Kemenyan dan Ritual Marhotas

BERSPONSOR

NINNA.ID-Bagi masyarakat adat yang bermukim di desa Tornauli, Kecamatan Parmonangan Tapanuli Utara, kemenyan atau haminjon bukan sekadar tumbuhan biasa.

Kemenyan begitu dihormati, selain karena resinnya dijadikan sumber penghidupan, tanaman endemik ini juga dipercaya berkaitan dengan alam kosmik manusia.

Penghormatan terhadap kemenyan terlihat kentara dalam ritual Marhottas.

Ritual Marhottas
Ritual Marhottas ditujukan sebagai syukur (foto: Dedy Hutajulu)

Ritual ini dijalankan sebagai bentuk penghormatan kepada tondi ni haminjon (roh kemenyan) sekaligus menjaga relasi manusia dengan alam.

BERSPONSOR

Ritual ini adalah tradisi masyarakat petani kemenyan yang dilakoni secara turun temurun.

Para petani yang menggantungkan hidupnya dari budidaya haminjon (kemenyan) memperlakukan tanaman ini seperti bagian dari anggota keluarganya.

Masyarakat adat Tornauli mempercayai kalau mereka terikat secara batin dengan pohon kemenyan.

Sebagai tanaman yang amat berpengaruh dan mewarnai kehidupan masyarakat adat Tornauli, hutan kemenyan dipandang sebagai aset berharga secara ekonomi dan spiritual.

BERSPONSOR

Ritual Marhottas ditujukan sebagai syukur kepada Debata Mulajadi Nabolon (Sang Khalik) dan penghormatan terhadap pohon kemenyan.

Masyarakat ada mempercayai, tondi ni haminjon telah mendatangkan kebaikan sehingga hasil budidaya kemenyan melimpah yang menjadi sumber penghidupan bagi mereka.

Prosesi Adat
Sebelum menjalankan ritual ini, masyarakat terlebih dahulu menyediakan sejumlah panganan khusus.

Diantaranya, itak gurgur (tepung beras) dan jagal (daging) ternak babi. Jagal menjadi menu utama dalam penyelenggaraan ritual ini.

- Advertisement -
Sesajian
Usai martonggo (doa) di halaman kampung, warga kemudian bergerak sembari memboyong itak gurgur, jagal dan sesajian lainnya ke tengah hutan haminjon. (foto: Dedy Hutajulu)

Seluruh anggota masyarakat sekampung itu, termasuk tua dan muda, berhimpun di halaman kampung.

Sesajian ditaruh di tengah halaman. Semua orang yang hadir kemudian menonggokan (mendoakan) sesajian tersebut. Doa dipimpin oleh Ketua Komunitas Adat Tornauli, Manaek Manalu.

Mereka memanjatkan doa kepada Debata Mulajadi Nabolon, dengan perantaraan leluhur mereka yang selama ini diyakini, selalu menemani perjalanan hidup mereka hari demi hari.

Meski zaman semakin maju, masyarakat adat di desa Tornauli tetap memakai sebutan Debata Mulajadi Nabolon untuk memaknai sang Penguasa Semesta.

Usai martonggo (doa) di halaman kampung, warga kemudian bergerak sembari memboyong itak gurgur, jagal dan sesajian lainnya ke tengah hutan haminjon.

Semua sesajian itu kemudian ditaruh di bawah salah-satu pohon haminjon. Seluruh masyarakat berkumpul untuk sama-sama menyantap sajian itu.

TERKAIT  Aek Sipangolu, Peninggalan Sisingamangaraja yang "Hidup"

Setelah selesai menikmati sesajian itu, para petani kemudian menyadap pohon kemenyan secara bersama-bersama. Mereka menggoreskan pisau sadap ke batang kemenyan.

Saat proses sadap berlangsung, masyarakat melantunkan senandung ‚ÄúParung Simardagul-dagul”.

Bunyinya begini: Parung Simardagul-dagul, sahali mamarung gok appang, gok bahul-bahul.

Senandung ini seperti doa meminta kemenyan berkenan mencurahkan getahnya secara melimpah.

Saat menyadap getah kemenyan, ada pantangan yang harus diindahkan. Pantangan itu tidak boleh dilanggar agar getah kemenyan melimpah. Pantangan itu adalah berlaku sopan, tidak boleh cakap kotor, dan menjaga hati tetap bersih.

Menurut kepercayaan masyarakat adat Tornauli, kemenyan merupakan perwujudan dari seorang putri raja.

Dengan kata lain Marhottas adalah ritual untuk menjaga relasi intersubjektif-interpersonal antara manusia dengan roh kemenyan.

Kemenyan diyakini memiliki roh yang telah menunjukkan tanggung jawabnya kepada manusia (yakni dengan mencurahkan getahnya).

Karena itu, manusia harus menjalankan tanggung jawabnya pula yakni dengan menjaga alam tetap lestari dan merawat hutan kemenyan.

Keberadaan pohon kemenyan sendiri melindungi 10 pohon lain di sekitarnya. Pohon kemenyan berfungsi untuk melindungi pohon yang lainnya dari cahaya berlebihan sehingga ekosistem di dalam hutan lebih terjaga dan seimbang.

Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Tano Batak Roganda Simanjuntak mengapresiasi masyarakat Tornauli yang dengan teguh melanjutkan ritual Marhottas.

Tradisi ini termasuk bagian dari kearifan lokal yang dinilai efektif untuk melestarikan alam serta keanekaragaman hayati kita, salah satunya memastikan tumbuhan endemik Tapanuli tetap awet dan lestari.

Melalui tradisi ini tampak nyata, bahwa hutan kemenyan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat adat.

Ketua Komunitas Adat Tornauli Manaek Manalu meminta Menteri Lingkungan Hidup dan Hutan agar senantiasa mendukung masyarakat adat dalam pelestarian hutan kemenyan di Tapanuli Utara.

Kelestarian huta, kata dia, adalah nyawa bagi masyarakat adat setempat. “Merawat hutan haminjon berarti merawat bumi kita,” pungkasnya.

Penulis: Dedy Hutajulu
Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU