spot_img

RUHUT

Lotung Lotung Saur Matua Dalam Budaya Batak

NINNA.ID – Ketika seseeorang yang sudah lanjut usia meninggal dunia, sering kita dengar istilah Sari matua dan Saur matua. Sari matua memaksudkan, yang meninggal itu masih memiliki anak yang belum berumahtangga. Jadi, walaupun umur yang meninggal dunia sudah sangat sepuh, tetap tidak bisa disebut saur matua. Sebaliknya jika anaknya suda kawin semua, walaupun umurnya belum tergolong sepuh, akan disebut Saur matua.

Pada umumnya, acara bagi yang sari matua dilakukan mulai pagi hari hingga sore hari. Di beberapa daerah, walaupun acara partangiangan, tetap dilakukan Boru Partohon. Boru partohon maksudnya, boru yang memiliki wewenang dan tanggungjawab ketika orang tuanya meninggal.

Ketika bapak yang meninggal, maka putri sulung (Boru Siangkangan) yang menjadi partohon, dan jika ibu yang meninggal, maka puteri bungsu (Boru Siampudan) yang menjadi partohon.

Sebagai boru partohon saat ibu yang meninggal maka memiliki hak menerima warisan orang tuanya, beruba cincin di jari tangan kanan. Jika bapak yang meninggal, maka boru partohon berhak atas satu persil ladang, yang dalam budaya Batak disebut ulos sora buruk.

TERKAIT  Membuat Kepincut Hati IL Nomensen dan Presiden Jokowi

Dalam penyerahan ladang tersebut harus diadati dan dihadiri keluarga sesepuh. Untuk cincin dan kalung tadi diminta dari pihak hula-hulanya.

Selain cincin, berhak juga meminta lahan perladangan. Namun jika tidak ada, hati boru partohon harus tulus dan iklas.  Biasanya, sebagai boru partohon, setengah dari biaya pengebumian itu ditanggunya.

Untuk yang disebutkan Saur matua, acara dimulai malam hari dengan cara meminta Ulos Saput dari pamupus dilanjutkan Ulos Sampe Tua kemudian Ulos Tutup Batang dari pihak  hula hula partali tali, dilanjutkan hula hula namartinodohon atau abang adik.

Setelah acara adat selesai, baru dibuka dengan acara kebaktian oleh sekte yang bersangkutan. Acara mambuat tua nigondang pun digelar. Budaya Sari matua dan Saur matua ini, tidak selamanya sama persis walau dalam konteks adat Batak. Bisa jadi, ada perbedaan di masing-masing tempat, sesuai dengan kebiasaan turun termurun.

 

Penulis   : Aliman Tua  Limbong
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU