NINNA.ID-Untuk memahami karakter orang Batak, jangan hanya melihat tindakan—dengarkan cara mereka berbicara. Dalam budaya Batak, kata-kata bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan nilai, sikap hidup, dan cara berpikir.
Di sinilah peran umpama dan umpasa menjadi sangat penting. Dua bentuk sastra lisan yang menyimpan kebijaksanaan leluhur dalam kalimat-kalimat singkat namun tajam.
Secara sederhana, umpama adalah peribahasa—langsung, padat, dan mengena. Ia dipakai untuk menasihati, menyindir, atau mengingatkan tanpa harus panjang lebar.
Sementara umpasa adalah pantun berima yang biasanya diucapkan dalam acara adat seperti pernikahan atau kematian.
Umpasa mengandung doa, harapan, dan restu yang disampaikan dengan indah dan penuh rasa. Jika umpasa adalah lagu yang menyentuh hati, maka umpama adalah pisau halus yang mengasah pikiran.
Salah satu ciri khas orang Batak adalah kemampuan menyampaikan makna besar dengan kata yang singkat. Mereka tidak selalu menjelaskan panjang lebar. Cukup satu kalimat, tetapi mengandung makna yang dalam.
Misalnya: “Unang marhata na so siulapan”—jangan berkata yang tak bisa ditepati. Atau “Dos ni roha sibaen na saut”—kesepakatan hati yang membuat sesuatu berhasil.
Dari sini terlihat bahwa kejujuran, komitmen, dan kesatuan hati adalah nilai utama dalam kehidupan.
Di sisi lain, umpasa menunjukkan sisi emosional dan spiritual orang Batak. Dalam pernikahan, doa disampaikan dengan metafora yang indah. “Sahat-sahat ni solusoluna, sahat ma tu tapian na uli…”
Sebuah harapan agar perjalanan hidup pasangan sampai ke tujuan yang baik.
Atau kalimat sederhana namun kuat: “Rap tu dolok rap tu toruan”—bersama dalam suka dan duka. Ini bukan sekadar kata-kata manis, melainkan prinsip hidup tentang kebersamaan.
Menariknya, tidak semua umpama dan umpasa terdengar lembut. Beberapa justru tajam dan penuh kritik sosial.
“Hata ni na mora i do didok halak, nang na so tigor pe jadi tigor.”
Artinya: kata orang kaya sering dianggap benar, bahkan saat salah. Ini menunjukkan bahwa orang Batak terbiasa berpikir kritis dan berani menyampaikan realita, meski pahit.
Dalam situasi duka pun, kata-kata tetap menjadi penguat.
“Unang sai tangis…”—jangan terus menangis.
Bukan melarang berduka, tetapi mengajak untuk bangkit. Bahkan kematian bisa dipandang sebagai pencapaian, seperti dalam konsep saur matua—hidup yang lengkap hingga melihat anak dan cucu.

Dari semua ini, kita bisa melihat bahwa karakter orang Batak dibentuk oleh cara mereka bertutur tegas, jujur, penuh makna, namun tetap berbalut rasa. Mereka menghargai kata-kata, karena setiap ucapan membawa tanggung jawab.
Di era modern, ketika komunikasi sering menjadi cepat dan dangkal, umpama dan umpasa mengingatkan kita bahwa bahasa seharusnya tidak kehilangan makna. Ia bisa menjadi nasihat tanpa menggurui, kritik tanpa merendahkan, dan doa tanpa bertele-tele.
Pada akhirnya, umpama dan umpasa bukan sekadar warisan budaya. Ia adalah cara hidup. Cara berpikir. Cara menghormati sesama. Dan selama masih diucapkan, nilai-nilai itu akan terus hidup—dari generasi ke generasi.
Penulis/Editor: Damayanti Sinaga



