spot_img

Kisah Kuburan Batu Sebagai Pengganti Keturunan

TOBA – Sarkofagus atau kuburan dari batu di kawasan Danau Toba bukanlah sekedar kuburan. Pada umumnya, sarkofagus selalu berkaitan erat dengan kisah orang berpengaruh semasa hidupnya. Namun ada juga yang mewakili kisah penderitaan hidup, seperti sarkofagus Naiulak Roha Boru Manurung ini.

Terletak di Pangaloan Desa Sionggang Selatan, Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara.  Sarkofagus raksasa ini, berkisah tentang kegundahan hati seorang perempuan bernama Naiulak Roha Boru Manurung, yang hidup sebatang kara menjelang akhir hidupnya.

Menurut cerita turun temurun yang diceritakan kembali oleh Ompu Lasma Manurung, semasa hidupnya, Naiulak Roha sudah sudah pernah menikah. Namun pernikahannya itu tidak membuahkan  keturunan. Status sosial keluarga Naiulak Roha juga terbilang cukup makmur, terbilang kaya raya di masa itu. Dan, ini juga yang menjadi sebab musabab kegundahan hatinya.

Sebagai perempuan Batak, dia paham betul, pada zaman itu seorang Batak yang tidak punya saudara laki-laki, maka segala harta yang dimilikinya akan diwarisi oleh saudara lainnya. Bisa jatuh ke tangan saudara sepupu atau bahkan sepupu jauh dari kakek. Situasi inilah yang dialami Naiulak Roha, tanpa anak dan juga tanpa saudara laki-laki.

Suatu hari, di atas bongkahan batu raksasa,  Naiulak Roha duduk termenung memandang Danau Toba, merenungi nasibnya yang hidup sebatang kara. Akhirnya dia bertekad,  kelak apabila dia meninggal dunia, maka harus ada sesuatu untuk dikenang sebagai pengganti keturunannya. Setelah mendapatkan ide, maka rencana itupun dimulai.

Bagian atas bongkahan batu raksasa, tempat dia sering meratapi nasib dipahatnya  membentuk cerukan. Dia menggali kuburnya sendiri di atas batu raksasa itu. Dalam bertekad, jika ajal sudah menjemputnya, maka jasadnya dikubur dalam batu raksasa itu.

Sarkofagus
Makam batu Naiulak Roha Boru Manurung di Pangaloan Desa Sionggang Selatan, Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Toba sedang dibersihkan.(Foto:Asmon)

Bisa dibayangkan, betapa berat pekerjaan itu dilakukan dengan peralatan di masa itu. Apalagi dilakukan seorang diri oleh seorang perempuan, yang sadar sedang menggali kuburaan sendiri. Tak diketahui pasti entah berapa puluh  purnama telah terlewatkan hingga pekerjaan itu dapat diselesaikan Naiulak Roha.

TERKAIT  Pesona Kaldera Toba dari Bukit Senyum

Setelah penggalian selesai, Naiulak Roha pun berpesan kepada warga sekitar, kelak apabila dia meninggal, jasadnya dikuburkan dalam batu raksasa itu, bersama harta yang melekat di tubuhnya. Setelah Naiulak Roha meninggal dunia, warga sekitar menjalankan permintaanya, mengubur jasadnya di kuburan batu itu.

Makam Naiulak Roha Boru Manurung ini, juga dilengkapi dengan penutup yang juga terbuat dari batu. Penutup makam ini dipahat menyerupai bentuk rumah adat Batak Toba.

Begitulah kisah sarkofagus yang dikenal dengan Makam Batu Naiulak Roha boru Manurung, sesuai dengan nama jasad yang bersemayam di sana.

Tidak banyak yang mengetahui akan keberadaan situs ini, walau letaknya cukup strategis, di pinggir jalan dan dekat dengan Air Terjun Situmurun yang sudah terkenal itu

Mengingat Danau Toba sudah ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai kawasan super prioritas unggulan, banyak pihak berharap situs dipugar dan dirawat oleh instansi terkait.

Menuju ke sarkofagus itu, hanya butuh waktu satu jam naik kenderaan roda empat dari kota Parapat. Letaknya yang tidak jauh dari bibir pantai Danau Toba juga bisa ditempu lewat jalur danau dengan menyewa kapal dari Parapat atau dari Pulau Samosir.

Walau menyewa kapal dari Parapat sedikit lebih mahal, namun harga itu terbayar dengan keindahan panorama sepanjang perjalanan. Selama satu jam perjalan di atas kapal, bisa melihat  perkampungan di lereng bukit atau di pinggir pantai seperti Horsik, Sirungkungon dan Sigapiton.

 

Penulis : Asmon Pardede
Editor   : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU