Parapat, NINNA.ID- Di sebuah sudut Batalyon 131/Braja Sakti, di antara hiruk-pikuk kehidupan para prajurit dan keluarganya, lahirlah sebuah cerita sederhana namun sarat makna tentang ketekunan dan cinta.
Di sana, Mak Raphael—seorang ibu rumah tangga—menemukan benang takdir yang menuntunnya menjadi pengrajin sepatu rajut yang kini tengah menginspirasi banyak orang.
Awal mula kisahnya sederhana. “Kami ibu-ibu Persit diajari membuat tas rajut,” tutur Mak Raphael kepada NINNA, Minggu 1 Juni 2025.

Dari sekadar keterampilan tangan, aktivitas merajut itu kemudian berubah menjadi sebuah hobi yang melekat erat di hatinya.
“Awalnya saya buat satu untuk dipakai sendiri,” kenangnya. Namun, benang-benang itu tak hanya menenun tas, tapi juga menenun mimpi-mimpi baru.
Mak Raphael pun mulai membuat tas berbeda motif untuk orang tua, hingga oleh-oleh saat cuti tahunan pulang kampung.
Benang demi benang itu menjalin lebih dari sekadar produk; ia menenun rasa sayang, kebersamaan, dan kehangatan.

“Bisa karena terbiasa,” ucapnya, senyum kecil menghiasi wajahnya.
Dari sekadar mengisi waktu, rajutannya kini berkembang menjadi hobi sekaligus bisnis yang menebar kebahagiaan.
Sejak 2022, Mak Raphael memberanikan diri menekuni bisnis sepatu rajut dengan modal awal yang sederhana: Rp1.000.000.
Berbekal benang polypoline dan benang sembur yang kuat, mengkilap, tahan lama, dan tak mudah berserabut, ia menciptakan sepatu-sepatu rajut yang tak hanya cantik tapi juga awet.
“Harganya? Satu pasang sepatu Rp250.000, sendal sepatu Rp200.000, sendal rajut Rp100.000,” jelasnya penuh semangat.
Margin keuntungannya memang tak besar, berkisar Rp50.000 sampai Rp100.000 per produk.
“Untung sedikit yang penting lancar,” katanya lirih namun penuh ketulusan, mencerminkan filosofi hidup yang lebih dari sekadar angka.
Namun, jalan rajut tak selalu mulus. Ada kalanya pasar lesu, dagangan tak laku, dan semangatnya redup.
“Sering terjadi saat tas dan sepatu tidak laku,” akunya. Tapi Mak Raphael tak lantas menyerah.
Ia menemukan cara sederhana untuk mengusir kejenuhan: “Biasanya saya ganti jenis yang dikerjakan. Kalau bosan buat tas, saya buat sepatu. Bosan sepatu, saya buat sendal. Kalau bosan sendal, saya buat kotak tisu.”
Dalam benang-benang rajut Mak Raphael, kita menemukan keteguhan seorang ibu yang tak pernah berhenti belajar dan beradaptasi.
Setiap simpul benang adalah simpul ketekunan. Setiap rajutan adalah rajutan harapan.
Mak Raphael telah membuktikan bahwa bisnis bukan hanya tentang untung besar atau modal yang fantastis.
Bisnis juga tentang cinta yang dirajut dengan sabar, tentang kreativitas yang tak pernah padam, tentang ketulusan yang menjadikan setiap karya bernyawa.
Dan dari sudut batalyon yang sederhana, sepatu rajut Mak Raphael kini bukan hanya alas kaki—ia adalah cerita tentang ketegaran, tentang seorang ibu yang tak takut menenun mimpi dari seutas benang, dan tentang harapan yang akan terus berjalan kemanapun kaki-kaki itu melangkah.
Yanti, salah seorang konsumen yang pernah membeli produk Mak Raphael mengakui produk warga Sipanganbolon ini bagus, cantik dan tahan lama.
“Saya orangnya sangat aktif. Biasanya sepatu saya tidak bisa tahan sampai 2 tahun. Sepatu yang saya beli dari Mak Raphael sudah berusia 2 tahun dan masih kokoh. Hari ini saya beli lagi dengan motif yang beda ke Gerai UMKMnya” ujarnya.
Lokasi penjualan produk rajutan Mak Raphael terletak di Pantai Bebas Parapat. Di lantai dasar persis depan lokasi permainan ayunan bertuliskan: GERAI UMKM PERSIT KORAMIL 11. Atau Sobat NINNA juga bisa memesan produk rajutan Mak Raphael lewat no HPnya di 0813-7176-1653.


Penulis/Editor: Damayanti Sinaga



