Kisah Nyata Homang dan Suladdak di Tanah Batak

BERSPONSOR

NINNA.ID – Ini memang mitos. Tetapi, seperti jadi fakta. Untung sekarang sudah tak pernah terjadi lagi. Saya masih ingat betul. Sewaktu kecil, ada banyak anak yang hilang. Ya, hilang. Tidak diculik. Begitu saja menghilang. Beberapa hari kemudian ditemukan. Selalu ditemukan. Tidak pernah benar-benar hilang. Itu di masaku.

Tapi, di masa sebelumnya, ada yang benar-benar hilang. Atau, ditemukan, tetapi sudah meninggal. Itulah cerita pada kami. Cerita dari orang tua. Saya sih percaya saja. Toh, di masa kecil, saya sering menyaksikan anak yang hilang. Kisahnya selalu dimulai dari konflik. Tetangga saya pernah hilang. Dia wanita. Setahun di atasku.

Jadi, ibunya marah. Ia pun pergi bersembunyi. Bahasa batak bersembunyi adalah martabuni. Tetapi, kami tidak menyebutnya martabuni. Kami menyebut fenomena ini sebagai mangalillubu. Jadi, ini tidak sekadar bersembunyi. Skemanya hampir sama. Merajuk bercampur marah dan takut. Lalu, pergi bersembunyi ke semak-semak.

Di awalnya, orang tua tak menyadari. Lama-lama, pasti sadar. Mereka mencari. Tidak dapat. Malam tiba. Tak juga pulang. Dicari ke tempat keluarga, tak ada juga. Sekampung ikut mencari. Semua semak dicari. Namanya dipanggil-panggil. Tak ada sahutan. Itu di hari kedua. Di hari ketiga, kampung sebelah ikut mencari.

BERSPONSOR

Sudah mulai masuk ke hutan. Tak juga dapat. Orang pintar sudah ditanyai. Mereka mencari lebih serius lagi. Namanya berkali-kali dipanggil. Hari keempat, orang semakin ramai mencari. Orang pintar pun ikutan. Semua semak diperiksa lagi. Hingga pada hari kelima, ia ditemukan. Kata orang pintar, ia dekat kok dengan kita. Kita tak melihatnya.

Benar saja. Ia memang dekat. Dekat sekali. Ia di bawah pohon pinus. Berjarak tak sampai seratus meter dari pinggir jalan. Dekat pansur paridian. Semua warga dulu mandi di sana. Tetapi, selama 5 hari itu, ia tak ditemukan. Anak itu ditanyai kemudian. Ia mengaku dibawa jalan-jalan. Makan-makan enak. Hingga kemudian ia minta pulang.

TERKAIT  Mandailing itu Bukan Batak

Sosok yang membawa itu membujuk. Membujuk supaya jangan pulang. Diberikan banyak makanan. Tetapi, ia tetap memilih pulang. Akhirnya, ia ditemukan. Siapa sosok itu? Dia pun tak kenal, apalagi kami. Namun, kami langsung memberi keputusan, pembujuk itu pasti homang. Begitu keputusan kami. Apa itu homang?

Kami sendiri tak tahu. Tapi, itu keputusan bulat kami. Tak mungkin yang membujuk adalah makhluk biasa. Tak mungkin itu. Toh, darimana ia bisa hidup selama 5 hari? Itulah anehnya. Aneh dan nyata. Lalu, apakah setiap orang yang bersembunyi, maka pasti menghilang? Saya tak tahu. Belum pernah mendengar ada anak hilang karena begitu saja.

BERSPONSOR

Seperti disebut d atas, semua selalu diawali dari konflik. Suasana hati kacau balau. Di saat itu, datanglah penggoda. Ia membujuk kita untuk pergi jalan-jalan. Jikalau mau, maka seseorang itu bisa hilang. Jikalau keasyikan jalan-jalan, ia bisa lupa untuk kembali. Masih ada cerita yang lain. Ini juga erat kaitannya dengan makhluk sejenis.

Tapi, namanya bukan Homang. Namanya Suladdak. Ia disebut sejenis binatang. Namun, ia bersifat seperti homang juga. Ia mengelabui manusia. Menjebak. Lalu membawa kemana-mana. Kalau yang ini, murni cerita. Cerita yang sangat menakutkan. Biasanya ada di hutan. Kebetulan, saya sering ke hutan.

Baiklah. Nanti kita lanjut ceritanya. Namun, siapa tahu pembaca punya cerita, bisa juga menceritakan kepada saya. Sebagai pengayaan referensi. Namanya cerita. Tidak selalu benar. Walau begitu, terkadang justru benar. Karena itu, sila dijapri saya di 082164358081. Supaya cerita itu bisa kita tulis dan generasi muda bisa membayangkannya.

Penulis : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor   : Mahadi Sitanggang

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU