Listrik di Tigaras Mati Terus, Gardu Transmisi Tak Kunjung Datang

Tigaras, NINNA.ID-Di tepi Danau Toba, di sebuah sudut kecil bernama Tigaras, berdiri Hotel My Nasha, yang bagi pemiliknya, Nurdalin Sinaga, bukan hanya tempat usaha, tetapi juga saksi bisu perjuangan panjang warga setempat melawan gelap.

Sudah bertahun-tahun listrik di Tigaras kerap padam, dan setiap kali lilin dinyalakan, harapan warga pun padam bersama cahaya listrik.

Di tengah keluhan yang menggema di dinding hotel, Nurdalin Sinaga pun memilih bersuara, membawa keresahan warga Tigaras ke PLN Simalungun Pematang Raya.

“Bayangkan, hanya satu ranting kecil saja jatuh ke kabel, seluruh listrik di Tigaras bisa padam. Begitu rapuhnya aliran hidup kami ini,” keluh Nurdalin mendengar alasan PLN tentang mengapa listrik sering mati.

Saat PLN akhirnya datang, jawaban yang mereka berikan membuat dada Nurdalin semakin sesak.

“Bu, ini karena posisi kita yang paling ujung, selalu terimbas masalah dari hulu,” jelas petugas PLN yang datang menjumpai warga di Hotel My Nasha Tigaras, pada  Kamis 29 Mei 2025.

Nurdalin menahan getir. “Kalau memang masalahnya pohon, kenapa dari dulu tidak diantisipasi? Kan kasihan warga yang usahanya terhenti setiap kali lampu mati,” katanya.

Nurdalin menuturkan, sudah sejak kecil, puluhan tahun lalu, masalah listrik di kampung ini tak pernah berubah. “Aku sudah umur lebih dari 50 tahun, tapi masih saja mati lampu begini. Sampai kapan kami harus begini terus?”

BERSPONSOR
LISTRIK TIGARAS
PLN temui warga Tigaras bahas masalah padamnya listrik. (foto: istimewa)

Nurdalin tak hanya bicara untuk dirinya. Ia bicara untuk seluruh warga yang listriknya bukan hanya menerangi rumah, tetapi juga menjadi denyut nadi usaha kecil, warung, warteg, bahkan kebutuhan akses internet untuk mendukung  pendidikan dan bisnis masyarakat.

“Ini bukan cuma soal bisnis,” ujarnya, menegaskan. “Ini tentang kehidupan sehari-hari kami. Tentang anak-anak yang belajar di rumah, tentang orang-orang yang mau cari nafkah.”

PLN sendiri mengakui keterbatasan mereka: Tigaras tidak punya gardu transmisi sendiri. Jaringan listriknya melewati banyak desa, dan Tigaras adalah titik paling akhir—tempat semua masalah di jalur itu bermuara.

TERKAIT  Ukraina Serang Rusia di Kota yang Dikuasai Rusia

“Kalau di Sidamanik, di Sait Buttu, mungkin aman-aman saja,” cerita Nurdalin.

- Advertisement -

“Tapi kami di sini selalu jadi korban. Begitu ada ranting jatuh di Sipolha, listrik kami langsung padam. Hanya satu ranting kecil.”

Dengan suara pelan, Nurdalin menghela napas. “Kami ini di ujung. Rasanya kayak selalu dapat giliran terakhir. Semua kerusakan di jalur PLN pasti sampai ke kami.”

Meski PLN menjanjikan akan mengganti kabel dengan kabel isolasi sepanjang dua kilometer—agar ranting atau binatang tak berpotensi lagi mematikan aliran listrik—Nurdalin tahu itu bukan solusi permanen.

“Kalau mau jangka panjang, harusnya ada gardu transmisi di sini. Tapi katanya itu mimpi besar. Sampai lima atau sepuluh tahun ke depan pun belum tentu. Sementara hidup kami menunggu terus,” katanya.

Dia tak habis pikir, bagaimana bisa masalah listrik di kampungnya tak kunjung selesai. “Apa memang orang kampung nggak pantas dapat listrik yang layak?” tanyanya lirih.

Nurdalin sadar, perjuangan ini tak akan selesai kalau hanya ia sendiri yang bersuara. Ia mengajak warga untuk lebih aktif melapor ke pusat layanan pengaduan PLN—nomor 123—agar keluhan mereka terdengar sampai ke pusat.

“Jangan diam saja. Kalau kita diam, PLN nggak akan bergerak. Laporkan terus,” pintanya.

Namun, di balik kata-kata tegasnya, Nurdalin tahu perjuangan ini bukan cuma soal kabel dan gardu. Ini tentang keadilan bagi warga kecil di ujung jaringan. Ini tentang rasa hormat bagi mereka yang sudah lama hidup dalam gelap, namun tak lelah bermimpi ada cahaya listrik.

“Kalau di tempat lain listriknya bisa aman, kenapa di Tigaras tidak?” tutupnya, menatap senja di tepi Danau Toba—tempat impian-impian warga Tigaras menunggu terang.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU