spot_img

Kunjungan Antar Sanggar di Kawasan Danau Toba

NINNA.ID – Kemarin, Sanggar dari Pakpak berkunjung ke Sanggar Maduma. Tapi, mari mulai dari sini: Danau Toba kaya akan kebudayaan dan kebiasaan. Kebiasaan itu lalu membentuk tradisi. Tradisi itu kemudian diperagakan dalam berbagai bentuk. Ada dalam ritual. Ada dalam pakaian. Lalu, lahirlah ulos. Muncullah sortali. Muncul kemudian bentuk-bentuk lain sebagai pengayaan.

Ada juga dalam kesenian. Dalam kesenian lalu punya turunan lain. Muncullah Opera Batak. Muncullah tortor kreasi. Dan, masih banyak lagi. Artinya, kebiasaan itu melahirkan kebudayaan secara tak terduga sehingga indah untuk diperagakan, dipertunjukkan, dan menjadi kebanggaan karena sering menjadi alat diplomasi.

Banyak orang muda tak sadar bahwa tradisi seni kita adalah kreasi.

Banyak orang muda mengira, misalnya, Tortor Sawan adalah tortor pakem. Padahal, sebenarnya, itu adalah kreasi. Bahwa dulu memang kebiasaan kita sebelum mengadakan acara adalah ritual pembersihan dan perizinan. Kebiasaan itu lalu diolah menjadi tari.

Artinya, mengkreasikan tortor baru bukan hal ganjil. Kebudayaan itu tidak statis. Kebudayaan harus berkembang. Buktinya, motif ulos juga berkembang bukan? Karena itu, dibutuhkan kejelian kita untuk menggali kebiasaan-kebiasan komunal. Kebiasaan-kebiasaan itu lalu direka ulang dalam bentuk gerak indah menjadi seni tradisi.

Kata Thompson Hs suatu ketika: Tari 5 Puak dan Tortor Sawan sudah mulai membosankan. Membosankan bukan berarti menjadi tidak realistis atau tidak layak lagi. Membosankan lebih pada adanya kemauan kita untuk menggali sebuah kebiasaan dan membuatnya dalam seni gerak yang indah tanpa melawan gerak dasar.

Di sini, seniman kita ditantang untuk membuat tortor kreasi yang baru. Namun, arti baru perlu diklasifikasi. Baru bukan berarti terlepas dari kebiasaan lama, apalagi sampai mengingkarinya. Karena itu, ketika Sanggar Tari Karang Taruna dari Pakpak datang berkunjung ke Sanggar kami Sanggar Maduma di Doloksanggul, Humbang Hasundutan, saya bahagia.

Mestinya kebiasaan seperti ini harus dikembangkan. Kebiasaan berbagi dan mencari ilmu seperti ini akan membuat kebudayaan kita berkembang dan dinamis. Lagi-lagi harus ditegaskan: dinamis bukan berarti lepas dari akar. Dinamis adalah bercabang dari akar yang sama sehingga melahirkan bunga-bunga yang indah.

Sekali lagi, kawasan Danau Toba itu kaya. Menggali ritual dan kebiasaan lama lalu membuatnya dalam kemasan seni yang indah niscaya akan membuat kita semakin kaya. Kita harus sering saling berkunjung dan berkolaborasi. Semua itu demi pengayaan dan pengembangan budaya dan tradisi kita, sebagai satu cara untuk mengembangkan pariwisata Danau Toba.

TERKAIT  Potensi Wisata yang Melimpah di Negeri Indah Kepingan Surga

Karena itu, saya bermimpi kiranya masing-masing pemerintah di Danau Toba harus jeli untuk memberdayakan dan memfasilitasi seniman. Seniman kita sesungguhnya sangat kreatif. Jangan kiranya kita selalu membangga-banggakan tradisi dan kebiasaan dari luar. Itu adalah mental inlander. Mental yang membuat kita terpuruk tiga ratusan tahun di bawah penjajahan.

Saya jadi teringat pada Aldentua Siringo-ringo. Konon, ia pernah membawa Seni Tradisi Batak ke Korea Selatan bersama Martahan Sitohang dan tim. Para remaja kita pasti terkejut. Bagaimana mungkin bisa menjual tortor ke Korea? Sebab, karena K-Pop, Korea kini sudah menjadi imajinasi puncak para remaja. Segala sesuatu seperti diukur dari Korea.

Tetapi terbukti. Di Korea, tortor kita disambut dengan sangat antusias. Buktinya, mereka semua antusias bergoyang. Begitu juga dengan kisah kami di PLOt. Saat itu, kami dari PLOt mengajarkan tari dan uning-uningan Batak di sebuah sekolah di Jerman. Hasilnya, semua siswa antusias dan sangat mau mencoba, tanpa merasa malu dan sungkan.

Maksudnya, sesungguhnya kita punya daya tawar yang tinggi. Persoalannya, selain wadah yang belum memadai, kita juga belum percaya diri. Karena itulah dibutuhkan kunjungan antar sanggar di kawasan Danau Toba. Kunjungan ini untuk mengetahui keunikan masing-masing kita lalu mencoba untuk memodifikasi dan menggabungkannya.

Modifikasi dan penggabungan ini perlu sebagai pengembangan. Sebab, sadar atau tidak, bahkan Tortor Pakem kita pun unik. Di sebuah tempat, tangan harus begini. Di tempat lain, tangan begini. Artinya, ternyata jika dipercayai, tak ada yang benar-benar pakem. Toh, ada keunikan masing-masing dengan filosofi yang masuk akal pula.

Jadi, mari berharap agar sanggar-sanggar di Danau Toba dapat saling berkunjung dan membagi inspirasi. Jangan takut untuk berkreasi selama pijakan dasarnya masih tidak melenceng. Takut mencoba akan membuat kita tanpa insiatif dan berhenti di situ saja. Walau begitu, janganlah pula asal-asal mencobalah pulaknya.

 

Penulis  : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU