spot_img

Karo Cinta Bahasa Karo, Toba Tidak!

NINNA.ID – Hari ini tanggal 21 Februari. Periksalah di googlemu, hari ini seluruh dunia merayakan peringatan bahasa ibu. Peringatan mendunia seperti itu menjadi penanda bahwa bahasa ibu sangat penting. Tak ada perayaan bahasa yang sifatnya mendunia, selain bahasa ibu. Apa itu bahasa ibu? Bahasa ibu adalah bahasa pertama kita.

Itu berarti bahasa ibu tak sama dengan bahasa daerah. Bisa jadi di pusat kota, bahasa ibu mereka adalah bahasa Indonesia, bahkan bahasa Inggris. Karena itu, seringkali kita lihat, anak muda generasi Batak tak lagi tahu berkata-kata dengan bahasa Batak. Mereka tahunya cuma “horas” atau “mauliate”. Selain itu, tidak tahu lagi.

Lalu, bagaimana di daerah, seperti di kawasan Danau Toba? Jawabannya: masih banyak orang berbahasa Batak. Masih banyak. Apalagi di Karo. Namun, ternyata juga, sudah banyak pula generasi muda yang berbahasa Indonesia. Saya termasuk terlambat mengetahui ini. Pada tahun 2015-an, saya baru wisuda. Saya pulang kampung.

Biasa, saya pulang kampung naik kereta. Maksudnya, sepeda motor. Lebih asyik naik sepeda motor daripada angkutan umum. Naik sepeda motor bisa berhenti di mana-mana. Saya berhenti di banyak titik. Mulai di panatapan Sibolangit, Berastagi, Kabanjahe. Saya duduk di kedai. Mereka menyapa saya dengan bahasa Indonesia.

Namun, dengan teman mereka, mereka asyik dengan bahasa Karo. Saya membuat kesimpulan: orang Karo masih cinta dengan bahasanya.

Lalu, saya tiba di Leter S menjelang Sidikalang. Berhenti pula menjelang di Tele. Saya melihat kanak-kanak main-main di parit. Mereka cenderung berbahasa Indonesia. Kusapa mereka dengan bahasa Batak, dijawab dengan bahasa Indonesia sambil memasukkan kata “tulang” di akhir.

Saat itu saya berkesimpulan, daerah menjelang Tele itu sudah mulai berbahasa Indonesia bahkan kepada temannya orang Batak. Saya membandingkannya dengan di kampung. Semua kanak-kanak berbahasa Batak. Ada memang beberapa orang tua mulai menyapa anaknya dengan bahasa Indonesia. Tetapi, saya salah. Bahwa ternyata tidak hanya daerah menjelang Tele itu yang sudah berbahasa Indonesia.

Saya benar-benar telat mengetahuinya. Ini bermula saat saya menjadi guru di SMA Negeri 1 Doloksanggul. Boleh dibilang, 99,99 persen siswa kami orang Batak. Artinya, kami homogen. Tetapi, dalam proses keseharian, umumnya semua berbahasa Indonesia. SMP juga begitu. Pun SD. Bahkan PAUD. Malah di kehidupan sesehari, mereka berbahasa Indonesia.

TERKAIT  Perempuan Sebagai “Boru Ni Raja” dalam Budaya Batak Toba

Karena itu, setiap belajar, meski jurusan saya bahasa Indonesia, sangat sering saya berbahasa Batak. Apa tanggapan mereka? Umumnya mengerti. Meski beberapa bahasa saya mereka tak tahu artinya. Saya mengambil pelajaran bahwa semua kosakata bahasa Batak saya tak mereka mengerti lagi. Setingkat ke atas, saya juga mengambil pelajaran baru.

Pelajaran baru itu adalah bahwa kadang saya juga tak mengerti beberapa kosakata orang tua. Artinya, ada gap saya dengan orang tua. Ibaratnya, jika nilai kosakata orang tua 9, maka saya 7. Nah, jika kosakata saya 7, mungkin siswa saat ini 5. Jangan-jangan 4. Nah, mudah dibayangkan. Jika mereka sudah orang tua, mungkin kosakata mereka tak akan dimengerti sepenuhnya oleh anaknya.

Mungkin, anaknya nilainya tinggal 3. Setelah itu, tinggal 1. Dan, pada akhirnya, mulai tipis. Maksud saya, ancaman punahnya bahasa Batak itu ternyata tak main-main. Saat ini memang di daerah kita masih banyak berbahasa Batak. Tetapi, kosakatanya mulai terbatas. Lama-kelamaan, mulai menghilang. Andaikan ini di tanah perantauan, ini bisa dimaklumi.

Tetapi, kita tinggal di Bona Pasogit. Kita ada di Bona Ni Pinasa. Masakan bahasa Batak justru mulai tenggelam di daerahnya? Okelah di kota Medan kita tak tidak berbahasa daerah karena rasnya beragam. Ada Aceh. Ada Melayu. Ada China. Dan sebagainya. Nah, ini di tanah kita sendiri. Kita semua sesuku, bahkan sepuak. Tetapi, mengapa berbahasa Indonesia?

Hari ini tanggal 21. Diperingati sebagai bahasa Ibu. Peringatan ini diambil sebagai penghargaaan pada Bangladesh yang gigih memperjuangkan bahasa ibunya. Mereka bahkan sampai ditembak dan dibunuh semata demi menghargai bahasa daerahnya. Kini kita, tanpa ancaman dibunuh dan ditembak, tetapi malah tak peduli pada bahasa ibu kita. Aneh bukan?

 

Penulis      : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor         : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU