Langkawi Menjadi Teladan, Geopark Kaldera Toba Siap Menjadi Harapan

BERSPONSOR

Simalungun, NINNA.IDDi balik keindahan Danau Toba yang membius mata, tersimpan potensi besar yang belum tergarap sepenuhnya.

Sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark sejak 2020, Kaldera Toba seharusnya menjadi etalase dunia tentang bagaimana keindahan alam, kearifan lokal, dan ekonomi bisa bersanding dalam harmoni.

Tapi realita berkata lain—status “green card” yang menjadi tolok ukur tata kelola terbaik geopark belum kunjung diraih.

Lalu, ke mana arah kita seharusnya melangkah?

BERSPONSOR

Belajar dari Langkawi: Kolaborasi Adalah Kunci

Langkawi, pulau kecil di utara Malaysia, bukan hanya dikenal karena pantainya yang eksotis, tetapi karena keberhasilannya membangun geopark dengan model tata kelola kolaboratif.

Sejak diakui UNESCO sebagai geopark global pada 2007, Langkawi konsisten merawat tiga prinsip utama: konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan.

Yang menjadikannya inspirasi bukan hanya keindahan lanskapnya, tapi juga bagaimana masyarakat setempat menjadi pelaku utama pembangunan.

Koperasi nelayan mengelola biogeotrail, komunitas desa menangani tur gua, dan para ibu rumah tangga menghasilkan produk seperti virgin coconut oil dan nasi dagang dalam kemasan. Semua bergerak—bukan hanya menonton.

Demikian kunci kesuksesan tersebut disampaikan oleh Nordiana Binti Nordin Deputi Manajer Langkawi UNESCO Global Geopark dalam Konferensi Internasional Geotourism dilaksanakan hybrid pada Selasa 8 Juli 2025.

Hotel Khas Parapat Simalungun
Para peserta konferensi di Hotel Khas Parapat Simalungun Selasa 8 Juli 2025 dengan saksama menyimak pemaparan dari peneliti asal Korea Selatan, Dr. Soo Jae Lee, yang disampaikan secara daring melalui Zoom.

Kunci keberhasilan terletak pada manajemen bersama (co-management) yang melibatkan:

  • Pemerintah daerah dan pusat
  • Pelaku usaha pariwisata
  • Akademisi dan peneliti
  • Komunitas lokal

Geowisata menjadi sumber nafkah baru. Infrastruktur membaik, wisatawan meningkat hingga 3 juta per tahun (2024), dan penghargaan internasional terus berdatangan.

- Advertisement -

Semua ini berangkat dari niat kuat untuk menjaga bumi, bukan sekadar menjual pemandangan.

Apa yang Harus Dilakukan Geopark Kaldera Toba?

Agar tidak sekadar menjadi nama dalam daftar, tapi benar-benar berdampak, Kaldera Toba harus melakukan hal berikut:

  1. Bangun Co-Management Seutuhnya
TERKAIT  Gubernur BI Sampaikan Tiga Pelajaran Penting Selama 2023

Libatkan semua unsur: pemerintah kabupaten, tokoh adat, pelaku usaha, akademisi, petani, nelayan, hingga pengusaha kecil. Bentuk forum pengelola bersama yang aktif, partisipatif, dan inklusif. Tirulah Langkawi, yang punya struktur kerja melibatkan koperasi, LSM, hingga sektor swasta.

  1. Dorong Geopreneur dan Geogastronomy

Kembangkan produk lokal: kopi, madu, ikan asap, kerajinan kayu, hingga wisata kuliner khas Batak berbasis bahan lokal. Geopark bukan hanya tentang batu dan gunung, tapi juga rasa, cerita, dan tangan-tangan kreatif warga.

  1. Perkuat Edukasi dan Wisata Interpretatif

Sama seperti Langkawi yang punya program “Geopark to School” dan “Geoguide Junior”, Toba perlu menciptakan pemandu muda, narator lokal, dan kurikulum sekolah yang memperkenalkan anak-anak pada warisan geologi dan budaya kampung halamannya.

  1. Fokus pada Konservasi Nyata

Langkawi menanam mangrove, Tiongkok menghijaukan lahan tandus—lalu bagaimana dengan Kawasan Danau Toba? Perlu ada gerakan masif penghijauan di daerah kritis, pengelolaan limbah wisata, dan pengawasan ketat terhadap pembakaran lahan serta kerusakan sempadan danau.

  1. Bangun Citra dan Cerita Bersama

Toba harus punya cerita besar yang memikat dunia. Bukan hanya “indah”, tapi juga “hidup dan lestari”.

Geopark Kaldera Toba bisa menjadi bintang dunia, bukan sekadar bintang jatuh. Tapi itu hanya mungkin jika semua pemangku kepentingan menyingsingkan lengan baju. Dari desa ke kota, dari nelayan ke akademisi, dari birokrat ke pelaku seni.

Hijaukan Kawasan Danau Toba. Didik anak-anaknya. Dengarkan suara rakyatnya. Buat dunia datang bukan hanya untuk melihat, tapi untuk belajar.

Seperti kata Leiza, pelaku UMKM Langkawi:

“Whatever it is, just do it. Don’t be afraid.”

Sudah saatnya kita bertindak. Demi Danau Toba, demi generasi berikutnya!

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU