Peran Serta Media Massa Saat Pemilihan Umum

Jurnalis Sebaiknya Tidak Terlibat Parpol dan Menggunakan Jurnalisme Data Dalam Pemberitaan

BERSPONSOR

NINNA.ID – Pasal 1 Kode Etik Jurnalistik dari laman Dewan Pers menyebutkan, setiap wartawan berkeajiban untuk selalu bersikap independen dengan memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani dan menghasilkan berita yang akurat yaitu yang dapat dipercaya benar sesuai keadaan obyektif ketika peristiwa terjadi.

Sulit bagi jurnalis untuk berdiri sebagai wasit dalam menyajikan berita terkait Pemilihan Umum (2024), jika oknum jurnalis itu terlibat menjadi anggota atau pengurus salah satu partai politik.

Soal keterlibatan jurnalis dalam partai politik, Dewan Pers memang tidak ada mengeluarkan semacam surat edaran khusus, agar seluruh wartawan khususnya yang tergabung dalam wadah organisai wartawan sebagai konstituen Dewan Pers tidak terlibat partai politik.

Aliansi Juralis Independent (AJI) Indonesia, bersikap tegas soal ini. Pengurus dan anggota AJI tidak diperbolehkan masuk dalam partai politik. Tujuannya jelas, agar sebagai seorang jurnalis dalam melaksanakan tugasnya bisa independen.

BERSPONSOR

Independensi seorang jurnalis yang masuk sebagai anggota partai politik, dianggap oleh AJI tidak akan bisa menyajkan berita berimbang, terlebih jika berita itu menyangkut nama partainya bergabung atau berita itu memuat tentang kompetitor partainya.

Sayangnya, tidak sedikit perusahaan media juga dikuasai atau dimiliki orang-orang yang aktif atau bahkan pengurus utama salah satu partai politik.

Jika perusahaan media dan jurnalis itu memang jauh dari kepentingan politik, maka posisinya sebagai wasit atau pengawas selama perhelatan pemilihan umum sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas.

Kemampuan media massa dalam menyebar luaskan informasi inilah, yang membuat media bisa memengaruhi publik, khususnya dalam menilai kegiatan-kegiatan partai politik dan juga sosok tokoh-tokoh yang diusung partai politik dalam pemilihan kepala daerah hingga presiden.

BERSPONSOR

Peran Serta Media

1. Tahapan Pemilu Itu “Daging Informasi”
Selama tahapan Pemilu, peran media massa melalui pemberitaan di televisi, media cetak, radio dan media siber selalu dinantikan masyarakat. Melalui pemberitaan ini, masyarakat dapat mengikuti progress perkembangan setiap agenda pemilihan umum.

Bagi media atau seorang jurnalis, semua tahapan pemilihan umum juga sangat penting. Dari kacamata media, semua tahapan pemilihan umum adalah informasi penting atau “daging informasi” yang harus dioleh newsroom/redaksi dan sesegera mungkin disampaikan kepada publik.

Lalu bagaimana daging informasi itu sampai ke publik, keterbukaan penyelenggara seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU) kepada jurnalis, pertama-tama harus dijamin.

- Advertisement -

KPU sebagai penyelenggara teknis, memang punya tugas, termasuk agar segala tahapan pemilu itu sampai kepada masyarakat. Namun, ada hal yang membuat keterbatasan kerja KPU agar tugas-tugasnya sampai dan diketahui masyarakat luas.

2. Media Sebagai Penangkal Hoaks
Di era teknolog informasi yang semakin murah dan mudah diakses saat ini, berbagai informasi berseliweran di masing-masing gadet (Handphone/tablet). Situasi ini sering dimanfaatkan sejumlah pihak untuk menyebarkan informasi, terlebih selama masa pemilihan umum, khususnya melalui berbagai platform media sosial.

Tidak selamanya memang konten di media sosial itu menyesatkan atau hoaks. Hanya saja, kecenderungan sebagai alat penyebar hoaks, media sosial terbukti ampuh. Untuk menangkal ini, Komisi Pemilihan Umum bersama DPR RI pernah menetapkan (tak tahu sekarang), masing-masing partai politik peserta pemilu hanya boleh memiliki sejumlah (10) akun media sosial yang sah, didaftarkan ke KPU, sebagai alat menyebarluaskan informasi kegiatan-kegiatan parpol dimaksud.

Namun tetap saja, banyak lagi media sosial tak bertuan, yang memang sulit diungkap. Ditutup satu tumbuh seribu.

Saat tingginya pengguna media sosial di Indonesai dimanfaatkan sebagai ceruk baru dalam menyampaikan informasi apapun, termasuk dalam penyampaian kegiatan masing-masing partai politik.

Ampuhnya memanfaatkn media sosial dalam menyampaikan pesan-pesan partai politik, sama ampuhnya juga dengan penyampaian informasi hoaks dari orang tak bertanggungjawab.

Data Pertumbuhan Media Sosial

Tahapan Pemilu
Data pertumbuhan media sosial

Berdasarkan laporan We Are Social, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia sebanyak 191 juta orang pada Januari 2022. Jumlah itu telah meningkat 12,35% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebanyak 170 juta orang.

Sementara hasil Sensus Penduduk (SP2020) pada September 2020 mencatat jumlah penduduk sebesar 270,20 juta jiwa. Lebih 50% penduduk Indonesia adalah pengguna media sosial yang aktif.

Menurut Dewan Pers ciri-ciri hoaks itu antara lain: dapat mengakibatkan kecemasan, kebencian, dan permusuhan, sumber berita tidak jelas, bermuatan fanatisme atas nama ideologi, judul dan pengantarnya provokatif, memberikan penghukuman serta menyembunyikan fakta dan data.

Hoaks juga beragam jenis: hoax kirim pesan berantai, hoax black campaign, hoax hadiah gratis, hoax kisah menyedihkan, dan hoax pencemaran nama.

Terhadap Hoax yang beredar di masyarakat apalagi terkait Pemilu KPU dapat menyampaikan atau mensosialisasikan kepada masyarakat untuk banyak membaca, melihat, dan mendengar.

Dengan membaca, mendengar atau melihat informasi dari media massa, masyarakat dapat membuat perbandingannya.

Di sinilah peran media massa melalui jurnalisnya, harus bisa menjadi penyebar informasi yang akurat sesuai dengan data dengan mengedepankan jurnalisme data.

TERKAIT  Soliditas Batak Harus Begini: Mangkuling Mudar i

Berita yang disajikan dengan data dan tidak berpihak kepada salah satu kontestan pemilu atau bahkan tidak berpihak kepada penyelenggara pemilu, masyarakat mendapatkan informasi yang jelas.

Adanya kerjasama awal antara KPU dan media massa, niscaya dapat menghasilkan pemberitaan di berbagai media massa yang berimbang yang dapat dijadaikan pembanding untuk menangkal berita hoaks yang jumlahnya bisa jadi lebih banyak dari informasi dari media massa itu sendiri.

Di sinilah peran penting media massa, sebagi penyambung informasi dari KPU ke masyarakat luas. Untuk itu, agar informasi yang disampaikan juga sesuai dengan fakta yang sudah dikerjakan, KPU perlu membuat suatu pembagian tugas di internalnya agar bisa selalu aktif berkomunikasi dengan media, yang terkadang datang menanyakan hal yang sama di waktu yang berbeda beda.

Ada baiknya KPU menyiapkan seorang komisionernya, atau stafnya dapat selalu dihubungi kapan saja oleh jurnalis. Mengingat jurnalis tidak terikat jam kerja (kantor), KPU harus bisa standby sewaktu-waktu, kapan aja media atau jurnalis datang baik secara langsung atau via telepon untuk mendapatkan informasi, yang menurut kacamata media, informasi itu sedang ditunggu oleh publik.

3. Menyajikan Jurnalisme Data
Salah satu peran penting media massa selama pemilihan umum adalah penyajian berita dari informasi yang terlah diuji. Pernah ada seorang pejabat eselon II di Pematang Siantar mengatakan begini:

“Kalau kalian konfirmasi samaku. Jangan terus percaya kalian sama informasiku itu. Karena aku juga gak tahu apa kerjaku di situ”

Dari pengakuan oknum pejabat ini, sangat benar tercantum dalam kode etik jurnalistik, bahwa seorang jurnalis harus menguji informasi yang didapatnya.

Untuk menguji informasi inilah, jurnalisme data, berperan penting selama pemilihan umum agar berita yang disajikan kepada masyarakat lebih terverifikasi.

Secara umum jurnalisme data itu adalah cara seorang jurnalis menyajikan berita dengan menggunakan kumpulan data atau informasi yang sangat besar.

Dalam praktiknya saat pemilihan umum, ada banyak data yang bisa dikumpulkan seorang jurnalis. Data dari penyelenggara di Komisi Pemilihan Umum (hingga turunannya PPK dan PPS), data dari Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu hingga turunan Panwascam dan Panwas Kelurahan), partai politik, badan-badan atau pengawas lain yang terdaftar di KPU setempat dapat dijadikan sumber informasi.

Salah satu pemberitaan yang sering ditunggu masyarakat luas saat pemilihan umum adalah masa kampanye. Masyarakat ingin tahu, sebanyak apa massa salah satu partai politik yang sedang berkumpul. Jumlah massa ini, memang layak dijadikan salah satu faktor pendukung suskses tidaknya kegiatan partai politik tersebut.

Melihat kehadiran massa ini menjadi salah satu tolok ukur, tidak jarang partai yang berkepentingan menfaatkan media massa agar pemberitaan sesuai dengan keinginan mereka.

Cara-cara ini masih sering terjadi, dan masih ada pula kawan-kawan jurnalis yang meliput di kegiatan partai tersebut dapat terpengaruh, terlebih jika jurnalis tersebut salah satu anggota apalagi pengurus partai yang sama.

Dampak dari kepentingan ini, masyarakat yang membaca atau melihat dan mendengar informasi itu diberbagai media menjadi bingung. Dalam satu kegiatan kampanye partai politik yang sama di hari dan tempat yang sama, terjadi jumlah massa yang hadir berbeda jauh.

Bagi jurnalis yang bisa dipengaruhi karena berbagai hal, jumlah massa yang hadir di media tempatnya bekerja disebutkan puluhan ribu massa. Sebaliknya, bagi jurnalis yang menyajikan data sesuai fakta, jumlah massa yang hadir ratusan orang.

Terlepas dari kepentingan masing-masing, sebaiknya peran media massa selama masa pemilihan umum khususnya saat pemberitaan kampanye ada baiknya sedapat mungkin menyajikan berita yang mendekati kebenaran tanpa dipengarui pihak-pihak yang berkepentingan.

Media massa juga bertanggungjawab terhadap informasi yang diserap masyarakat, karena media massa masih punya pengaruh untuk menentukan sikap dan pilihan masyarakat.

Salah satu cara menyajikan liputan masa kampanye agar fakta kampanye selama pemilihan umum itu mendekati kebenaran, dapat menggunakan tools mapcheking.com

Tools ini dapat memprediksi kemungkinan jumlah massa yang hadir di suatu tempat (tanah lapang atau ruangan). Walau belum ada pembuktian valid 100%, tapi tools inilah yang digunakan banyak pihak di berbagai balahan dunia, agar debat tentang jumlah massa yang hadir di suatu acara tidak berlanjut.

Di bawah ini salah satu penggunaan mapchecking untuk mendapatkan estimasi jumlah kerumunan yang hadir di setengah tanah lapang H Adam Malik Pematang Siantar.

Dengan menggunakan mapcheking, estimasi jumlah massa di setengah tanah lapang H Adam Malik Pematang Siantar diperkirakan sebanhyak 14.281 orang dengan rasio satu meter per segi diisi oleh dua orang.

 

Mahadi Dedi Sitanggang

 

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU