spot_img

Kisah Ditemukannya Alat Musik Taganing (1)

NINNA.ID – Taganing adalah salah satu alat Musik tradisional Batak Toba yang sampai sekarang masih sangat diminati oleh masyarakat luas. Walaupun hadir alat-alat musik modern sekarang seperti Keyboard dan yang lainnya, Taganing masih tampil memukau di hati pecinta musik. Maka tak heran, setiap Group musik yang ada sekarang harus memiliki seperangkat alat musik Taganing.

Namun yang menjadi pertanyaan menarik adalah bagaimana asal muasal ditemukannya Taganing? Nah, pada tulisan kali ini kami ingin bercerita tentang awal mula penemuan alat musik Taganing ini yang disadur dari penuturan para orangtua terdahulu.

Seperti kita ketahui bersama, berburu adalah kebiasaan suku Batak pada zaman dahulu. Kami kisahkan dalam tulisan ini, suatu ketika ada seorang pemburu pergi ke hutan untuk berburu binatang rusa, babi hutan dan kambing hutan (belu) untuk dijadiakan santapan dan biasanya kulit dari binatang hasil buruannya itu dijadikan celana dan lain sebagainya. Ketika itu, si pemburu mendapatkan rezeki dengan hasil buruannya adalah seekor rusa.

Singkat cerita Si Pemburu pun ingin membuat kulit buruannya menjadikan sebuah tas. Saat ini dalam istilah Batak Toba, tas sama dengan hadang-hadangangan. Lalu Si Pemburu tadi pun mulai membersihkan kulit rusa tadi dan kebetulan disekitaran dia membersihkan kulit itu ada sebuah bekas penebangan kayu yang sudah berlobang dalam Bahasa Batak Toba disebut Lubangon. Si Pemburu kemudian meletakkan kulit tersebut pada lobang itu dengan maksud untuk mempercepat mengeringkan kulit rusa yang sudah dibersihakan.

Berselang beberapa hari, Si Pemburu tadi pun kemudian kembali mengecek kulit yang sudah dikeringkan tersebut dengan cara memukul mukul kulit tersebut untuk mengetahui apakah kulit yang diikat di kayu itu sudah betul betul kering.

Tanpa diduga, ketika Si Pemburu memukul-mukul kulit tadi, ternyata mengeluarkan sebuah bunyi-bunyian yang bernada. Saat kulit itu semakin ditarik maka bunyinya semakin nyaring dan kencang.

Kemudian timbullah pikirannya untuk melobangi sebuah kayu yang disebut Ampiras yang menyerupai tabung sedemikian rupa dan meletakkan kulit binatang yang sudah dikeringkan di salah satu sisi lubang, lalu lubang yang satunya lagi ditutup dari bawah untuk menghindari angin masuk pada lubang tersebut dengan membentuk sebuah kayu penutup yang bulat untuk cantolan tali ke kulit rusa.

TERKAIT  Batara Guru Menjodohkan Si Boru Deak Parujar

Pada pinggiran kulit tersebut, persis di sisi lubang itu, dibuatlah lobang untuk tempat kayu kecil berupa cantolan tali rotan yang sudah direndam selama satu malam yang nantinya dijadikan sebagai penarik kulit untuk menyetel tinggi rendahnya suara yang akan dihasilkan kulit ketika dipukul.

Lalu antara tutup lobang dan cantolan tali tadi dibuat kayu kecil yang disebut Basing/solang untuk membantu tali rotan tadi menyesuaikan nada.

Dari sanalah awal mula ditemukannya Taganing yang kemudian mengalami perkembangan dan proses dalam adat istiadat dan budaya suku Batak Toba yang kemudian masih lestari hingga sekarang, menjadi salah satu alat musik tradisional khas Batak Toba, tentu masih ada sejarah lain yang masih terus kita gali, misalnya kenapa jumlahnya hanya 6 buah, dan juga kenapa nadanya tidak mengikuti Sol Mi Sa Si tangga nada. Nantikan kisah selanjutnya tentanga alat musik Taganing ini hanya di ninna.id.

 

Penulis      : Aliman Tua Limbong
Editor         : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU