spot_img

Makna Gondang Dalam Budaya Batak (II)

NINNA.ID – Tahapan – tahapan sebuah acara Gondang Batak Toba tidaklah sama, hal itu tergantung kebiasaan daerah masing masing dan juga tergantung bentuk acaranya. Ada yang memulai acaranya sore hari hingga diakhiri keesokan harinya sampai pada sore hari. Ada juga yang memulai dari malam hari hingga keesokan harinya sampai sore hari.

Nah, kali ini mari kita telisik jika Gondang Batak dilaksanakan untuk menghormati orang tua yang meninggal dalam keluarga.

Beberapa daerah di Kabupaten Samosir masih melestarikan budaya dan adat istiadat yang disebut Boru Partohon (ahli waris).

Jika orang tua laki-laki yang meninggal maka yang  menjadi Partohon atau ahli waris adalah Boru Siakkangan (putri paling sulung). Jika yang meninggal adalah orang tua perempuan, maka yang menjadi Boru Partohon adalah Boru Siampudan (putri paling bungsu).

Dalam proses budaya seperti itu, biasanya dilakukan pada malam hari dengan Makkuling Gondang, Si Boru Partohon akan diberi warisan berupa ladang. Istilah warisan ini dalam budaya Batak disebut Ulos Soraburuk bersama cincin dan beberapa lembar ulos.

TERKAIT  Parade Ulos On The Street di Pulau Samosir Memukau

Acara panortoron pun akan dilakukan dari Namarhaha Maranggi (abang adik), hingga marga boru dan pihak hulahula. Ke esokan harinya acara Maralaman pun akan dilakukan,dengan membawa jenazah dari rumah dengan diiringi Makkuling gondang.

Kemudian setelah itu, lagi dan lagi, acara Pangolopion dari namar haha maranggi pun akan dilanjutkan dengan Marsiolopolopan. Setelah itu marga boru pun akan melakukan Panortoran Marsomba kepada hulahulanya, dan hulahula pun akan  memberi beras Sipirni Tondi dan ulos kepada Pamoruannya tersebut.

Dalam prakteknya, suku Batak Toba mengakui bahwa Gondang diyakini dapat menjadi penyambung lantunan kata-kata atau doa kepada Mulajadi Nabolon (Tuhan yang dikenal dalam konsep kepercayaan suku Batak kuno)

 

Penulis      : Aliman Tua Limbong
Editor         : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU