Jakarta, NINNA.ID-Udara kampus Universitas Pelita Harapan (UPH) terasa sejuk siang itu. Pepohonan rindang bergoyang pelan, sementara senyum para mahasiswa menyambut kehadiran kami — rombongan Koperasi Geopark Danau Toba yang datang dari tanah dataran tinggi, membawa semangat dari tepian danau biru.
Saya masih ingat saat melangkah ke SPARKLABS, ruang yang sederhana namun penuh energi positif.
Di sanalah kami — masyarakat pelaku usaha dari 4 kabupaten Kawasan Danau Toba — duduk berdampingan dengan para dosen Universitas Pelita Harapan.
Bukan sekadar bertukar teori, tapi berbagi kisah perjuangan.
Kami berbicara tentang impian sederhana: bagaimana potensi alam, budaya, dan tangan-tangan pekerja keras di desa kami bisa bertumbuh menjadi ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Memberikan Kontribusi ke Danau Toba
Saya merasa mendapat kesempatan istimewa melihat bagaimana para dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPH duduk berdekatan dengan kami dari kampung dan mendengarkan cerita kami.
“Kami di Universitas Pelita Harapan percaya, perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam pendidikan formal, tapi juga menjadi mitra bagi masyarakat untuk bertumbuh,” ujar Dr. Daniel Ong, SE., MM, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPH yang juga merupakan Wakil Kordinator Rektor.
“Melalui kolaborasi seperti ini, kami ingin mahasiswa melihat langsung bagaimana teori bisnis dan manajemen diterapkan dalam kehidupan nyata masyarakat desa.”

Ada Dr. John Purba, dengan kehangatannya yang menenangkan; Dr. Paulus Yokie Radnan, pengelola SPARKLABS yang membawa semangat inovasi; dan Dr. Evo Sampetua Harianja, yang percaya bahwa “jarak antara Karawaci dan Danau Toba bukanlah penghalang di era digital ini.”
Ucapan itu terasa sangat dalam bagi kami. Karena selama ini, banyak dari kami merasa jauh — jauh dari pusat pengetahuan, jauh dari peluang, bahkan kadang jauh dari perhatian. Tapi hari itu, jarak itu runtuh.
Yang tersisa hanyalah niat untuk belajar dan tumbuh bersama.
Menanam Nilai SDGs
Saya belajar bahwa kolaborasi ini bukan sekadar proyek. Ini adalah bagian dari komitmen nyata universitas untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) — terutama dalam hal pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan.
Para dosen tidak datang untuk memberi ceramah satu arah. Mereka berjanji untuk mendampingi, memantau, dan memastikan perubahan benar-benar terjadi.
Mereka ingin membantu kami memahami manajemen usaha, strategi pemasaran digital, dan pengembangan produk unggulan agar bisa bersaing di pasar nasional dan internasional.
Saya merasa seperti melihat jembatan mulai terbentang — dari dunia akademik menuju desa-desa di tepi Danau Toba, dari teori menuju praktik, dari ide menuju tindakan.
Terus Bertahan dan Pikirkan Peluang

Sesi hari itu penuh dengan cerita yang membuat saya terkesima dengan UPH. Bukan hanya melihat gedungnya yang mewah. Lebih dari itu, kehangatan dan sambutan yang kami terima. Upaya yang dikerahkan untuk menerima kami.
Selama pertemuan itu, kami diberikan kesempatan luas untuk bercerita. Cerita diawali oleh Berliana Purba, Ketua Koperasi Geopark Danau Toba.
Ia membagikan pengalaman tentang upayanya membangun agrowisata kopi di Desa Seribu Goa, Pakkat,Sumatera Utara.
“Dulu harga kopi Robusta jatuh. Banyak petani meninggalkan ladang,” katanya dengan nada sedih. “Tapi sekarang, kopi kami tumbuh alami di antara pohon kemenyan — artinya organik, bahkan kadang liar seperti hutan. Kini Robusta mulai naik daun lagi. Ini peluang yang harus ditangkap.”
Saya melihat wajah-wajah peserta lain ikut bersinar. Karena kami semua tahu, kisah Berliana adalah kisah kami juga — tentang bertahan, mencari cara baru, dan menolak menyerah pada keadaan dan selalu memikirkan peluang di tengah himpitan.
Saya juga bercerita tentang rempah-rempah, kemiri, dan hasil bumi Danau Toba.
“Kalau dulu bangsa Eropa datang ke Indonesia karena rempah, sekarang giliran kita memperkenalkan rempah Danau Toba ke dunia.” ungkapku di hadapan para dosen senior tersebut.
Berada di depan dosen senior dan melihat rata-rata mahasiswa di UPH adalah Tionghoa perintis bisnis atau pewaris usaha, buatku yakin hadir di sini bakal membuka jalan koneksi atau kolaborasi.

Di hadapan mereka, saya bercerita tentang usaha kecil yang saya jalankan di kampung — usaha pengupasan kemiri yang tumbuh dari keinginan sederhana: agar roda ekonomi di desa berputar.
Usaha ini memang kecil bahkan ultra mikro, tapi bagi saya, inilah bentuk cinta paling nyata pada Tanah Batak.
“Banyak anak muda di Danau Toba merasa di kampung itu tidak ada masa depan. Tidak ada karier menjanjikan, yang mampu buat anak muda kerja kreatif,” saya katakan dengan jujur.
“Tapi saya ingin membuktikan bahwa di kampung-kampung di Kawasan Danau Toba juga bisa menjadi tempat untuk tumbuh secara ekonomi maupun karier. Saya tidak ingin tinggalkan Danau Toba. Saya ingin membangun.”
Saya percaya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil — dan hari itu, langkah kecil saya terasa berarti.
Satu Kunjungan, Seribu Inspirasi
Sesi itu berakhir dengan foto bersama. Tapi bagi saya, itu bukan penutup — melainkan permulaan. Kami berpisah dengan janji akan ada pelatihan lanjutan, mentoring, dan pendampingan digital yang terus berjalan.
Di wajah setiap orang, saya melihat hal yang sama: harapan.
Harapan bahwa kerja sama ini akan melahirkan wirausaha desa yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing.
Saya pun teringat satu hal: di balik setiap cangkir kopi, butiran kemiri, dan rempah dari Tanah Batak, tersimpan cerita kebangkitan. Kebangkitan yang lahir bukan dari kemewahan, tapi dari kolaborasi, kepercayaan, dan cinta terhadap Tanah Batak.
Dan saya pulang dengan hati penuh syukur.
Karena di Karawaci hari itu, saya tak hanya belajar tentang bisnis dan manajemen dan berjumpa dengan para dosen senior. Tapi juga tentang arti menjadi bagian dari perubahan — perubahan yang mungkin kecil, tapi akan terus bergulir dari tepi Danau Toba hingga ke dunia.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga



