spot_img

Kera Liar Pendengar Suara Terompet Tanduk Kerbau

PARAPAT – Suara terompet dari tanduk kerbau menggema di hutan lindung kawasan Danau Toba. Tak lama berselang, sejumlah primata datang, menghampiri sang pawang peniup terompet tanduk kerbau itu, Detim Manik.

Bagian dari Hutan Aek Nauli, Sibatu Loting Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun Sumatera Utara ini, dikenal luas sebagai hutan monyet (Monkey Forest) atau Taman Wisata Primata Sibaganding. Jaraknya sekitar empat kilometer sebelum Kota Parapat, jika datang dari arah Pematangsiantar.

Terompet Tanduk Kerbau 4
Sang Pawang Detim Manik bercengkrama dengan Siamang.(Foto:ferindra)

Detim Manik atau Abdurahman Manik pawang kera di taman wisata ini, Jumat (15/10/2021) menjelaskan, bahwa almarhum ayahnya (Umar Manik) yang pertama menjadikan kawasan ini sebagai hutan primata.

Cerita itu diawali saat alm.Umar Manik memulai bertani di lahan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Sibaganding pada tahun 1980-an. Bersama sang Ibunya, Hamidah, mereka menetap di hutan itu. Namun, sekian lama mencoba bertani, tak pernah berhasil karena tanaman di ladangnya rusak dimakan berbagai jenis kera yang ada di kawasan itu.

Kawanan primata itu terus berkembang biak. Melihat kondisi ini, orang tua Detim mencoba menjalin bersahabat dengan kawanan primata itu. Cara itu berhasil. Mereka menjadi penyang kera sehingga dapat berinteraksi dengan baik.

Sejak saat itu, alm.Umar menjadi pengelola Taman Wisata Primata Sibaganding. Setelah dia wafat tahun 2019, pengelolaan hutan kera diteruskan oleh anaknya Abdurrahman Manik alias  Detim Manik, yang selalu menyebut dirinya, Anak Parherek Si Manik.

Pada masanya, alm.Umar selalu memanggil ratusan kera dan siamang dengan meniup terompet yang terbuat dari tanduk kerbau, buatan sendiri. Sekarang, masih terompet tanduk itu yang digunakan Detim Manik untuk memanggil kawanan primata itu.

Di sana, ada lapangan yang sengaja dibangun untuk pertunjukkan kepada pengunjung. Jaraknya dari tepi jalan raya tidak begitu jauh, hanya sekira 200 meter atau 10 menit jalan santai masuk ke hutan.

Memasuki areal pertunjukan kera yang dibuka pukul 07.00-15.00 WIB, tidak ada tiket atau pungutan retribusi. Hanya sebatas keikhlasan saja untuk untuk pemandu atau sang pawang. Namun disarankan, pengunjung harus membawa buah seperti pisang, jagung dan jenis lain yang bisa dimakan kera. Kalau tidak membawa makanan kera, pengunjung bisa membelinya di lokasi yang telah disediakan pengelola atau pemandu. Makanan itu, akan diberikan kepada kawanan kera saat pertunjukan.

TERKAIT  Benalu Kopi Memiliki Beragam Khasiat Untuk Kesehatan

Begitu terompet tanduk kerbau itu ditiup, maka kawanan primata satu per satu bermunculan. Ada yang datang dari pohon bergelayut di dahan dan ranting kayu, ada juga berjalan melompat-lompat dari balik akar-akar pohon. Melompat-lompat begitu Detim mengeluarkan jagung dan pisang dari dalam karung.

Terlihat berbagai jenis kera berdatangan. Ada Siamang, kera ekor panjang, beruk dan imbo. Detim Manik mulai memanggil kera-kera itu sesuai namanya, dan memberi pisang atau jagung.

Momen yang ditunggu pengunjung, saat diberi kesempatan menyuapi kera dan siamang yang berjumlah ratusan itu, sambil berswafoto dan tentunya di bawah pengawasan sang pawang.

Namun Detim tetap mengingatkan, jika dalam kawanan itu masih ada yang kurang bersahabat dan galak kepada manusia, yang dia namai dengan Saddam Husein. Kepada pengunjung diminta untuk menjaga jarak darinya.

Terompet Tanduk Kerbau 3
Keluarga Siamang berbagi buah semangka.(Foto:ferindra)

Usai pertunjukkan, tak lupa Detim memperkenalkan kanal Youtube miliknya “Anak Parherek Si Manik”, agar pengunjung dapat menonton lebih banyak pertunjukkan sehari-hari dari hutan kera itu.

Merawat ratusan ekor kera dari berbagai jenis, kata Detim, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi akhir-akhir ini, tidak ada bantuan apapun dan dari siapapun untuk menyediakan makanan kawanan primata itu. Harapannya, hanya dari pengunjung dan konten Youtube “Anak Parherek Si Manik”.

Di tengah kekurangan itu, Detim tetap tulus memelihara fauna dan flora yang ada di kawasan hutan kera itu.

Kepada masyarakat luas, khususnya pengguna jalan raya menuju Kota Parapat, diimbau untuk tidak memberi makan kera dan siamang, jika melihatnya di sekitaran jalan raya. Aktifitas itu dapat menyebabkan kecelakaan kepada hewan primata itu atau pengguna jalan.

“Kalau bisa jangan laukan itu. Lokasi telah kita siapkan untuk memberi makan hewan primata itu,” kata Detim.

Terakhir, dia berharap kepedulian dari pemerintah dan negara untuk mengembangkan dan melestarikan lokasi yang dia jaga sebagai salah satu ikon wisata di Danau Toba.

 

Penulis  : Feriandra
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU