spot_img

Kisah Sarkofagus Berpindah-pindah di Huta Raja Samosir

SAMOSIR – Pernah dengar kisah tugu batu yang bisa berpindah-pindah? Tugu batu ini berada di Huta Raja Lumban Suhi-Suhi, Kecamatan Pangururan Samosir. Aku mendengar kisah ini pertama kali dari nenek buyut yang kupanggil Inang Namatua. Dia berusia 101 tahun saat cerita tentang itu.

Tugu batu atau Sarkofagus ini berada di depan rumah Inang Namatua.  Dulu, hampir tiap malam katanya Sarkofagus ini akan berpindah tempat. Apalagi saat cahaya bulan terang di malam hari, Sarkofagus ini akan berjalan dan mengeluarkan bunyi mencolok saat berpindah.

Tugu ini bisa berpindah ke mana saja bahkan berpindah hingga ke Danau Toba dengan kondisi terapung di danau.

Saat mendengar kisah tersebut dari Inang aku berbisik dalam hati, ”Apa mungkin tugu yang berat tersebut bisa pindah dan terapung di atas air?” Kutahan niat untuk membantah cerita Inang.

Akan tetapi, suatu waktu kuberanikanuntuk bertanya,” Pernah Inang sendiri lihat tugu itu berpindah?”. Dijawabnya,”Tidak! Itulah cerita orang tua dulu”.

Keesokan harinya kuamati dengan saksama tugu batu tersebut. Kulihat di sisi barat ada seperti kepala manusia, di sisi timur ada wajah seperti binatang tapi tidak jelas rupa binatang apa. Karena penasaran dengan cerita tugu berpindah-pindah ini, kuputuskan untuk menyaksikan sendiri apakah Sarkofagus ini bakal bergerak.

Waktu itu, kebiasaan tiap malam di Huta Raja sekitar jam 20.00 WIB, warga biasanya belum tidur. Anak-anak biasanya masih bermain di halaman depan rumah. Pria-pria berbaur di kedai. Sesekali ada musik atau lagu yang dinyanyikan oleh pria-pria di kedai tuak. Hingga jam 11 malam aku masih terus melihat apakah benar tugu tersebut akan berpindah. Namun seperti yang disaksikan Inang, tugu itu tidak berpindah.

Selama aku tinggal bersama Inang di Huta Raja, tidak pernah sekalipun Sarkofagus ini berpindah seperti cerita yang dibagikan ke aku. Tapi cerita ini diketahui banyak orang di huta bahkan hingga saat ini.

Setiap kali berkunjung ke Huta Raja, aku kerap mengamati Sarkofagus ini. Beberapa kali karena ada acara keluarga di huta ini, aku begadang di malam hari. Pernah jam 1 pagi aku khusus melihat tugu ini. Aku masih penasaran apakah Sarkofagus ini akan bergerak. Ternyata tidak.

TERKAIT  Super Sport Perahu Formula1 dan Summit W20 Semakin Dekat

Hingga kini aku belum menemukan alasan mengapa nenek moyang zaman dulu mewariskan cerita tentang Sarkofagus yang berpindah-pindah tersebut. Namun aku berkesimpulan kebiasaan membangun Sarkofagus yang dilakukan orang Batak mirip dengan kebiasaan bangsa Israel dan Mesir. Apalagi menilisik kata Sarkofagus itu sendiri ternyata berasal dari Bahasa Yunani.

Asal Mula Sarkofagus    
Dalam Bahasa Yunani kata “Sarkofagus” terdiri dari dua kata.  σάρξ (sarx, “daging”) dan φαγεῖνειν (phagein,”memakan”). Jadi sarkofagus bermakna “memakan daging”. Sarkofagus bisa diartikan penyimpanan jenazah atau mayat yang terbuat dari batu.

Sarkofagus sering dibangun di atas tanah. Sering kali diukur, dihias dan dibuat dengan teliti. Beberapa dibuat untuk berdiri sendiri, sebagai bagian dari sebuah makam atau beberapa makam. Beberapa yang lain dimaksudkan untuk disimpan di ruang bawah tanah.

Menurut catatan Alkitab, pada zaman Abraham, Yakub bahkan hingga zaman Yesus Kristus, mayat-mayat sering dikubur di dalam gua. Ini dikarenakan tanah di sana kebanyakan berbatu-batu menyulitkan penggalian kuburan. Biasanya gua tersebut akan ditutup dengan batu saja. Kemungkinan kebiasaan seperti inilah yang ditiru orang Batak.

Pada zaman bangsa Mesir kuno, Sarkofagus dijadikan sebagai lapisan perlindungan bagi mumi keluarga kerajaan dan kadang-kadang dipahat dengan alabaster (sejenis batu pualam yang bisa diukir).

Akan tetapi ada perbedaan mencolok antara bangsa Israel dan Mesir. Pekuburan bangsa Israel sangat sederhana. Kontras dengan bangsa Mesir dan bangsa lainnya pada zaman itu, terdapat gambar-gambar pada tembok dan hiasan-hiasan lain. Sekalipun ada pilar dibangun dengan batu, itu semata-mata ditujukan sebagai penanda, bukan monumen. Tidak ditujukan sebagai objek pemujaan. Namun, di Mesir, Sarkofagus atau tugu seperti piramida dijadikan sebagai objek pemujaan.

 

Penulis  : Damayanti Sinaga
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU