spot_img

Makam Sisingamangaraja Ada Di Mana-Mana: Balige hingga Parlilitan!

NINNA.ID – Ada kabar mengejutkan. Saya tak tahu kebenarannya. Katanya, makam Sisingamangaraja di Parlilitan dibongkar untuk dicuri.

Kabar itu masih berupa postingan di media sosial. Dibumbui dengan videonya meski tak lengkap. Postingan itu sudah cukup viral. Sudah dibagikan ratusan kali. Komentar di media sosial sudah sangat ramai.

Saya tidak tahu kebenaran yang valid. Karena itu, saya menjapri seorang calon Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Victor Herman Silaen. Kebetulan, tahun ini, saya juga diusulkan Pemkab Humbang Hasundutan untuk ikut TACB. Jadi, saya bisa sedikit leluasa untuk bertanya. Kata Victor Silaen dalam balasan pertanyaan saya bahwa tak benar terjadi pembongkaran makam.

Berita yang beredar itu berlebihan, begitu Victor berkata. Bahwa memang ada pengambilan tanah, Victor Silaen tak menampik. Namun, pengambilan tanah itu diambil dari luar makam, bukan lokasi makam. Dan, dari berbagai klarifikasi, alih-alih mencuri, mereka justru mendapatkan kembali belulang leluhurnya. Dengan cara yang ajaib tentu saja.

Konon, ada nenek yang sudah lama meninggal. Dan, ternyata, ada bagian tubuhnya yang tertinggal. Nenek itu tak mau kehilangan anggota tubuh meski sudah dalam keadaan meninggal. Maka, entah dari gelombang mana, ia bisa hadir ke mimpi keturunannya. Dalam mimpi itu, si nenek yang sudah meninggal membuat kesaksian dan pengakuan.

Sebagai mimpi hanya sekali, barangkali itu hanya mimpi tidur. Namun, jika sudah berkali-kali, berarti ada energi yang butuh perhatian. Biasanya ada petunjuk untuk itu. Dan, petunjuk itulah keajaiban. Oh, iya, saat ini, kata Paulo Coelho, keajaiban tak lagi seperti sulap: mati jadi hidup, sakit jadi sehat seketika, lumpuh bisa berjalan, buta bisa melihat.

Keajaiban sudah hadir dalam berbagai petunjuk. Mungkin berupa kode-kode tertentu. Siapa bisa jeli membaca petunjuk itu, maka ia dapat keajaiban. Beruntunglah si nenek yang sudah meninggal. Berbagai petunjuk yang ia berikan mungkin bisa dibaca. Bermula barangkali dari kegelisahan keturunannya. Mungkin sakit. Mungkin kepikiran terus.

Mungkin terbawa mimpi. Sekali. Dua kali. Terus berulang. Kalau sudah begini, petunjuk sudah bermunculan. Maka, keturunannya mencoba membaca petunjuk itu. Dan benar saja, mereka konon diarahkan pada sebuah tempat. Tempat itu di Desa Sibulbulon. Ini desa keramat. Dan, tepat pula, petunjuk itu membawa mereka dekat pada makam keramat Sisingamangaraja.

Jadi, sudah fiks, bukan di areal permakaman Sisingamangaraja. Ini di sebuah tempat di bawah bambu. Konon, sangat dekat dengan areal permakaman Sisingamangaraja. Karena tak permisi, warga lalu curiga. Curiga langsung berubah jadi vonis. Dan, vonis itu menggemparkan: pencuri makam Sisingamangaraja. Dan, akhirnya, virallah kisah tersebut.

TERKAIT  Menggali Sejarah Si Raja Batak

Sebagaimana diketahui, kebenaran selalu datang terlambat. Jadi, perlu lebih sabar untuk menunggunya. Maksud saya, mari mengklarifikasi: mereka bukan pencuri. Mereka adalah para pejuang memecahkan kode. Memecahkan petunjuk. Dan, akhirnya, mereka berhasil membuat sebuah keajaiban. Ilmu metafisika apa pun belum dapat mengujinya.

Namun, saya selalu percaya pada sebuah keajaiban. Berkali-kali saya mendapat kesaksian tentang itu. Ada makam leluhur kami yang pernah hilang. Ini dari keluarga ibu. Dari mimpi, ia menunjukkan makamnya. Dari keluarga ayah ada lagi. Ini bapak dari oppung saya. Ia meninggal pas masih lajang. Lalu, mengapa ada oppung saya, ayah saya, dan kini ada pula saya?

Ini terkait tradisi. Jadi, dulu, ada sebuah kebiasaan. Jika Si Abang meninggal, Si Adek seperti wajib menikahi istri Si Abang. Mangabia namanya. Jadi, ayah dari oppung saya ini tidak terlalu terima. Maka, selepas kawin, ia pun pergi merantau jauh sekali. Di tanah rantau, ia meninggal. Kami sudah melupakannya. Namun, ia hadir dengan berbagai petunjuk. Termasuk dalam mimpi.

Singkat cerita, kami menemukannya. Sejak itu, petunjuk lain tak ada lagi. Mungkin, ia sudah bahagia. Definisi bahagia bagi orang mati mungkin berbeda dengan orang hidup. Bahagia setelah mati mungkin membuatnya jadi tulus. Jadi tak terikat lagi pada kenangannya. Dan, ia pun tak pernah muncul lagi. Ia bahagia di alamnya tanpa pernah memberi petunjuk lagi.

Saking bahagianya, ia lupa pada kenangannya. Hampir sama sebenarnya dengan bahagia versi manusia hidup. Selagi ia bahagia, ia sering kali lupa teman, lupa keluarga, lupa Tuhan, bahkan lupa diri. Dalam lajur berpikir demikianlah saya membaca para tersangka pencuri makam Sisingamangaraja di Parlilitan itu.

Tapi, saya jadi heran, makam Sisingamangaraja sebenarnya berapa sih? Kok ada di Balige? Ada di Tarutung? Ada di Bakara? Dan, ada pula di Parlilitan? Ajaib sekali. Seorang manusia jasadnya di mana-mana. Sepertinya ada yang salah ini. Karena itu, agaknya kita perlu lebih jeli membaca petunjuk supaya keajaiban tentang makam Sisingamangaraja bisa terbongkar. Semoga!

 

Penulis   : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU