spot_img

Karena Batak Itu Dalam dan Luas

NINNA.ID – Sanggar kami Sanggar Maduma Minggu kemarin berkunjung ke Sanggar Sion Nauli. Di sana, kami belajar filsafat Batak. Pemilik Sanggar bermarga Silaen. Ia seorang guru matematika. Cukup sangat peduli dengan budaya Batak. Ia boleh dikatakan sudah khatam budaya tersebut, mulai dari sejarah hingga filsafatnya.

Soal belakangan ada tafsir yang berbeda, tentu hal itu adalah sangat wajar. Kami berangkat dari Doloksanggul pada siang hari. Tiba di sana sekitar pukul 14.00 WIB. Kami pulang sudah sekitar pukul 19.00 WIB lewat. Namun, terasa semua pembicaraan dan latihan itu sangat kurang. Malah, Pak Silaen, Tim dari Sanggar Sion Nauli mengatakan bahwa kami belum mendapatkan apa-apa.

Arti belum mendapatkan apa-apa bukan berarti karena kami tak belajar, kami tak latihan, atau kami tak mendengar. Arti tak mendapatkan apa-apa lebih pada bahwa materi yang lain masih sangat banyak. Belajar tortor pakem dan tradisi untuk tahu semua filsafatnya menurutnya dibutuhkan waktu yang sangat intens dan cukup lama. Sayang, kami hanya sekilas. Sekitar 5 jam.

Ada yang berbeda dari cara mengajarnya sampai-sampai anak sanggar kami antusias. Ia memulai dengan bercerita. Membicarakan sejarah Batak secara sekilas mulai dari Siraja Batak lalu pelan-pelan turun pada Dinasti Sisingamangaraja.

Setelah itu, mulai membincangkan filosofi tortor. Setiap gerakan selalu bermakna, demikian ia mengatakan.

Pada proses latihan, anak sanggar terlihat antusias. Kami yang semula berharap pulang pukul 17.00 WIB lewat, malah molor sampai pada pukul 19.00 WIB lewat. Satu pelajaran yang saya dapatkan adalah potensi. Potensi bahwa pada dasarnya generasi muda saat ini bukan tidak peduli pada budaya Batak. Mereka sangat peduli dan sangat, sangat peduli.

Potensi inilah yang mestinya digarap pemerintah atau sekolah. Tujuannya supaya generasi penerus tidak kehilangan arah dan petunjuk, apalagi sejarah. Bahwa saat ini generasi mudah lebih menonton dan menikmati media sosial adalah lebih pada karena mereka tidak punya alternatif untuk mendengarkan berbagai sejarah budaya.

TERKAIT  Ada Parsanggul Na Ganjang di Warna Danau

Ada orang yang mengatakan, budaya tradisi akan mulai hilang. Ini harus menjadi kekhawatiran kita bersama. Para pegiat literasi, budaya, seni, harus terus berjibaku untuk tampil agar tontonan dan sumber informasi generasi mudah tak lagi melulu dari gawai atau televisi. Akar sejarah harus terus didengungkan.

Saya sangat tersanjung pada Pak Silaen. Soal bahwa mungkin tafsir filosofinya mungkin berbeda dan sejarahnya mungkin tak otentik, tapi yang pasti ia sudah memulai dari pengajaran sejarah. Dan, semua anak generasi muda mendengarnya. Menceritakan apa itu Dalihan Na Tolu. Memberitahukan siapa itu Siraja Batak. Dengan begitu, ingatan itu akan kekal.

Dengan begitu pula, kita bisa menggali lebih dalam lagi tentang budaya Batak yang memang sangat luas dan mendalam serta penuh dengan simbol. Mempelajari itu semua bukan berarti anti pada kemajuan atau kreasi. Kreasi tetap dibutuhkan. Tetapi, kreasi itu akan menjadi rapuh jika dasar tradisinya sama sekali sungguh tidak kuat dan kukuh.

Malam sudah menjelang. Saya mengajak anak sanggar untuk pulang. Tetapi, mereka masih mengikuti dengan antusias. Bahasa tubuh mereka seolah mengatakan: tunggu dulu. Tetapi, kami harus pulang. Dan, anak-anak mulai mengingat ingat. Mereka punya tugas baru: mengajarkannya kepada anak sanggar lain. Mengajarkan orang lain adalah cara terbaik untuk belajar.

Saya jadi berpikir, bagaimana membuat generasi muda untuk menggali cerita, berdiskusi, lalu mungkin akan mengangkat salah satu karya seni dari sana. Dipijakkan pada fondasi cerita yang sah dan tradisi yang kuat serta dicampur dengan kreasi tentu akan membuat warna baru. Warna yang tidak tumbuh dari batang yang baru. Tapi, tumbuh dari batang yang lama sebagai cabang yang baru.

 

Penulis   : Ridua Pebriadi Situmorang
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU