spot_img

Jualan Online Bersama JNE

NINNA.ID – Sejak corona melanda, banyak pengusaha kelabakan memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan penghasilan. Pemerintah menerapkan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Toko, mal hingga tempat-tempat wisata terpaksa ditutup selama beberapa waktu. Akibatnya, sejumlah pengusaha harus mengurangi tenaga kerja. Ada yang tutup karena tidak mampu bertahan. Tak terkecuali pengusaha di sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Syukurlah ada jalan keluar bagi pelaku UMKM. Sekalipun tidak lagi bisa menjajakan produk secara fisik seperti dahulu kala, mereka bisa jualan secara online. Begitu yang dirasakan oleh sejumlah pelaku UMKM di Kawasan Danau Toba (KDT). Meskipun tidak lagi memperoleh omzet seperti biasa karena tamu sepi, bahkan tidak ada sama sekali,mereka masih bisa menjajakan produknya secara online.

Marandus Sirait, pelaku UMKM di KDT mengaku merasakan manfaat kehadiran JNE sebagai mitra. Mitra untuk mengirimkan produk-produknya ke para pelanggan. Aktivitas jualannya memang tidak seramai dulu, tapi setidaknya ada omzet lewat penjualan secara online.

“Selama situasi ekonomi paling parah akibat Covid, kami mendapatkan bantuan dari JNE. Kami langganan dengan JNE Balige dan Parapat hampir tiap hari. Kami dapat diskon 10 persen,” ungkap Marandus.

Ia menambahkan, Asosiasi UMKM Kaldera Toba yang ia ketuai, saat itu membuat kesepakatan dengan JNE untuk memberikan diskon 10 persen buat para anggota. Sebagai Ketua Asosiasi dan pemilik produk Andaliman merek Taman Eden, ia pun memanfaatkan momentum tersebut.

“Selama diskon 10 persen itu berlaku, banyak produk turunan Andaliman dan Andaliman segar yang kami kirim lewat JNE”, ungkapnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Ricky Siahaan, Pemilik Usaha Partungkoan Kopi Tarutung. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara membuat kesepakatan bersama JNE Toba memberikan diskon 10 persen untuk pengiriman produk oleh UMKM kawasan Kabupaten Toba.

Ia menuturkan, JNE juga banyak membantu dalam hal memamerkan produknya. Para pengunjung di Kantor JNE Toba dapat melihat produk-produk Partungkoan Kopi yang dipamerkan di stelling display. JNE Toba pun kerap mengikutsertakan produknya dalam acara internal dan pameran lainnya. Ia merasa puas atas layanan yang diberikan JNE Toba dalam banyak hal seperti akses informasi dan bantuan lainnya.

“Kami (pelaku UMKM) kan biasa sibuk untuk produksi. Jika ada pelanggan kami yang mau pesan barang, JNE yang datang menjemput barang dan transaksi di rumah produksi kami. Jadi, kami tidak perlu harus antar barang ke kantor JNE. Mereka juga bantu packing produk kami untuk dikirim. Kalau ada pelanggan bertanya, kenapa barang belum sampai ke tangan mereka, kami segera hubungi JNE dan JNE cepat merespon” katanya menjelaskan.

Kehadiran JNE sebagai penengah antara penjual dan pembeli menjadi solusi.

Penjual yakni para pelaku UMKM tetap bisa stay at home selama pandemi corona. Pembeli pun demikian. JNE yang mengerjakan urusan kedua belah pihak. Barang-barang tetap bisa bergerak. Kedua belah pihak bisa sibuk beraktivitas di rumah selama pandemi.

Meskipun pandemi berdampak buruk terhadap aktivitas ekonomi, ada pelajaran penting yang dapat dipetik oleh para pelaku UMKM. Karena menghadapi kondisi pandemi yang membatasi pergerakan, para pengusaha haruskreatif. Mereka harusmeningkatkan pengetahuan tentang berbagai hal, khususnya tentang teknologi dan pemasaran.

JNE pun hadir membantu para pelaku UMKM meningkatkan keterampilan mereka dalam bidang teknologi dan pemasaran. Ada beberapa seminar diadakan JNE kepada pelaku UMKM, khususnya di Kawasan Danau Toba. Salah satunya adalah Webinar Gratis bersama UMKM Silangit.

TERKAIT  Bawahan Bapak Memperalat Danau Toba, Kok Tega?

Aku yang juga hadir dalam Webinar tersebut, mendengar pengalaman langsung dari para pelaku UMKM. Tema webinar juga menarik. Mewariskan budaya Indonesia agar jadi jagoan di pasar internasional. Saat itu hadir Pemilik Dame Ulos Renny Katrina dan Pemilik Batik Batak Trisnayanti Pardede dan Pemilik Hutantacoffee.

Aku sendiri masih tetap belajar. Pernah terpikir untuk fokus di bidang UMKM. Belum bisa, karena gairah utamaku di bidang pendidikan dan jurnalistik. Tapi, sesekali aku bantu pelaku UMKM untuk mengisi konten marketing mereka. Beberapa kali jual produk mereka lewat JNE. Jadi, aku sendiri merasakan manfaat kehadiran JNE.

Peran JNE Kedepan

Jualan Online bersama JNE 2
Peringkat ketahanan pangan negara di Asia Tenggara.(sumber:ist)

Adanya JNE dan perusahaan kurir sejenis, semakin meningkatkan perputaran barang. Secara tidak langsung mendorong peningkatan literasi teknologi di kalangan masyarakat, khususnya di kalangan para pelaku UMKM. Meningkatkan literasi teknologi karena para pelaku UMKM harus belajar cara memanfaatkan perangkat mereka berupa HP, laptop atau komputer untuk mempromosikan produk mereka di sosial media atau saluran lainnya.

Dalam Survei Global World Digital Competitiveness Index oleh Institute Management (IMD), Indonesia menempati peringkat ke-56 dari 63 negara yang disurvei. Fakta ini jadi bukti perlunya pengetahuan teknologi ditingkatkan, khususnya bagi para pelaku UMKM.

Sesuai slogan JNE yaitu Connecting Happiness menjaga bahkan meningkatkan kualitas pelayanan bagi pelanggan agar JNE tetap menjadi market leader dalam bisnis ekspedisi, JNE dapat mengambil peran untuk meningkatkan literasi teknologi. Caranya seperti yang pernah dilakukan JNE sebelumnya, lewat pelatihan-pelatihan teknologi atau pemasaran. Itu saran pertama.

Tidak kalah penting lagi, menyinggung soal percepatan arus barang. Mengingat Indonesia begitu luas, terdapat tantangan tersendiri bagi perusahaan jasa kurir dalam pengiriman barang. Begitu juga dengan biaya yang dikenakan oleh JNE ke daerah pelosok seperti ke Indonesia Timur.

Pernah satu kali aku berencana menghadiahkan sebotol Sambal Andaliman kepada seorang teman di Ambon. Ku urungkan karena biaya pengirimnya mahal. Aku maklumi mengapa harganya mahal. Namun, lewat tulisan ini aku berharap JNE dapat memikirkan solusi tentang bagaimana menekan ongkos pengiriman produk ke daerah yang jauh. Itu saran kedua. Semoga pemerintah juga bisa memikirkan bagaimana menekan biaya logistik pengiriman barang.

Saran ketiga. JNE berperan penting dalam meningkatkan ketahanan pangan Indonesia. Indonesia menduduki peringkat ketahanan pangan ke-69, jauh di belakang Singapura dan negara-negara regional Asia Tenggara lainnya pada 2021. Peringkat ini disusun dalam publikasi Global Food Security Index berdasarkan tiga indikator antara lain: daya beli konsumen, ketersediaan makanan, dan kualitas dan keamanan makanan.

Apa faktor utama yang menyebabkan peringkat ketahanan pangan Indonesia begitu rapuh? Hal tersebut lebih dominan disebabkan akses terhadap makanan. Disinggung dalam publikasi tersebut, akses yang buruk dipengaruhi lambatnya perputaran pangan.

Akses ke pangan dipengaruhi oleh berbagai faktor fisik, sosial dan kebijakan terkait. Faktor-faktor seperti harga, kedekatan rumah tangga dengan pemasok, dan infrastruktur, memengaruhi akses masyarakat terhadap pangan.

Sesuai slogannya, Connecting Happiness, JNE dapat memainkan peran dalam memperbaiki ketahanan pangan Indonesia. Caranya, menekan biaya pengiriman dan mempercepat pengiriman barang. Tugas untuk memastikan seluruh rakyat Indonesia dapat memenuhi kebutuhan mereka memang merupakan kewajiban masing-masing individu. Tapi, adanya JNE sebagai mitra penghubung, semoga memberikan dampak terhadap peringkat ketahanan pangan Indonesia. Semoga!

 

Penulis     : Damayanti

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU