spot_img

Kapal Arwah di Tigaras Manarik Perhatian Traveler

SIMALUNGUN – Tragedi yang memilukan itu terjadi di perairan Danau Toba sekitar Tigaras Simalaungun. Kapal kayu bermesin,  Sinar Bangun, tenggelam. Tiga orang meninggal. 161 hilang dan 21 selamat. Untuk mengenang tragedi itu, dibangunlah “Kapal Arwah” di Tigaras.

Selain diziarahi keluarga dan kerabat korban, monumen kapal arwah itu, kini menjadi tempat yang wajib disinggahi traveler yang sampai ke Tigaras kawasan Danau Toba.

Tragedi yang mengguncang dunia itu, membuat Bupati Simalungun, JR Saragih, membuat satu kebijakan membangun monumen dengan replika kapal di atasnya.

Lalu pada tahun 2019, tepatnya Kamis 2 Mei, kapal arwah itu diresmikan menjadi satu kenangan yang memilukan. Dibangun sebagai tempat ziarah para keluarga dan kerabat korban.

Saat ini, monumen setinggi 10 meter itu dapat dilihat dengan dekat, tidak jauh dari dermaga Tigaras Simalungun. Replika kapal dari besi putih di atasnya memiliki tinggi 4 meter dan lebar 4 meter dengan panjang 8,5 meter.

Bentuknya dirancang seperti kerangka, agar angin kencang yang biasa bertiup di sana, dapat melalui replika kapal itu tanpa menggoyahkan letaknya.

Saat ini monumen kapal arwah itu, setiap hari kerap dikunjungi warga sekitar maupun disinggahi traveler lokal maupun manca negara yang hendak menyeberang ke Pulau Samosir.

Badan monumen dari besi putih dengan kapal arwah di atasnya, menghadap Danau Toba. Di dalam lorong monumen tercatat nama-nama korban yang hilang, hingga kronologi tragedi memilukan itu.

TERKAIT  Taman DI Panjaitan, Tempat Santai di Tengah Kota Balige

Dalam lorong itu tercatat, sebelum tenggelam Kapal Sinar Bangun berangkat dari Dermaga Simanindo pada pukul 16.00 WIB menuju Tigaras, Simalungun.

Pada pukul 16.45 WIB kapal mengalami putus dihantam ombak, akibat cuaca buruk berangin kencang. Setelah terombang ambing di tengah danau, pada pukul 17.30 WIB kapal dinyatakan terbalik dan tenggelam.

Dalam lorong itu juga, tercatat jumlah korban selamat sebanyak 21 orang, jumlah korban meninggal 3 orang dan jumlah korban hilang 161 orang.

Daftar nama korban hilang sebanyak 161 orang itu juga tercatat dengan rapi dan disusun berdasarkan abjad. Terlihat di lorong monumen ada sirih dan jeruk purut, mungkin pemberian keluarga atau kerabat korban saat berziarah.

Salah seorang pengunjung, Antoni Silalahi yang ditemui ninnA di tempat itu baru-baru ini mengatakan, sering singgah ke monumen itu saat hendak berkunjung ke Pulau Samosir. Monumen itu pantas dikunjungi siapa saja yang sedang melintas di sana sebagai suatu pesan dan pengingat.

“Banyak tragedi besar di Danau Toba dan setahu saya ini tragedi yang paling menyayat hati, sehingga monumen ini layak dikunjungi,” katanya.

Bagi bro dan sista ninnA yang hendak menyebrang ke Samosir, jika menunggu antrian kapal feri masih lama, ada baiknya mengunjungi monumen itu. Panjatakan doa mu untuk jiwa-jiwa yang tidak lagi bersama kita di dunia fana ini.

 

Penulis : Jogi Sianturi
Editor    : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU