAIT  Kisah Penemuan Husapi, Alat Musik Tradisional Batak

Saya tak menyangka Pak Bupati hadir mengingat pro kontra sebelumnya. Namun, beliau hadir. Bahkan, Ibu bupati bertahan sampai penutupan acara. Begitu juga dengan Pak Wakil. Mereka setia menonton. Ada satu momen menarik. Ini saya tahu persis. Kebetulan, anak didik kami dari Sanggar Maduma memerankan fragmen Sisingamangaraja.

Sepanjang fragmen, semua penonton terdiam. Mereka seperti terhanyut oleh jalan cerita. Ini di luar bayangan saya. Sebab, pemeran masih anak sekolah, bukan profesional. Waktu latihan pun sangat minim. Namun, mereka menghayati perannya. Penonton pun terbius. Nyaris tak ada suara ribut meski ramai.

Saya mengambil video. Sesekali, saya melihat Ibu Bupati. Ia mengambil tisu, mengelap matanya. Cukup sering. Begitu juga dengan yang lain. Bahkan, seorang fotografer melakukan hal yang sama. Sampai akhirnya kudengar anak-anak berkata: kek nonton film bah. Itu sangat menarik bagi saya.

Mungkin Bu Bupati dengan yang lain sangat menjiwai fragmen itu sehingga dengan rasa hormatnya pada pahlawan, mereka pun terharu. Memang begitulah. Kisah perjuangan Raja Sisingamangaraja sangat mengharukan kita. Ia orang besar. Layak dihormati dengan cara apa pun, termasuk dengan festival seperti ini. Acara berlanjut. Keharuan tetap mengemuka.

Festival Sisingamangaraja 3
Pemeran Sisingamangaraja dan Putri Lopian dalam Tari Kreasi Sisingamangaraja disuguhkan Sanggar Seni Tonggi.(foto:riduan)

Sanggar Tonggi memerankan juga perjuangan Raja Sisingamangaraja. Lebih rapi. Lebih bertenaga. Mereka terkesima. Saking terkesimanya, mereka lupa untuk memberi sumbangan seperti ketika penyanyi sedang bernyanyi. Sanggar Nabasa muncul lagi. Mereka beserta anak-anak membawakan Mossak. Saya tertarik.

Hal seperti ini yang harus dilakukan: melibatkan anak-anak. Itulah yang dilakukan Pearung dan AORS. Acara berlanjut. Keseruan bermunculan. Kadang lucu. Kadang menggelikan. Kadang mengharukan. Semua bercampur. Gerimis sempat datang. Tetapi, hanya memberi salam. Gerimis itu seolah berkata: saya tak akan mengganggu.

Karena itu, saya bangga menjadi bagian kecil dari acara ini. Bangga sekali meski hanya bagian kecil. Apalagi ketika anak-anak berkata: malliting acara on bah. Anak-anak sanggar saya juga bahagia. Padahal, hampir dua minggu latihan, seminggu belakang, saya hampir selalu marah. Namun, mereka tak merasa dimarahi. Mungkin, jiwa keguruan saya masih ada.

 

Penulis   : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU