spot_img

Kue Putu Simorangkir Khas Taput Bentuknya Menggoda

NINNA.ID – TAPUT

Kue Putu Simorangkir, mungkin sudah sering kita dengar atau sudah pernah mencicipi. Makanan berbentuk seperti mangkuk ini, juga sangat dikenal sebagai kuliner khas dari Tarutung Tapanuli Utara. Jika produk Nyonya Mener sudah berdiri sejak 1919, maka Kuliner Simorangkir ini sudah berdiri sejak 1957.

Bentuknya yang  menggoda itu, selalu memancing lidah untuk mencicipi. Sering dijadikan pelengkap secangkir teh manis atau sekedar air putih, kue putu ini semakin enak untuk dinikmati. Walau diproduksi secara rumahan, namun rasa manisnya yang terasa pas di lidah membuat kue ini selalu diminati, masyarakat sekitar maupun pelancong yang datang ke Tapanuli Utara.

Kue putu Tarutung ini, rerata diproduksi oleh sejumlah pemilik usaha kecil menengah (UKM) yang terletak di Jalan Marhusa Panggabean Siatas Barita, Taput. Dari pusat Kota Tarutung menuju ke lokasi pengolahan kue putu ini, berjarak sekira 5 kilometer dengan waktu tempuh sekira 5 sampai 10 menit. Mencarinya juga tidak sulit, karena persis berada di ruas jalan yang sering dilalui kendaraan, bahkan dilintasi angkutan umum.

Dua ciri warnanya, putih salju dan coklat, kuliner hasil olahan tangan sejak 1957 ini masih mampu bersaing dengan beragam kue-kue berbagai bentuk dan rasa sekarang ini. Bentuknya yang seperti mangkuk dan disusun berjajar rapi, membuatnya menarik perhatian. Kue berasa manis ini, selalu menjadi oleh-oleh yang tak terlewatkan pelancong dari Salib Kasih.

Kue Putu
Lena Boru Sibarani pengusaha kuliner kue putu Simorangkir Siatas Barita saat memperlihatkan kue putu hasil olahannya. (Foto/Billy S)

Berdiri Sejak 1957

Untuk mengenal lebih dekat kue putu khas Tarutung ini, NINNA menyambangi rumah Lena Sibarani, pemilik usaha kue putu. Dari perempuan berusia 48 tahun ini diketahui, ternyata produksinya itu merupakan usaha turun termurun. Sudah berdiri sejak 1957 atau 64 tahun yang lalu.

“Sebelumnya, yang mengelola kue kuliner ini adalah mertua saya, dan sampai saat ini kami terus mengusahai dan menggelutinya,” ujarnya.

Selama yang dia tahu, kue putu Simorangkir ini tidak hanya terjual di daerah lokal tapi telah hijrah sampai ke berbagai daerah luar Tapanuli Utara, bahkan sampai ke luar negeri.

“Seperti Jepang, Aceh, Surabaya, Kalimantan, Jakarta, Irian Jaya, Medan, dan berbagai daerah lain. Pokoknya hampir seluruh daerah di Indonesia telah merasakan putu kami ini,” ucapnya.

Pelancong yang datang ke Salib Kasih atau sekedar pulang kampung ke sekitara Kecamatan Simorangkir Siatas Barita, kata Lena, selalu menyempatkan waktu untuk singgah menikmati dan membawanya oleh-oleh.

TERKAIT  Ayam Napinadar Pinggir Jalan Panorama Kepingan Surga

Lena Sibarani menyampaikan, kue putu Simorangkir ini memiliki ciri dan keunggulan tersendiri dibandinngkan dengan makanan ringan lainnya. Cirinya memiliki dua warna dan rasa. Untuk warna putih salju rasanya manis gula putih dan untuk warna coklat rasa gula merah.

Bahan dasarnya ini hanya beras putih biasa dan beras ketan yang digiling atau dihaluskan menjadi tepung, lalu dicampur dengan gula merah aren atau gula putih dan ditambah garam secukupnya. Setelah adonan pas, dibentuk lalu dimasak menggunakan cara kukus.

Kue putu ini dikatakan bisa bertahan dalam kondisi layak konsumsi selama 4 hari. Namun sebelum dihidangkan, harus dipanaskan kembali beberapa saat.

Harga Bersahabat

Untuk satu potong, Lena Sibarani hanya membandrolnya seharga Rp 5000. Biasanya dijual dalam satu kemasan kotak berisi 6 potong seharga Rp 30.000. Namun, dia tetap melayani pembelian walau satu potong.

Seperti usaha pada umumnya, penjualan kue ini juga mengalami pasang surut. Sewaktu-waktu meningkat dan menurun. Pada masa-masa puncak, penjualan kue putu ini dapat menembus 500 sampai 600 potong per harinya.

“Penjualan seperti begini bisa terjadi bila pengunjung yang datang ke Salib Kasih sedang ramai. Semisal pada hari besar seperti tahun baru, dan hari paskah. Bahkan saya bisa memasak putu sampai berapa kali dalam sehari, menghabiskan hampir 30 kg beras,” jelasnya.

Terlebih dengan kondisi sekarang, akibat semakin lesunya perekonomian dampak pandemi Covid-19, grafik penjualan ikut mengalami penurunan.

“Sebelum corona datang, penjualan masih cukup tinggi, namun karena situasi perekonomian masyarakat turun akibat corona ini, daya beli semakin turun, sehingga tingkat penjualan semakin turun. Satu hari hanya bisa membuat 360 kue putu, menghabiskan dua liter beras,” katanya.

Sebagai pengusaha yang bergerak dibidang UKM terlebih di masa pandemi ini, dia berharap pemerintah memberikan bantuan permodalan untuk mendukung dan mengembangkan usaha kuliner kue putu Simorangkir.

Penulis : Billy

Editor   : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU